Warga Noelbaki-Kupang Batal Terbang Bersama Sriwijaya Air, Orangtua Bilang Puji Tuhan

Advertisements

“Puji Tuhan. Saya sempat shock. Tapi tadi pagi dia telepon sudah sampai Pontianak dengan kapal laut,” kisah Ny. Maria Magdalena Lada, didampingi suaminya Baltazar Boik Fanu, saat ditemui di kediamannya di Noelbaki, Minggu (10/1/2021) sore. Pasutri ini adalah orangtua kandung dari Paulus Yulius Kollo.

Ny. Maria Magdalena Lada an suaminya Baltazar Boik Fanu, orangtua kandung Paulus Yulius Kollo, warga Noelbaki, Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

KUPANG, HALAMANSEMBILAN.COM – Nasib baik dan mujur sedang memihak Paulus Yulius Kollo, warga RT 056 RW 020, Desa Noelbaki, Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia batal terbang bersama pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dari Jakarta – Pontianak. Pesawat itu jatuh di Perairan Kepulauan Seribu, 4 menit setelah lepas landas, Sabtu (9/1/2021) siang.

“Puji Tuhan. Saya sempat shock. Tapi tadi pagi dia telepon sudah sampai Pontianak dengan kapal laut,” kisah Ny. Maria Magdalena Lada, didampingi suaminya Baltazar Boik Fanu, saat ditemui di kediamannya di Noelbaki, Minggu (10/1/2021) sore. Pasutri ini adalah orangtua kandung dari Paulus Yulius Kollo.

Ny. Maria mengatakan Paulus Yulius Kollo, adalah anak kedua dari enam bersaudara. “Sejak kecil sering sakit-sakitan. Tapi dia cukup cerdas. Di rumah sering dipanggil dengan sebutan Usu,” kisah Ny. Maria.

Sang ayah, Baltazar berceritra, Sabtu malam, ada keluarganya membaca berita online dan menonton televisi, muncul namanya dalam daftar manifes penumpang Sriwijaya Air.

“Kami sudah tidur. Tiba-tiba keluarga datang ketuk pintu dan beritahu kalau anak saya sudah mati karena jatuh bersama pesawat Sriwijaya Air di laut. Istri saya langsung menangis histeris. Tapi saya tidak percaya. Sebab Jumat malam itu, dia masih video call sama saya dan mamanya, bilang dia ke Pontianak naik kapal laut. Dan saya lihat memang dia di atas kapal laut,” kisah Baltazar.

Malam itu Baltazar mencoba kontak lagi ke ponsel anaknya, namun tidak tersambung. “Mungkin karena jaringannya buruk atau di luar jangkauan. Soalnya di tengah laut,” kata Baltazar menenangkan istrinya yang terus menangis.

Tapi minggu pagi, Paulus Yulius Kollo, menelpon langsung ke ponselnya dan memberitahukan kalau ia dan seorang temannya sudah tiba di Pontianak dalam keadaan selamat dan sehat-sehat saja.

“Saya langsung bilang, Terima kasih Tuhan Jesus,” kata pria kelahiran Kefamenanu-TTU ini dengan wajah penuh syukur.

Paulus Yulius Kollo, lanjut Baltazar, bekerja sebagai instalator listrik, sejak tamat SMK Reformasi Tarus. Kemudian bergabung dengan sebuah perusahaan di Sulawesi Utara. Perusahaannya itu kini bekerjasama dengan PT. Telkomsel untuk mendirikan tower di berbagai tempat di Indonesia.

“Meski agak bandel, dia anak kebanggaan kami orang tua, kakak dan adik-adiknya. Dia tulang punggung keluarga,” tambah Ny. Maria penuh rasa syukur.

Paulus Yulius Kollo yang dihubungi terpisah via ponsel, membenarkan namanya tercantum dalam daftar manifes penumpang Sriwijaya Air yang jatuh di perairan sekitar Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1/2021) siang.

“Benar itu nama saya. Juga ada nama rekan saya. Kami berdua batal terbang karena menolak ikut test swab di bandara yang harganya sangat mahal. Harga swab test di bandara lebih mahal dari harga tiket dari Jakarta ke Pontianak. Apalagi kami sudah tertahan beberapa hari di Jakarta setelah transit dari Makassar tujuan Pontianak,” jelasnya.

Ia dan temannya memutuskan membeli tiket kapal laut tujuan Pontianak.

“Kami baru tahu jika pesawat yang hendak kami tumpangi jatuh di laut. Saya sudah telepon ke rumah di Noelbaki, mengabarkan bahwa kami sehat dan selamat. Dan sudah tiba di Pontianak,” katanya penuh syukur. (k-1)

Editor: Julianus Akoit

Advertisements

Advertisements

Advertisements