TONTON VIDEO! Supplier Droping Batako Kualitas Buruk Untuk Proyek Bedah Rumah

Advertisements

Warga Tuntut Ganti Batako Kualitas Buruk dengan Bata Merah

“Batako ini kualitasnya buruk. Dipegang saja sudah hancur. Kami takut kalau dipaksakan untuk membangun rumah, bisa roboh nanti,” jelas Michael didukung beberapa warga setempat.

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Supplier mendroping batako kualitas buruk untuk proyek Bedah Rumah Rakyat Tidak Layak Huni (Berarti) di desa Bannae, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Batako retak-retak dan mudah hancur ketika dipegang atau dipindahkan dari mobil pendroping ke lokasi rumah warga calon penerima bantuan bedah rumah.

“Batako ini kualitasnya buruk. Dipegang saja sudah hancur. Kami takut kalau dipaksakan untuk membangun rumah, bisa roboh nanti,” jelas Michael didukung beberapa warga setempat.

Informasi yang dihimpun dari warga menyebutkan, supplier yang mendroping bahan bangunan batako itu ditunjuk langsung ‘orang dalam’ pada Kantor Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (PRKPP) Kabupaten TTU.

Batako kualitas buruk hancur saat dipegang atau disentuh

Michael dan warga calon penerima bantuan bedah rumah meminta agar pemerintah mengganti saja batako dengan batu merah.

“Dan di desa kami ada orang yang memproduksi batako dan batu merah dengan kualitas terbaik dan harga terjangkau. Kenapa tunjuk supplier tidak jelas itu antar batako kualitas buruk ini,” keluh beberapa warga.

Beberapa warga juga mengungkapkan KMPS tidak membagikan dokumen Rancangan Anggaran Biaya (RAB) dan Daftar Rencana Pembelian Bahan Bangunan (DRPB2). Temuan ini juga dijumpai wartawan di beberapa desa sekitar.

Desa Bannae merupakan desa terpilih dalam pelaksanaan Program Berarti Tahun 2020 dengan jumlah rumah bantuan yang diterima sebanyak 114 unit bangun baru, dengan besaran dana Rp25 juta per KK. Dana itu untuk digunakan membangun rumah berukuran 6×8 meter.

Hingga berita ini diturunkan, PPK desa Bannae, Ambrosius Pala belum berhasil dikonfirmasi.

Diberitakan sebelumnya, Program Berarti Tahap I, hanya berjalan di 25 desa dengan anggaran sebesar Rp29 miliar. Jumlah awal desa penerima bantuan di kabupaten TTU sebanyak 65 desa, namun di tengah perjalanan 40 desa dipending pelaksanaannya.

Hal ini terjadi karena dari anggaran sebesar Rp84 miliar lebih yang dianggarkan, sekitar Rp 55 miliar dialihkan sepihak pemerintah dengan dalih untuk mendukung penanggulangan Covid-19. (jude)

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements

Advertisements