Tenun Ikat Timor Leste Dijual di Arena Festival Wonderful Indonesia

Advertisements

“Saya senang berada di sini. Selain berjualan tenun ikat dari Timor Leste, saya juga promosikan kreatifitas masyarakat Oecusse. Kegiatan ini baik untuk kami, karena makin mempererat hubungan kemitraan warga dua negara”, tutur Francisco Cato, yang juga menjabat sebagai Ketua Pemuda Districk Oecusse Timor Leste.

Fransisco Cato sedang melayani calon pembeli tenun ikat buatan tangan pengrajin asal Oecusse – Timor Leste

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Festival Wonderful Indonesia [FWI] Crossborder Indonesia – Timor Leste di PLBN Wini, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Sabtu (7/9/2019) diramaikan pula oleh kelompok usaha tenun ikat Grufu Suru Tais Naimeco dari negara tetangga Timor Leste (Distrik Oecusse).

Ada juga kelompok tenun ikat dari Indonesia, yaitu UKM Feotnai Matani.

Fransisco Cato dari Grufu Suru Tais Districk Oecusse Timor Leste, yang terlibat dalam bazar hari pertama di Wini mengaku membawa tais / tenun ikat bukan sekedar untuk berjualan tetapi juga ingin mempromosikan kreatifitas masyarakat di Oecusse.

“Saya senang berada di sini. Selain berjualan saya juga promosikan kreatifitas masyarakat Oecusse. Kegiatan ini baik untuk kami, karena makin mempererat hubungan kemitraan warga dua negara”, tutur Francisco Cato, yang juga menjabat sebagai Ketua Pemuda Districk Oecusse Timor Leste.

BACA JUGAFWI di PLBN Motamasin Implementasi dari Program Nawacita Presiden Jokowi

Fransisco Cato dan putranya masuk ke Indonesia bersama staf Kantor Penghubung KBRI Dili yang ada di Districk Oecusse Timor Leste, membawa dagangan tenunan Timor Leste. Ada selendang, tais (selimut) dan topi bertuliskan nama Timor Leste dipamerkan di booth (tenda) warna merah didampingi putranya.

Inilah salah satu selendang tenun ikat khas Oecusse – Timor Leste karya tangan pengrajin Kelompok Grufu Suru Tais Naimeco

Sementara itu di booth UKM Feotnai Matani asal Kefamenanu juga ramai dipadati pengunjung warga dua negara. Booth UKM Feotnai Matani memamerkan hasil kerajinan tangan yang terbuat dari perca kain tenunan. Acesoris berupa kalung, anting, cincin dan gelang dengan harga yang bervariasi diborong para pengunjung dua negara. Tas pesta, tas kantoran, dompet dari tenunan yang dipajangpun jadi rebutan pengunjung.

Ny. Santi Silab, pedagang tenunan dari UKM Feotnai Matani mengaku dagangannya banyak dibeli pengunjung.

“Kami di sini memyediakan tenunan berbagai motif. Ada juga acesories yang kami buat sendiri dari perca kain tenun seperti kalung, anting, cincin dan gelang. Semua harga bervariasi. Kalung berkisar 25 ribu sampai 40 ribu rupiah. Anting 10 ribu sampai 35 ribu rupiah, cincin 20 ribu dan gelang 15 ribu rupiah. Harga ini dapat dijangkau masyarakat luas sehingga booth ini selalu ramai. Sementara tenunan setelan harga berkisar dari 300 ribu rupiah hingga 2 jutaan rupiah’, jelas Santi. (jude)

Editor: Julianus Akoit

Advertisements

Advertisements

Advertisements