OPINI: Tendensi Penggunaan Istilah-Istilah Asing dalam Wabah Covid-19 dan Corak Perkembangan Bahasa Indonesia

Advertisements

*Oleh: Kristoanus Pratama Putra Halley

Bahasa menjadi salah satu aspek vital dalam kehidupan manusia. Dengan dan melalui bahasa berbagai substansi dari pruduk kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia dapat terlaksanakan. Sebagaimana KBBI V menjelaskan peran bahasa sebagai sistem atau lambang bunyi yang dipakai untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Salah satu produk besar bahasa adalah komunikasi. Berkaitan dengan hakikat bahasa manusia, Goris Keraf mendefenisikan bahasa sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat berupa sumber bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (John Orong, 2017: 2). Komunikasi menjadi wujud yang mencerminkan keberadaan manusia dengan bahasa sebagai medium yang dipakai. Pada dasarnya aspek utama dari keberadaan bahasa ialah menerjemahkan segala pikiran manusia secara verbal sehingga dapat dimengerti oleh manusia (E. Sumaryono, 2019: 25).

            Jauh dari fungsi lazim bahasa sebagai media komunikasi, keberadaan bahasa bagi bangsa Indonesia memiliki arti yang lebih mendalam. Bahasa bagi bangsa Indonesia menjadi wujud pemarkah jati diri bangsa yang menyatukan sagala perbedaan dalam satu integritas kebangsaan (Peter Tan, 2012: 90). Status bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa dalam perkembangannya tidak terlepas dari pengaruh kehidupan masyarakat Indonesia sendiri. Hal ini berkaitan dengan praktek penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam praksis kehidupan sehari-hari oleh seganap masyarakat Indonesia. Di era modern ini nampak bahwa praktek berbahasa Indonesia mengalami kemerosotan yang cukup memprihatinkan. Di mana penggunaan bahasa asing dalam hal ini tendensi internasionalitas sebagai tuntutan kemajuan zaman dan pengaruh perkembangan bahasa gaul sebagai bahasa modern yang semakin masif di kalangan remaja dan kalangan umum, memberi warna tersendiri terhadap kiblat perkembangan bahasa Indonesia.

Berkaitan dengan hal ini, wabah Covid-19 yang melanda dunia secara khusus Indonesia memberi dampak tersendiri terhadap berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satu dampak yang hendak diangkat dalam tulisan ini ialah pengaruh wabah Covid-19 dalam kaitannnya dengan perspektif linguistik. Aksentuasi yang hendak dikaji sebagai pion penting pada bagian ini ialah penggunaan term-term asing dalam wabh Covi-19. Nampak bahwa berbagai istilah-istilah baru dan asing yang muncul dalam wabah covid-19 pada umumnya merupakan istilah-istilah yang dipaki dalam dunia kesehatan. Istilah-istilah ini dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memberikan penekanan terhadap informasi yang lebih lanjut dalam bidang kesahatan berkaitan dengan wabah Covid-19. Berbagai istilah berkaitan dengan wabah Covid-19 yang sering kali dipakai seperti suspect, lockdown, Klaster, droplet, self imuting disease, Epidemologi, Darurat nasional, National emergency, Case fatality Rate, Epidemologi, Klorukuin, Imported case, social distancing, epidemi, pandemic, isolasi, Rapid test, Stay at home, Swab test, Contact tracing dan Work from home.  Penggunaan-penggunan istilah ini menjadi pedoman bagi masyarakat untuk mawas diri dan lebih jauh membantu masyarakat dalam memahami berbagai hal berkaitan dengan wabah Covid-19. Tentunya hal ini memberi manfaat tersendiri yang sekiranya dapat membantu masyarakat dalam menghindari pengaruh wabah Covid-19, serta memberi kekayaan terhadap perbendaharaan kosa kata baru jika dikaji dari aspek linguistik. Namun dilain pihak penggunaan istilah-istilah asing ini memberi tendensi yang kurang konstruktif terhadap wajah perkembangan bahasa Indonesia. Muncul kecendrungan mengadopsi atau menyerap secara utuh istilah-istilah asing dan baru sehingga menimbulkan suatu bentuk alenasi bahasa bagi sebagian masyarakat Indonesia sendiri, serta secara perlahan-lahan melunturkan rasa cinta masyarakat Indonesia terhadap bahasa Indonesia yang adalah bahasa persatuan dan simbol identitas kebangsaan.

Wabah Covid-19: Munculnya Terminologi-Terminologi Baru

Wabah Covid-19 merupakan pandemi global yang sedang melanda dunia saat ini. Keberadaan penyakit menular tipe SARS-COV-2 ini memberi efek tersendiri bagi kehidupan manusia. Berbagai aspek dalam kehidupan manusia bersentuhan secara langsung dengan pengaruh berkembangnya wabah Covid-19. Salah satu aspek yang mungkin tanpa disadari memiliki korelasi dengan pengaruh muncul dan berkembangnya wabah Covid-19 ialah aspek bahasa. Pengaruh munculnya wabah covid-19 dalam bidang linguistik dapat dilihat dalam penggunaan berbagai istilah-istilah asing sebagai pedoman yang dipakai untuk menjelaskan  keberadaan penyakit yang mematikan ini.

Istilah-istilah yang dipakai dalam wabah Covid-19 umumnya merupakan istilah-istilah yang dipakai dalam dunia kesehatan. Istilah-istilah ini dirilis secara resmi oleh badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tercatat sebanyak 36 istialah yang dikeluarkan oleh badan kesehatan berkaitan dengan Virus Corona (www.alodokter.com/beragam-istilah-terkait-virus-corona-dan-covid-19.id, diakses pada 10 Mei 2020). Namun terdapat beberapa istilah asing yang dominan dipakai seperti Social distancing, Isolasi, lockdown, Flattening the curve, Pandemi, Epidemi, Herd immunity, Suspeck, Klaster, Imported case, Hand sanitizer, Screening pasien, Ventilator, Contact tracing, Work from home, Stay at home, Klorokuin, National emergency, Self imuting desiase dan Droplet. Beberapa istilah di atas jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti sebagi berikut Social distancing merupakan tindakan yang bertujuan mencegah penderita melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain (arti menurut The Atlantic) atau suatu tindakan menjauhi perkumpulan, menghindari pertemuan massal dan menjaga jarak antar manusia (arti menurut Center for Disiase control), Lockdown merupakan larangan untuk masuk ke suatu tempat karena kondisi darurat atau negara yang menutup perbatasan agar tidak ada orang yang masuk atau keluar dari negaranya, Klaster merupakan sistem yang digunakan untuk membuat kategori dari mana penyebaran virus dimulai, Rapid test merupakan salah satu cara untuk mengetahui secara cepat seseorang terjangkit virus korona atau tidak, Screening pasien merupakan pemisahan sekelompok orang dari kelompok lainnya, Work from home merupakan ajakan untuk bekerja dari rumah, Swab test merupakan tes usap yang dilakukan dengan cara mengusapkan alat ke sekitar tenggorokan untuk diambil sampel lendirnya, Stay at home merupakan ajakan untuk tinggal di rumah, Hand sanitizer merupakan cairan yang berupa alkohol untuk membersihkan tubuh dari kuman, Imported case merupakan istilah yang dipakai untuk orang yang sudah terkena virus saat beradah di luar negeri, Droplet merupakan sumber penyebaran penyakit melalui ludah dan Suspect merupakan istilah yang dipakai untuk orang yang diduga dalam hal ini merujuk pada orang yang sudah menunjukan gejala terjangkit korona dan sudah melakukan kontak dengan pasien positif korona.

Diksi-Diksi Baru dalam Wabah Covid-19: Tendensi Penggunaan Istilah-Istilah Asing

Istilah-istilah asing dan baru yang dipakai dalam wabah Covid-19 jika ditelaah dari aspek bahasa lebih banyak didominasi oleh berbagai istilah dalam bahasa asing dan beberapa istilah dalam bahasa Indonesia. Bertolak dari hal ini nampak bahwa istilah-istilah yang dipakai dalam wabah Covid-19 cenderung menjurus pada rana adopsi istilah dalam bahasa asing. Hal ini dapat dibuktikan lewat banyak istilah yang menggunakan bahasa Ingris jika dibandingkan dengan berbagai istilah bahasa Indonesia. Beberapa media lebih suka memakai istilah-istilah asing untuk memberikan informasi berkaitan dengan wabah Covid-19. Penulisan artikel atau penyajian berita mengenai wabah Covid-19 sepertinya memakai konsep bahwa semua pembaca (mayarakat) paham tentang istilah-istilah yang digunakan tanpa mempertimbangkan lebih jauh apakah pembaca benar-benar mengerti dengan istilah yang digunakan.

Di samping itu pemerintah dalam kebijakanya mengenai wabah Covid-19 mengelurkan berbagi istilah-istilah baru yang di adopsi dari bahasa asing. Sebagai contoh penggunaan istilah seperti Lock down untuk menjelaskan larangan untuk masuk ke suatu tempat karena kondisi darurat atau negara yang menutup perbatasan agar tidak ada orang yang masuk atau keluar dari negaranya (www-suara-com.cdn.amproject.or.arti-lockdown-socialistancing.id, diakses pada 10 Mei 2020), Stay at home yang menjelaskan ajakan untuk tingal di rumah, Work from home yang menjelaskan ajakan untuk bekerja dari rumah serta istialah New normal untuk menjelaskan kembalinya situasi normal baru dalam aktifitas masyarakat yang dalam penerapnnya masih sesuai dengan protokoler yang ditetapakan (www.bbc.com.amproject.org, diakses Pada 10 Mei 2020. Tendensi penggunaan istilah-istilah dalam bahasa asing ini sering mendatangkan kebingungan bagi sebagaian orang yang benar-benar tidak tahu dan tidak paham tentang arti dari istilah-istilah ini dalam bahasa Indonesia.

Sebenarnya lebih muda jika di Indonesia pemakaian istilah-istilah ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia terlebih dahulu sesuai dengan kaidah dan tata bahasa Indonesia atau syarat-syarta penerapan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini bertujuan untuk membantu masyarakat agar lebih muda memahami dan mengerti mengenai wabah Covid-19. Sebab tidak semua masyarakat Indonesia melek dalam pengetahuan akan bahasa asing dan memiliki wawasan yang luas serta informasi yang memadai mengenai istilah-istilah dalam wabah Covid-19 ini. Masih banyak problem yang dapat kita temukan dalam masyrakat mengenai penggunaan istilah-istilah dalam Wabah Covid-19 ini, semisal banyak masyarakat yang tidak tahu mengenai istilah-istilah ini sehingga menimbulkan kesan keliru dan salah tafsir. Berbagai gambaran ini menunjukan bahwa terdapat kecendrunagan untuk mengadopsi dan menyerap bahasa asing secara langsung dalam praksis berbahasa yang mungkin tidak disadari.

Wabah Covid-19 dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia

Keberadaan bahasa Indonesia dalam tubuh bangsa Indonesia ditentukan oleh kehidupan masyarakat Indonesia sendiri. Sebagaimana bahasa lahir dan bertumbuh dari tubuh bangsa sendiri dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Bahasa menjadi budaya yang terus menerus melekat dalam setiap pribadi yang hidup dalam lingkup di mana bahasa itu digunakan. Gagasan ini hendak memperlihatkan corak bahasa sebagai transmisi budaya, suatu warisan yang terus berlangsung dalam kehidupan manusia (Yohanes Orong, 2017: 5). Tentunya keberadaan bahasa yang bersifat regenerasi dan membudaya memiliki perkembangannya tersendiri, sejalan dengan keberaadaan bahasa yang bersifat dinamis. Tolak ukur perkembangan bahasa Indonesia dapat dilihat dari sejauhmana masyarakat Indonesia menghidupi bahasa Indonesia dalam hidupnya. Hal ini berkaitan dengan praktek penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak secara berlebihan jika dikatakan bahwa corak perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa mengalami defisit dalam praksisnya. Hal ini dapat dilihat dari problem penggunaan bahasa Indonesia yang terjadi dari waktu ke waktu. Masifnya penggunaan bahasa asing yang bersifat internasional sebagai tuntutan perkembangan zaman serta penggunan bahasa-bahasa gaul (ngetren) sebagai bahsa modern di kalangan remaja dan kalangan umum lainnya menjadi tanda kemerosotan terhadap praktek berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Gambaran-gambaran ini secara tidak langsung hendak menunjukan bagaimana kiblat perkembangan praktek berbahasa di Indonesia.

Berkaitan dengan wabah Covid-19, berbagai istilah yang digunakan di Indonesia hemat penulis mengarah pada tendensi pengadopsian bahasa asing secara langsung. Alasanya bahwa istilah-istilah yang dipakai lebih banyak didominasi oleh istilah-istilah bahasa Inggris tanpa terjemahan lebih lanjut ke dalam bahasa Indonesia. Di samping itu istilah yang dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia ini tidak diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa Indonesia sesuai dengan tata bahasa Indonesia atau syarat-syarat adopsi istilah atau bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Alangkah baiknya jikalua di Indonesia penetapan istilah-istilah mengenai wabah Covid-19 menggunakan istilah-istilah bahasa Indonesia sehingga mudah dimengerti oleh masyrakat Indonesia dan tidak menimbulkan hal-hal baru yang bersifat problematis.

Kecendrungan dalam penggunan bahasa asing di Indonesia dalam hal ini berkaitan dengan wabah Covid-19 hendak menampilkan pergeseran rasa cinta bangsa terhadap bahasa sendiri dan defisit perkembangan praktek berbahasa di Indonesia. Tidak adanya nilai konstruktif dalam perkembangan bahasa Indonesia jika rakyat Indoneisa lebih cendrung menggunakan bahasa asing dari pada bahasa Indonesia sendiri. Memang tidak secara langsung dan tidak semua orang melihat problem ini, namun hal ini nyata dan dapat dikritisi lebih jauh sebagai wujud rasa cinta dan penghargaan terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang adalah identitas bangsa Indonesia.

 Revitalisasi Rasa Cinta Bahasa Indonesia

Perkembangan terhadap praksis berbahasa Indonesia sesungguhnya tidak lepas dari tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia. Realitas yang dialami saat ini hendak menjadi signum bagi bangsa Indonesia untuk menghidupkan kembali rasa cinta masyarakat terhadap bahasa Indonesia, yang dari waktu ke waktu mengalami degradasi dalam penerapannya. Langkah untuk menghidupkan kembali rasa cinta akan bahasa Indonesia menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Rasa cinta terhadap bahasa Indonesia yang diimplementasikan dalam praktek penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari menjadi wujud nyata menumbuh kembangkan keberaadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan identitas kebangsaan Indonesia.

Berkaitan dengan wabah Covid-19 nampak bahwa adanya tendensi penggunaan istilah-istilah dalam bahasa asing yang sesungguhnya bisa dimengerti secara baik oleh masyarakat jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penerapan penggunan istilah-istilah ini lebih dominan dipakai istilah-istilah asing sehingga menimbulkan berbagai problema seperti kebingungan, salah tafsir dan ketidaktahuan masyarkat mengenai istilah-istilah ini dan lebih lanjut mempengaruhi pemahaman masyarakat tentang wabah Covid-19. Oleh karena itu menjadi sangat penting dan bermanfaat jika penerapan istilah-istilah yang dipakai dalam bahasa Inggris di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Istilah-istilah yang dipakai di Indonesia hendaknya merupakan istilah serapan atau terjemahan ke dalam bahasa Indonesia sesuai dengan syarat-syarat serapan bahasa asing atau sesuai dengan tata cara berbahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga masyarakat memperoleh pemahaman yang baik tentang wabah Covid-19 dan membantu mereka untuk semakin mawas diri terhadap kerentanan penularan penyakit yang mematikan ini. Di samping itu keharusan untuk menerapkan berbagai istilah bahasa Indonesia dalam wabah Covid-19 memberi nilai yang lebih yakni sebagai usaha untuk terus menghidupi rasa cinta masyarakat terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan identitas bangsa, yang lahir dan bertumbuh dalam tubuh bangsa Indonesia sendiri. (***)

*) Penulis dari Maumere. Sekarang tinggal di Unit Mikhael, Ledalero.

Advertisements

Advertisements

Advertisements