Suatu Siang di Wairi’i: Mengais Asa di Antara Bau Anyir dan Cucuran Keringat

Advertisements

“Ada cinta yang diperjuangkan mati-matian, ada kerja keras yang dibanggakan, ada rasa syukur paling tulus dan mengharu-birukan raga. Ada asa dan mimpi yang menghias hari-hari mereka. Semua nilai ini saya dapatkan ketika bertemu para pemulung. Sungguh saya belajar banyak. Sungguh saya merasakan kehadiran Allah dalam rupa mereka,” demikian kesan Frater Rommy Sogen.

Para frater dari STFK Ledalero dan pemulung sedang memungut sampah yang bisa diual kembali ke para pengepul dari kota Maumere

SUATU pagi.
Sabtu, 16 November 2019. Tepat pukul 09.00 Wita pagi. Sebuah bus kayu yang tua dan ringkih menyusuri jalan berkelok di desa. Suaranya menderu dengan susah payah ketika mendaki tanjakan. Kemudian menuruni tikungan yang terjal dengan sangat hati-hati. Di lain waktu, menyelip di antara perkampungan warga maupun kebun kelapa dan pisang yang menghijau di pinggir jalan.

Di atas truk tua itu belasan anak muda sedang duduk santai. Ada yang sedang bernyanyi diiringi gitar. Ada yang bercakap-cakap dan bercanda dengan temannya. Mereka adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere-Flores. Mereka adalah frater-frater muda, calon imam Katolik.

Bus kayu tua itu terus beringsut maju, menuju Kampung Wairi’i, di Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda. Ada apa di sana? Ya, para frater ini ingin bertemu dengan para pemulung yang bekerja mengais rezeki di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah.

Ketika tiba, mereka disambut dengan senyum oleh para pemulung. Senyum Amang dan Inang (bapa dan mama, Red) seakan menjadi penyejuk hawa panas yang menguntit perjalanan mereka di hari Sabtu siang itu.

Saat berbasa-basi dengan amang dan inang pemulung sampah, bau anyir menyeruak menyergap hidung yang menyebar dari bukit sampah sekitar.

“Para frater datang ke sini, untuk ikut merasakan bagaimana menjadi orang kecil, orang tidak berpunya, kaum terpinggirkan. Tetapi sebenarnya adalah orang yang ‘kaya’ dengan semangat persaudaraan, cinta dan kasih sayang yang tulus. Di sini, kami para frater ingin berguru tentang sepotong fragmen kehidupan orang-orang terpinggirkan sekaligus menimba kekayaan semangat hidup untuk meraih mimpi dan asa yang luar biasa, yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka,” jelas P. Hendrik Maku, SVD (sebagai pater prefek) tentang alasan kunjungan rombongan para frater ke TPA Wairi’i untuk ikut merayakan Hari Orang Miskin Sedunia yang jatuh pada tanggal 17 November 2019.

Itu semua, lanjut Pater Hendrik Maku, SVD, adalah bentuk kepedulian dan keberpihakan para frater sebagai anggota serikat SVD (Societas Verbi Divini) kepada orang-orang kecil, kaum marginal dimana saja berada. Hal ini nampak jelas dalam salah satu misi SVD itu sendiri yakni Option for the poor (keberpihakan pada kaum miskin).

Usai basa-basi sejenak, para frater itu membantu para amang dan inang untuk memungut sampah. Mereka mengumpulkan sampah-sampah plastik dan besi yang bisa dijual kembali kepada pengepul yang datang ke Wairi’i.

“Saya tidak malu jadi pemulung. Bahkan saya bangga. Bangga sekali. Sebab saya mengais rezeki dan rupiah dari sampah secara halal. Ini rezeki saya yang dianugerahkan Tuhan. Dengan rezeki ini, saya bisa menyekolahkan anak-anak saya,” kisah Inang Laurensia Nita (58).

Frater Rommy Sogen dari Sie Mading Unit Gabriel, mengaku ketika berada bersama para pemulung di Bukit Sampah Wairi’i, ia seakan melihat kehadiran rupa Allah di wajah para pemulung.

“Ada cinta yang diperjuangkan mati-matian, ada kerja keras yang dibanggakan, ada rasa syukur paling tulus dan mengharu-birukan raga. Ada asa dan mimpi yang menghias hari-hari mereka. Semua nilai ini saya dapatkan ketika bertemu para pemulung. Sungguh saya belajar banyak. Sungguh saya merasakan kehadiran Allah dalam rupa mereka,” demikian kesan Frater Rommy Sogen.

Suatu Siang.
Sebelum pulang ke Bukit Sandar Matahari Ledalero, para frater memberikan bingkisan ala kadarnya bagi para pemulung dan keluarganya. Bingkisan itu sebagai tanda menyulam cinta dan rasa solidaritas yang mungkin selama ini mulai usang dan terpinggirkan oleh egoisme dan nafsu duniawi.

Mereka pun pulang dengan hati yang baru, hati yang penuh oleh pelajaran cinta luar biasa dari orang-orang terpinggirkan. (***)

Laporan Kontributor: Er Diku (Mahasiswa STFK Ledalero)
Editor: Julianus Akoit

Advertisements

Advertisements

Advertisements