Siswi SLTP dari Oelbubuk Dijual Seharga Rp 20 Juta ke Tekong di Malaysia

Advertisements

“Saat diberangkatkan ke Malaysia melalui Bandara International El Tari Kupang, korban MST berhasil diamankan Tim Anti Human Trafficking dari Dinas Nakertrans NTT. Lalu diserahkan kepada polisi untuk dilakukan penyelidikan. Dan akhirnya terungkap gadis bawah umur itu jadi korban eksploitasi mafia human trafficking,” jelas Wakil Direktur Reskrimum Polda NTT, AKBP Anton C. Nugroho didampingi Staf Bidang Humas Polda NTT Ipda Viktor Nenotek kepada awak media dalam jumpa pers di Mapolda NTT, Selasa (11/6/2019) pagi.

KUPANG, HALAMANSEMBILAN.COM – MST (16), seorang siswi SLTP asal Oelbubuk, Kecamatan Molo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dijual seharga Rp 20 juta oleh mafia trafficking ke seorang Tekong di Malaysia berinisial E.

“Saat diberangkatkan ke Malaysia melalui Bandara International El Tari Kupang, korban MST berhasil diamankan Tim Anti Human Trafficking dari Dinas Nakertrans NTT. Lalu diserahkan kepada polisi untuk dilakukan penyelidikan. Dan akhirnya terungkap gadis bawah umur itu jadi korban eksploitasi mafia human trafficking,” jelas Wakil Direktur Reskrimum Polda NTT, AKBP Anton C. Nugroho didampingi Staf Bidang Humas Polda NTT Ipda Viktor Nenotek kepada awak media dalam jumpa pers di Mapolda NTT, Selasa (11/6/2019) pagi.

Tentang kronologi peristiwa, Anton Nugroho memaparkan, pada tanggal 18 April 2019 sekitar pukul 16.00 wita, korban MST berhasil dirayu oleh tersangka AD di Desa Oelbubuk, Mollo Tengah. Korban tergiur karena dijanjikan akan terima gaji besar dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga di luar negeri. Korban yang masih berusia anak-anak, langsung mengiyakan ajakan dan bujuk rayu tersebut.

Kemudian korban dibawa ke Kupang dan ditampung selama 5 hari di rumah saudari YN dan selanjutnya korban diserahkan DS untuk diproses keberangkatannya menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia secara ilegal.

“Selanjutnya DS mengontak seorang Tekong (bos/majikan, Red) di Malaysia berinisial E untuk dilakukan proses tawar-menawar harga. Tekong E sepakat membeli korban MST seharga Rp 20 juta. Uang lalu ditransfer ke rekening DS untuk mengurus keperluan keberangkatan korban ke Malaysia,” jelas Anton Nugroho.

Selanjutnya DS menyisihkan Rp 3 juta untuk ‘uang capek’ AD yang telah membawa korban dari Oelbubuk ke Kota Kupang.

“Kemudian DS mengurus surat keterangan domisili korban di Kelurahan Lasiana, Kota Kupang. Surat itu yang dipakai untuk dokumen keberangkatan korban melalui Bandara Internasional El Tari Kupang. Sayangnya, surat itu tanpa dibubuhi tandatangan dari Lurah Lasiana. Akibatnya tim anti human trafficking yang bertugas di Bandara El Tari menjadi curiga sehingga korban diamankan,” papar Anton Nugroho.

Lalu polisi pun melakukan pengembangan penyelidikan atas korban. Selanjutnya berbekal informasi dari korban, polisi berhasil membekuk AD di Atambua pada tanggal 20 Mei 2019. Sedangkan DS dibekuk di Babau, Kupang Timur pada tanggal 1 Juni 2019.

“Sedangkan Tekong Malaysia berinisial E dan satu lagi berinisial S, sebagai calo pembuat paspor aspal di Batam, Kepulauan Riau, masih didalami oleh penyidik untuk pengembangan penyidikan,” pungkas Anton Nugroho. (k-1)

Editor: Julianus Akoit

Advertisements

Advertisements