Sahabat Alam NTT dan WALHI NTT Desak Pemerintah Selamatkan Sabana di NTT

Advertisements

Kampanye Selamatkan Sabana di Bukit Cinta, oleh SHALAM NTT dan WALHI NTT, 23 april 2019. Foto: Silvii

“Sebab sabana punya manfaat strategis yakni sebagai penyeimbang alam, menjaga tanah longsor, mencegah erosi tanah serta penyimpan karbon yg sangat baik,” tandas Seto.

KUPANG, HALAMANSEMBILAN.COM – Sahabat Alam (SHALAM) didukung Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) NTT, memyerukan kampanye untuk menyelamatkan dan menjaga padang sabana yang ada di NTT, yang kini lahannya makin sedikit akibat aktivitas manusia.

Kampanye ini digelar dalam rangka memperingati hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2019 lalu. Kampanye dilaksanakan di Bukit Cinta, Desa Penfui Timur, Kabupaten Kupang, 23 April 2019.

“Sebelum melaksanakan kegiatan kampanye, kami sempat melakukan pemadaman api di tiga titik yang membakar sabana di sekitar Bukit Cinta. Kami sangat geram atas ulah oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, ” jelas Emanuel Seto Falls kepada kontributor halamansembilan.com di Kupang.

Sabana, lanjut Seto, sangat penting dalam kontribusi keberlangsungan hidup manusia. Karena itu harus tetap dijaga kelestariannya.

“Sebab sabana punya manfaat strategis yakni sebagai penyeimbang alam, menjaga tanah longsor, mencegah erosi tanah serta penyimpan karbon yg sangat baik,” tandas Seto.

SHALAM didukung WALHI NTT mendesak kepada pemerintah agar memperhatikan dan melindungi ekosistem sabana. Sehingga tidak ada yang mengancam keberlajutannya baik lewat dalil pembangunan ataupun pembakaran liar.

Memperingati hari bumi ini, kata Seto, bukan sebatas memperingati atau sekedar mengucapkan selamat akan tetapi bagaimana mengusahakan akan keberlanjutan seluruh ekosistem yang ada di dalamnya. Salah satunya menjaga ekosistem padang sabana.

Seto mengutip hasil penelitian Riwu Kaho, bahwa luas sabana di NTT mencapai 22% atau 2,3 juta ha dari jumlah daratan. Contohnya sabana di Taman Nasional Komodo di Manggarai Barat, Kaju Wulu di Sikka,Tanarara di Sumba Timur dan Fulan Fehan di Belu.

Advertisements

“Ada anggapan yang keliru, sabana dianggap sebagai lahan tidur. Berdasarkan anggapan yang keliru itu, maka padang sabana ditebas dan dibakar untuk dijadikan lahan industri. Contohnya kegiatan investor PT. MSM di Sumba Timur, yang menghancurkan padang sabana untuk dijadikan perkebunan tebu. Dan masih banyak contoh lainnya,” jelas Seto.

Karena itu Seto menghimbau pemerintah dan masyarakat untuk menjaga padang sabana agar tidak dieksploitasi atas nama pengembangan ekonomi produktif. Sebab bila ekosistem sabana hancur, akan berdampak pada manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. (k-4).

Laporan Kontributor: Silvi
Editor: Julianus Akoit

Advertisements