Punya Dua Rumah Mewah, 4 Unit Mobil dan 4 Bidang Tanah, Ketua Garda TTU Desak Jaksa Tangkap Kades Makun

Advertisements

“Patut diduga keras, dana desa telah diselewengkan Kades Makun untuk memperkaya diri. Buktinya, ia punya dua rumah mewah, empat unit mobil, dan 4 bidang tanah,” papar Paulus Bau Modok.

f

Ketua Garda TTU, Paulus Bau Modok, SE

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Paulus Bau Modok, SE, Ketua Gerakan Rakyat Peduli Demokrasi dan Keadilan Kabupaten Timor Tengah Utara (Garda TTU) di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendesak jaksa segera menangkap Kepala Desa (Kades) Makun, Matheus Anoit.

“Seorang kades di desa terpencil memiliki aset pribadi yang tidak wajar, patut dipertanyakan. Apalagi menurut laporan BPD setempat, Kades Makun diduga telah menyelewengkan dana desa sebesar 1.691.641.017 selama dua periode menjabat,” jelas Paulus Bau Modok dalam siaran persnya, Minggu (30/5/2021).

Dugaan penyelewengan itu belum terhitung pengelolaan dana desa tahun anggaran 2019 senilai Rp 1.413.584.000. Dalam tahun 2019 lalu, pengelolaan dana desa diambil alih langsung oleh Kades Makun tanpa melibatkan BPD perangkat desa lainnya.

“Patut diduga keras, dana desa telah diselewengkan Kades Makun untuk memperkaya diri. Buktinya, ia punya dua rumah mewah, empat unit mobil, dan 4 bidang tanah,” papar Paulus Bau Modok.

Menurutnya, kekayaan yang dimiliki Kades Makun tidak wajar. Sebab awalnya sang kades cuma seorang petani miskin dan juga bukan seorang pengusaha. Tiba-tiba punya aset pribadi dengan jumlah yang tidak wajar, patut dicurigai.

“Karena itu saya mendesak jaksa periksa dan tangkap Kades Makun,” tambahnya.

Dosa lain Kades Makun, Matheus Anoit, yaitu pelesir ke Jakarta dengan alasan studi banding dengan menggunakan dana desa sebesar Rp 65 juta.

“Di Jakarta tidak ada pemerintahan desa. Yang ada pemerintah kelurahan. Mau belajar studi banding tentang apa di sana? Itu cuma alasan saja untuk berfoya-foya dengan alasan studi banding,” ungkap Paulus Bau Modok.

Dan hingga sekarang, lanjut Paulus Bau Modok, semua honor BPD senilai Rp 75 juta belum dibayarkan.

“Semua proyek fisik, Kades Makun yang kerja sendiri. Menggunakan dua unit dump truck-nya mengangkut bahan bangunan. Juga menggunakan pekerja dari luar daerah atau tidak memanfaatkan pekerja dari dalam desa sendiri,” beber Paulus Bau Modok.

Dan sejak tahun 2019 lalu, pekerjaan fisik yang bersumber dari dana desa tidak pernah rampung. Dibiarkan terbengkalai begitu saja.

Saat dihubungi via telepon genggamnya, Kades Makun Matheus Anoit, membantah keras tudingan tersebut.

“Itu fitnah. Saya tahu siapa saja yang bermain dan menikam saya dari belakang. Mereka itu lawan politik saya dalam pilkades beberapa waktu lalu,” tukasnya.

Ia berjanji akan memberikan klarifikasi tertulis kepada wartawan dalam beberapa hari ke depan. (jude)

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements

Advertisements