PUISI: Surat Untuk Katharina

Advertisements

Katharina
Nama yang selalu kutiduri dalam hangatnya selimut mimpi.
Bercumbu di ujung kalimat rindu.
Barangkali !
M
asih ada serpihan-serpihan yang pernah kita jatuhkan lewat mimpi kita bersama.

SURAT UNTUK KATHARINA

Kepada:
Kekasihku Katharina

Katharina Kita masih terlalu dini merenggang cinta
Di awal pertemuan sempat terlontar wejangan bernarasi
“mari kita bersama merajut benang-benang cinta yang terlepas sebelum dan sesudah kita mengenalnya”
Toh, benang tu kian putus perlahan-lahan membawa sejuta karangan simpul kisah
Katharina, nama yang selalu meraup mimpi malam
Malam ini nama itu tak lagi kutiduri di mimpi malam ini
Nama telah raib dengan sejuta air mata awan yang menceritakan bahwa pernah rindu pada bumi.
Lah,,,Kathatina kapan lagi engkau berbagi rindu??
Malam-malam yang akan datang tak kau datangi lagi di mimpi
Kalaupun datang, bukan lagi mimpi yang membawa pada rindu
Engkau datang hanya sebagai pengganggu mimpi

Tohhh,,,,wajahmu yang ayu kini berganti beringas
Wajah penuh amarah yang tak terbantah

Katharina, nama yang selalu menjadi pelipur lara
Sudah kau habiskan sejuta rindu, dengan kata dan tingkah yang merajuk
Masihkah engkau begitu??

Aku selalu menunggu walau jenuh
Bertahan dengan doa beribu-ribu
Mananti meski hati luluh
Toh, masih kusebut namamu
Dalam tapak-tapak penantian yang tak menentu
Katharina, Katharina, mari cukup sekali lagi menjadi penenang rindu

Salam dariku
Lelaki Pencari Sepi

Ledalero, 10 Februari 2020

KATHARINA
(wanita pemilik puisi rindu)

I //
Katharina
Di saat sekarat puisi ‘tak lagi milik kita.
Terurai rambutmu yang dulu dan teluk matamu beranak, ‘tak lagi mengkisahkan puisi berirama cinta.
Cinta telah kau tepis dan renggut dengan kasar.
Setelah lepas pisah batang usia kita.

II //
Katharina
Nama yang selalu kutiduri dalam hangatnya selimut mimpi.
Bercumbu di ujung kalimat rindu.
Barangkali !
Masih ada serpihan-serpihan yang pernah kita jatuhkan lewat mimpi kita bersama.

III //
Katharina
Cinta kita dulu telah direnggut waktu.
Waktu yang masih dini membahasakan cinta.
Waktu yang perlahan merangkak dewasa dengan polesan ceria senyum suka dan tawa di ujung kelam.
Dan sekarang tinggal waktu beranjak tua, yang hanya mampu mengingatkan rindu dari piluh.

Ledalero, Januari 2020

R I N D U L A G I
(rindu tak di balas)

Tergores lusuh pada dedauanan itu
Menghibur sendu tanah pijakan semu
Langit runtuh di balik teluk matamu
Tercurah lesuh mengisahkan teluk tak berasa
Luluh tak tahu malu.

Pergi tepisku, biarkan peluh rinduku menguak rapuh
Hanyut seiring sungaimu yang mengalir tiada ampun
Dan akhirnya menyisahkan lagi telaga senyum kecutmu.
Ahhhhh,,,,,,, cukup!
Cukup tuk kuamini rindumu,
Rindu kita dan mereka
Namun apa?
Rindu tak pernah di balas
Kaku, beku di telan waktu.

“Medio Maret yang sombong”
Kuwu, 18 Maret 2019


Penyair Fand Wasa, asal Wolotopo-Ende.
Mahasiswa STFK Ledalero,Tinggal di Unit Gabriel

Advertisements

Advertisements

Advertisements