PUISI: Kupu-Kupu Malam

Advertisements

Oleh: Fand Wasa, Penyair Kelahiran Ende. Kini Mahasiswa STFK Ledalero. Tinggal di Unit Gabriel

Kupu-Kupu Malam

Mereka kembali bercinta diranjang yang sama.
Setelah lelah keringat membasahi tubuh yang fana, hasrat pun dipuaskan.
Wanita malam tersenyum sungging ala senyum lelaki joker bertopeng.
Senyum itu luka yang menikam perih.
Senyum itu sakit .
“mari kembalikan kesenanganku, aku belum puas terhibur”, ajakan jahanam borjuis tak berperikemanusiaan.
Itu mereka,,,,mereka yang selalu menunggangi tubuh yang rapuh dan fana.

Kemanakah tubuh yang rapuh setelah di ninabobokan dengan manja?
Para jahanam selalu buat ulah, bertingkah seenaknya.
Dan bersembunyi dibalik pakaian berdasi, pangkat yang tinggi.

Kasihan,,,,,
Malang nasib wanita yang di cap wanita malam.
Mereka hanya mencoba, sekedar mendapatakn sesuap nasi dan seteguk air penghapus lapar dan memanjangkan usia anak-anaknya.

Kalau-kalau mereka di cap wanita malam, yang jahanam di beri nama apa?
Lelaki pagi ?
Lelaki siang ?
Barangkali lelaki sore pengemis kebahagiaan pada tubuh telanjang wanita malam?

Ledalero, September 2019

Menelantarkan Tubuh

Tubuh ini tuan
Tubuh ini mahkota
Apa yang kau perbuat pada tubuh?
Membunuhnya, lalu menelantarkannya?
Dimana rasamu akan tubuhmu?
Menelanjangi dengan paksa lalu memperkosanya hingga tumpah ruah kemaluan.

Tubuh ini tuan
Tak halal dijual-belikan
Pikirmu ini kalengan bekas yang dijadikan alumunium digade dengan sekilo 500 rupiah
Terlalu naïf, bahkan nihil

Mereka yang katanya orang terhormat
Itu,,,itulah yang menelantarkan tubuh
Pada persimpangan-persimpangan ,
Ditempat gemerlapan langit malam bertaburan lampu berwarna
Mereka selalu mencari tubuh
Untuk dirasa; bahkan di ‘makan’ secara paksa

“makan tubuh manusia”
“Minum darah manusia”

Tanyakan pada Dia tubuh dan darah siapa yang mereka makan dan minum
Tanyakan….!!
Tanyakan: tubuh siapa yang mereka terlantarkan dan telanjangi.

NB ;Terinspirasi dari teater “TUBUH” yang diperankan para Frater Novis Sang Sabda Kuwu angkatan 25

Oktober 2018

Kecupan Terakhir

Aku menjajaki tahun ini pada setiap poros waktu yang bergulir
Sudah kuhitung berapa lama waktu retas
antara jarak ingatanku pada ciuman pertama dan terakhir kita bukan??
1095 hari. Iya waktu yang begitu lama hampir pupus.
Terlalu lama dan tak mau kuulangi.
09 April, itu waktu yang paling bahagia.
Waktu di mana hanya ada tawa dan senyum suka

Ledalero, Akhir April ‘20

Senyum Kecut

Rasa paling angkuh dalam benak adalah menyimpan senyum kecutmu dalam memori.
Sulit kuubah, apalagi melupakan.
Toh, lebih sakit untuk dikenang
Terpaksa dimakan otak walau menyiksa.

Ledalero, April 2020

Advertisements

Advertisements

Advertisements