PUISI: Ketika Kau Pergi dan Aku Tak Lagi Melihat Pagi

Advertisements

“…Angin dan dingin adalah percakapan terakhir kita
sebelum waktu mengambilmu pergi
dan kau tinggalkan kalimat
sampai jumpa lagi….”

Silentium Magnum

Sejam bersamamu,
aku mati tertindih kuburmu.
Tulang-tulangku remuk
waktu berdetak mengintai diriku.

Hujan menguasai kepalaku
menjadikanku fana,
jawaban abadi untuk segala tanya.

Aku berada dalam perburuan
mencari sesal dan kelopak luka.
segalanya akan usai,
ketika doa benci menalar cinta.

Ruteng,2019

Ketika Cinta Selalu Bertanya

Ia akan duduk
di depan rumahmu
membaca buku puisi Nietzsche
dan menggelar sebuah diskusi tentang hujan.

“Mengapa hujan ?”
Tulismu, setiap kali mengucap pelukan.

Sepasang roh menggunakan kaca mata hitam,
melewati halaman rumahmu, dengan diam.
Mereka menggigil
sebab rumah tempat kau berteduh,
adalah sunyi yang menghamili puisi.

Ruteng,2020

Taman Kanak-Kanak

Matamu adalah taman bermain,
bagi doaku yang masih berbunyi
kanak-kanak.

Ruteng,2018

Ketika Kau Pergi dan Aku Tak Lagi Melihat Pagi

Angin dan dingin adalah percakapan terakhir kita
sebelum waktu mengambilmu pergi
dan kau tinggalkan kalimat
sampai jumpa lagi.

Di hari terakhir sebelum kepergianmu
kau pernah menasehatiku
pertemuan ialah rencana perpisahan
atau segala sesuatu berakhir kekurangan .

Pagiku menghilang tak ada lagi selamat pagi dalam kepalaku
yang tersisa hanya semu
barangkali aku haus berpaspasan denganmu
atau barangkali hanya semilir angin dan sabda yang memulangkanmu.

Di larik puisi ini kutuliskan namamu sebagai malam
atas nama kopi dan api menyala.

Ruteng,2020

Mengenang Kembali

Akhirnya kau pun menjawab “ya”
sewaktu nisan menjabat erat kutub waktumu
dalam tanggalku, mengabdi sebuah kenang
sewaktu gugur malam menidurkan

Dan pada akhirnya,
semua akan usai
menjadikan kata yang tak sempat jadi puisi
gerbang besi akan tertutup rapat
pada lorong yang tinggal kenangan
atau pesan yang kuucapkan sebelum pertemuan

“Selamat jalan”
nantikan aku di kotamu
segala abadi akan kau kecup kembali.

Ruteng,2020

Lonceng

Jika pagi membangunkanmu,
dan telingamu mendengar suara lonceng
maka percayalah
aku ada disana
untuk membangunkanmu,
dan bibir ini tak henti-hentinya
mengucapkan selamat pagi untukmu.

Ruteng,2020

Parade Puisi di atas adalah karya Dony Dey. Penyair Dony Dey, seorang calon imam scalabrinian. Ia berasal dari Ende. Sekarang ini tinggal di Ruteng menjalani masa persiapan selama 1 tahun.

Advertisements

Advertisements