POLEMIK GURU TEKO – Viktor Manbait Bilang Guru Teko Harus Berani Bersuara

Advertisements

“Bagaimana mungkin orang sudah bekerja selama 10 bulan, baru Pemkab TTU melakukan proses perekrutan dan mewawancarai para guru teko? Saya tidak menuduh, tapi patut diduga keras moment ini dipakai Bupati TTU untuk kepentingan pilkada serentak bulan Desember 2020,” jelas Manbait.

Direktur Lakmas NTT, Viktor Manbait, S.H.

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Direktur Lembaga Advokasi Anti Kekerasan Masyarakat Sipil Nusa Tenggara Timur (Lakmas NTT) mendesak para guru tenaga kontrak (teko) di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) harus berani bersuara ketika haknya dijadikan alat politik.

“Harus berani bersuara. Jangan biarkan profesi sebagai guru dijadikan alat politik, harus bebas dari intervensi maupun tekanan politik dari penguasa, harus bebas dari praktek KKN,” tandas Manbait dalam siaran persnya kepada wartawan di Kefamenanu, Rabu (14/10/2020).

Manbait mengaku sangat kesal karena ribuan guru teko telah bekerja selama 10 bulan, tapi Pemda TTU baru melakukan proses perekrutan.

“Bagaimana mungkin orang sudah bekerja selama 10 bulan, baru Pemkab TTU melakukan proses perekrutan dan mewawancarai para guru teko? Saya tidak menuduh, tapi patut diduga keras moment ini dipakai Bupati TTU untuk kepentingan pilkada serentak bulan Desember 2020,” jelas Manbait.

Apalagi proses wawancara dilakukan secara tertutup, tentunya guru teko tidak bebas dan kental dengan tekanan politik.

“Jangan sampai ada pesan politik untuk memenangkan paket calon bupati dan wakil bupati tertentu kepada ribuan guru teko. Jika ini yang terjadi dan para guru teko diam saja, maka mereka akan terus dijajah oleh penguasa,” kata Manbait mengingatkan.

Sebelumnya Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, S.Pt, melalui Sekda TTU menerbitkan pengumuman tentang wawancara guru Pegawai Tidak Tetap (PTT) atau guru tenaga kontrak (teko). Kegiatan wawancara dimulai sejak Senin (12/10/2020). (jude)

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements

Advertisements