Perkara Kekerasan Seksual Masih Dominan, Ketua PN Kefamenanu Mengaku Prihatin

Advertisements

“Berdasarkan kategori perkara pidana yang masuk dalam agenda persidangan, lebih banyak kasus penganiayaan dan kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan. Terus terang, kami sangat sedih dan prihatin terhadap maraknya kasus perkara ini di Kabupaten TTU,” jelas I Putu Yoga, dalam acara Coffe Morning dengan para awak media yang bertugas di Kabupaten TTU, Selasa (28/7/2020) pagi.

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Ketua Pengadilan Negeri (PN) Kefamenanu, I Putu Suyoga, S.H, M.H, mengaku sedih dan prihatin karena dalam semester pertama Tahun 2020, perkara kasus kekerasan seksual terhadap wanita dan anak-anak masih mendominasi jadwal persidangan di ruang sidang PN Kefamenanu.

Ia mengatakan dalam semester pertama tahun ini PN Kefamenanu Klas II sudah menyidangkan 45 perkara pidana biasa. Dari 45 kasus perkara itu, 5 perkara masih sementara disidangkan. Sisanya sudah selesai disidangkan dan sudah ada putusannya.

“Berdasarkan kategori perkara pidana yang masuk dalam agenda persidangan, lebih banyak kasus penganiayaan dan kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan. Terus terang, kami sangat sedih dan prihatin terhadap maraknya kasus perkara ini di Kabupaten TTU,” jelas I Putu Yoga, dalam acara Coffe Morning dengan para awak media yang bertugas di Kabupaten TTU, Selasa (28/7/2020) pagi.

Mirisnya, lanjut I Putu Yoga, pelaku kekerasan seksual terhadap anak justru dilakukan oleh orang terdekat dalam lingkup keluarga korban sendiri.

“Misalnya kekerasan seksual dilakukan oleh kakek, bapak, dan paman korban,” jelas Suyoga, tanpa merinci berapa jumlah per kasusnya.

Pantauan wartawan, pertemuan dengan awak media berjalan dalam suasana akrab dan santai, dilanjutkan dengan diskusi bersama.

Sejumlah awak media tampak aktif melontarkan berbagai pertanyaan kepada Ketua PN I Putu Suyoga dan sebagian lainnya memberikan masukan, saran dan pendapat terkait kemitraan yang terjalin.

Di akhir dialog itu , I Putu Suyoga juga menyampaikan harapannya kepada para wartawan untuk menjunjung tinggi profesionalisme dalam bertugas. Terutama dalam pembuatan berita yang berimbang menyangkut PN Kefamenanu.

Dicontohkannya, ketika pengadilan mengadakan proses peradilan, untuk materi berita yang kurang lengkap bisa dikoordinasikan kepada Humas agar menjadi berita yang akurat, sehingga masyarakat lebih mengenal dan mengetahui dunia peradilan.

Menurut I Putu Suyoga, suatu persidangan adalah sakral, karena putusan berasal dari fakta di persidangan, jika menyimpang dari itu bisa menistakan hukum dalam menyelesaikan suatu perkara.

“Teman-teman wartawan adalah mitra kita. Di PN Kefamenanu ada banyak kasus yang disidangkan. Di sini juga ada ruangan Media Centre. Untuk pemberitaan yang berimbang kami dari PN Kefamenanu sangat welcome. Kami membuka kesempatan sebesar-besarnya menerima teman-teman yang membutuhkan konfirmasi kami. Berhubumg yang disidangkan adalah perkara-perkara, sehingga kami mengharapkan teman-teman tidak membuat berita tanpa disertai konfirmasi dari pihak kami sehingga beritanya menjadi berimbang dan terwujud kerjasama diantara kita,” harap I Putu Suyoga.

Ia menegaskan, membangun kemitraan dengan awak media sangat penting untuk bisa mencapai peradilan yang agung.

Dalam pertemuan dan dialog itu, Ketua PN Kelas II Kefamenanu, I Putu Suyoga, S.H, M.H, didampingi Panitera Yosephus M. Lakapu, S.H, Sekretaris PN Kefamenanu, Johny Wilson Bara, S.IP, dan juru bicara Jefry Bimusu S.H, serta 5 hakim muda. (jude)

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements

Advertisements