Perintah Gantung Seorang Pemuda di Bawah Pohon, Dua Anggota DPRD Sumba Barat Daya Jadi Tersangka

Advertisements

“Iya benar. Sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan karena diduga sebagai otak pelaku penganiayaan seorang pemuda desa dengan cara menggantung korban kepala ke bawah. Termasuk beberapa kali menampar korban,” jelas Kapolres SBD, AKBP Joseph Mandagi via telepon genggamnya, Rabu (23/12/2020).

Ilustrasi

TAMBOLAKA, HALAMANSEMBILAN.COM – Dua anggota DPRD Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) di Provini Nusa Tenggara Timur (NTT) ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan aparat kepolisian setempat sejak Jumat (18/12/2020) lalu.

Dua anggota Dewan itu berinisial YNR dari Partai Nasdem dan SLG dari PDI Perjuangan.

“Iya benar. Sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan karena diduga sebagai otak pelaku penganiayaan seorang pemuda desa dengan cara menggantung korban kepala ke bawah. Termasuk beberapa kali menampar korban,” jelas Kapolres SBD, AKBP Joseph Mandagi via telepon genggamnya, Rabu (23/12/2020).
Keduanya dititipkan sel Polsek Kodi Bangedo, Polres Sumba Barat Daya karena ketiadaan sel di Polres Sumba Barat Daya.

Kedua anggota dewan ini dijerat pasal berlapis masing-masing pasal 170, pasal 351 jo pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman diatas 7 tahun penjara.
Saat ini penyidik Sat Reskrim Polres Sumba Barat Daya sedang melengkapi berkas perkara untuk diserahkan ke pihak kejaksaan.

Korban penganiayaan adalah Mario Mardi Natriti (23), warga Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya. Laporan kasus penganiayaan ini disampaikan kerabat korban, Paulus Seingo Bulu (52), warga Desa Letekonda Selatan Kecamatan Loura Kabupaten Sumba Barat Daya yang tertuang dalam laporan polisi nomor LP-B/66/I.6/X/2020/Polda NTT/Res SBD.

Dalam laporannya, pelapor mengaku kalau korban dianiaya pada tanggal 20 Oktober 2020 sekitar pukul 12.00 wita hingga pukul 16.00 wita di beberapa lokasi yang berbeda. Ia mengaku dianiaya dua oknum anggota DPRD Kabupaten Sumba Barat Daya, YNR dari Partai Nasdem dan SLG dari PDI Perjuangan.

Kedua oknum anggota dewan ini diketahui merupakan kerabat dari Delsiana Bebe, pacar korban yang sempat kabur dengan korban karena hubungan mereka ditentang orang tua Delsiana.

Sebelumnya diberitakan, sebuah video main hakim sendiri berdurasi 1.11 menit viral di media sosial dan menjadi perhatian netizen di NTT.

Peristiwa itu terjadi di Desa Rama Dana, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Ibu kandung korban yang saat ini bekerja sebagai buruh migran di Malaysia ikut memviralkan video tersebut dengan harapan mendapat keadilan atas kejadian itu.

Video pendek ini menunjukan, seorang pria tergantung dengan posisi kepala dibawah. Sementara di sekeliling pria bertubuh kecil itu duduk sekelompok orang. Bahkan dalam video tersebut terlihat dua anggota TNI berseragam lengkap.

Dalam postingan dalam group facebook berita sumba barat daya II, sebuah akun bernama Tujuh Juli Yuli yang mengaku sebagai ibu kandung korban menyatakan, anaknya bukan pelaku kriminal yang harus menerima hukuman keji seperti itu. Bahkan setelah kejadian itu anaknya terbaring di rumah sakit.

Menurut akun tersebut, anaknya disiksa dengan cara digantung, kepala di bawah karena membawa lari sang pacar. Diketahui juga, hubungan keduanya tidak disetujui oleh keluarga wanita.Setelah ditangkap, anaknya kemudian diberi hukuman gantung pada tanggal 20 Oktober 2020 di Desa Rama Dana, Kecamatan Laura, Sumba Barat Daya. (k-1)

Editor: Julianus Akoit

Advertisements

Advertisements

Advertisements