PARDIDUK: Tuan Goran, Hadiah dan Kesepian

Advertisements

Di biara para jompo ini Tuan Goran bergabung dengan sejumlah konfraternya. Walau begitu, secara personal ia mengalami masa-masa kesepian sebagai manusia biasa.
Ia mengungkapkan perasaannya itu dengan menulis puisi berjudul “Keheningan di Batas Malam”. Ia merefleksikan bahwa semuanya terjadi begitu alamiah. Dia nengatakan tak pernah terlintas dalam pikirannya, bahwa dalam rentang masa hidup, dia dan konfraternya akan menjadi orang-orang yang sendiri dan kesepian. Tapi, mereka telah lulus banyak ujian. Puluhan tahun melewati biduk panggilan dan melewatkan banyak perjalanan hidup.

Secara personal saya tidak terlalu mengenal P. Gabriel Goran, SVD. Namun banyak pengetahuan kolektif yang berceritra tentang Imam Sulung Paroki Maria Bintang Laut Waipukang ini. Sehingga saya menjadi sedikit tahu sosok imam Allah ini yang oleh orang di kampung kami menyapanya dengan sebutan Tuan Goran.

Ia dilahirkan di Desa Tagawiti pada 14 April 1941, menempuh Pendidikan Dasar di kampungnya, lalu melanjutkan ke Seminari Sandominggo Hokeng. Selanjutnya menjalani persiapan menjadi iman SVD di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero dan ditahbiskan menjadi imam pertama dari kawasan Ile Ape pada 31 Juli 1971 oleh Mgr. A.H. Thijesen, SVD.

Perjumpaan sepintas saya dengan Tuan Goran terjadi sekitar dua kali. Pertama sekitar tahun 1984 di stasi Lewotolok saat kami akan menerima Komunio Pertama. Entah sedang berlibur atau diundang oleh P. Petrus Maria Geurtz, SVD, beliau hadir disela-sela persiapan kami menerima Sakramen Ekaristi. Pada saat itu kami semua mendapat hadiah dari beliau berupa Majalah Dian dan Buku Kecil dengan Judul Marilah Berdoa. Tentu dengan melewati menjawab beberapa pertanyaan kolektif Katekese seputar Sakramen Ekaristi.

Pertemuan kedua pada tahun 2007 di Desa Waowala saat menjadi pengkotbah pada Misa Perdana Tabisan Imam P. Yosep Keluli Purap, SVD. Namun saat itu tidak ada komunikasi personal dengan beliau. Saya hanya mengagumi kotbah beliau yang kontekstual tentang jalan panggilan Pater Yos pada saat mengikuti misa perdana itu.

Setelah itu, saya hanya mengikuti aktivitas beliau melalui status facebook teman-teman saya. Dan beberapa tulisan media online, yang menulis tentang kecintaannya pada Bahari dengan mendirikan Museum Bahari yang sebagian besar kokeksinya berasal dari Kecamatan Ile Ape, Lembata, kampung asalnya.Terakhir saya mengetahui kalau beliau sedang menderita stroke dan tinggal di Biara Simeon Ledalero, biara khusus bagi konfrater SVD yang sudah purna tugas.

Di biara para jompo ini Tuan Goran bergabung dengan sejumlah konfraternya. Walau begitu, secara personal ia mengalami masa-masa kesepian sebagai manusia biasa.
Ia mengungkapkan perasaannya itu dengan menulis puisi berjudul “Keheningan di Batas Malam”. Ia merefleksikan bahwa semuanya terjadi begitu alamiah. Dia nengatakan tak pernah terlintas dalam pikirannya, bahwa dalam rentang masa hidup, dia dan konfraternya akan menjadi orang-orang yang sendiri dan kesepian. Tapi, mereka telah lulus banyak ujian. Puluhan tahun melewati biduk panggilan dan melewatkan banyak perjalanan hidup.

Beberapa hari terakhir saya terus memantau status teman-teman di facebook tentang beliau, bahwa ia mengalami masa kritis karena kesehatannya menurun. Dan pagi ini saya mendapat kabar kalau Tuan Goran telah pergi untuk selamanya ke rumah Bapa di Surga. Selamat Jalan Imam sulungku. Jadilah pendoa untuk kami yang masih berziarah di dunia ini. (john mamun sabaleku)

Advertisements

Advertisements

Advertisements