PARADE PUISI – Verba Molant, Scripta Manent

Advertisements

OLEH: HANS PENU

Seribu tahun berkelana
Adalah impian Chairil Anwar
Kendati hilang tak ubah angin,
Hanya aksaranya seribu tahun berkelana
Pada kepala-kepala peminat sejarah.

Verba Molant, Scripta Manent

Tak kubiarkan rasa ini terbang seperti angin
Perihal dirimu,
Kan kubiarkan kekal bersama aksara ini.
Sebab usah kuresah, barangkali pergi
Lekas entah ke mana.

Seribu tahun berkelana
Adalah impian Chairil Anwar
Kendati hilang tak ubah angin,
Hanya aksaranya seribu tahun berkelana
Pada kepala-kepala peminat sejarah.

Barangkali ucapku sekadar aksara yang akan kau kemanakan,
Tetapi bagiku,
kau adalah aksara yang takan pernah
kuizinkan pergi.

Kekasih,
Kita hadir dengan ketentuan: masa di mana kau dan aku
Hanya akan terkenang dengan barisan beberapa abjad:
Nama.

Untuk itu, biarkan aku bermimpi:
Seribu tahun berkelana layaknya Anwar,
Dan menjadi tak pernah peduli
Karena tak mungkin.

Sebab aku akan menjadi lebih tidak peduli,
Kalau aku tinggal nama yang perlahan
Hilang ditinggal zaman.

Karena bagiku,
Kau hadir dengan ketentuan:
“kau bukan yang pertama,
Bukan pula yang terakhir.
Iya.
Kaulah abadi, aksara yang akan tetap berkelana
Bersamaku.”

Kekasih,
Aksaraku baru akan mulai berkelana
Seribu kali sepuluh tahun lebih lama
Usai engkau membacanya.

Kelas-Scalabrinian, 02-08-2020

Berita Dupa

Remang malam itu
Kami menyalakan dupa.
Kurban yang mungkin tak berkenan, Kekasih
Malam itu 2 anak domba tambun dibantai,
Para gembala.

Konon katanya,
Domba-domba itu tertangakap media
Melahap sejumput rumput tetangga
Tanpa semerbak aroma dupa.

Semudah itukah, Kekasih…
Gegas dari selebaran ini?

Kami duduk menyalakan dupa.
Bertalu asap membusur
Membumbung berupa doa
Dari kepala-kepala kurban,
Domba yang tak mampu mengelak.

Kami masih menyalakan dupa.
Di selebaran lain termuat:
1. Domba berskandal tertahbis menjadi gembala.
2. Seraigala berbulu domba menganaksulungkan separuh domba.
3. Domba berbulu serigala berhasil menggembalakan gembala.

Dan empat
Dan lima
Dan seterusnya…
Bukankah ini lucu, Kekasih?

Dan kali ini dupa membakar kami.
Semudah itukah?


Kelas-Scalabrinian, 16-10-2020

Anamnesis

Kita tak pernah duduk dan menjadi mabuk bersama
Agar kutuang darah busuk sejarah
Ke dalam piala-Mu
Dan aku ngakak
Mungkin saja, darah yang tertuang
Adalah darah-Mu.

Kita tak pernah bersua
Untuk sekali bercumbu
Tak pernah bersua
Agar kulumat bening bibir-Mu.

Kata mereka Kau seorang pegiat sastra.
Mencintaiku sebagai aktor ulung
Kisah-kisah singkat tulisan-Mu.

Pintaku, kapan pun itu!

Sebelum sampai dipenghujung kisah nanti
Kau luangkan waktu
Duduk dan mabuk bersamaku.

Usai itu, biarkan aku menangis
Mengenang segar darah-Mu
Agar dihalaman terakhir tulisan-Mu
Kau masih mencintaiku

  Kelas-Scalabrinian, 18-09-2020

Aku Bukan Pelukis

Aku tak tahu harus dari mana melukis-Mu,
Seakan sajak, gegas entah ke mana.

Aku tak tahu harus dari mana melukis-Mu,
Seakan puisi tak lagi mampu membahasakan indah-Mu

Aku tak tahu harus dari mana melukis-Mu,
Seakan pena tak lagi ingin menari untukku.

Aku tak tahu harus dari mana melukis-Mu,
Seperti ilusi, takan pernah puas mencintai-Mu
Hanya dalam kata.

Kekasih,
Kau lebih dari sekadar puisi
Harus dari mana aku melukismu?
Katakan!
Katakan saja!
“aku takan mampu melukis-Mu”

Iya, aku bukan pelukis!

Scalabrinian, 10-10-20

Kejahatan Yang Sempurna

Aku pada setapak sunyi dengan peringatan mereka,
“kembangnya tak boleh kupetik”
Bertalu setapak ini kugenangi air mata
Bermuara doa. Kekasih,
Tungkai kakiku rapuh
Acapkali bertengkar dengan perjalanan.

Aroma tubuhnya mengkhawatirkanku:
Seorang akan tergoda memetiknya,
Bukan aku!
Aku takut kalau-kalau
Aroma tubuhmu tak tercium lagi
Pada setapak,
Sunyi yang harus kulalui nanti.

Apakah ini kejahatan?

Jika tungkai kaki ini saling membunuh, kerapuhan
Total, dan aku tak mampu
Menapak setapak ini lagi.

Apakah ini kejahatan?
Jika aku menjadi acuh, tak peduli
Perihal jejak yang membekas di belakang
Menyadap aroma tubuhnya, dan
Kubuiarkan nyanyian air mata
Bermuara doa.

Tuhan,
Aku masih di sini
Di setapak ini
Masih termangu mungkin berhasrat :
Memetiknya
Agar tak senoktah pun aroma
Tubuhnya kubiarkan tercecer
Di sepanjang arah pulang.

Barangkali, Kekasih
Inilah kejahatan yang sempurna
Melanggar peringatan mereka, dan
Memetiknya.


Nita- Scalabrinian, 16-09-2020

Hans Penu, adalah mahasiswa STFK Ledalero, tinggal di Nita, Flores.

Advertisements

Advertisements

Advertisements