PARADE PUISI – Tentang Sebuah Doa

Advertisements

Teriring gemuruh bersama pagi yang sedang buta dan tuli, kami mengetuk pintu-Nya untuk mengecap setetes anggur dan roti tidak beragi sisa perjamuan malam yang ditinggal sang penghianat dengan tiga puluh keping perak.

KARYA: YONSI YOPADAR

Tentang Sebuah Doa

Hari ini kami memuji, mengelus dan meratap tentang sebuah kisah yang berakhir tragis.

Teriring gemuruh bersama pagi yang sedang buta dan tuli, kami mengetuk pintu-Nya untuk mengecap setetes anggur dan roti tidak beragi sisa perjamuan malam yang ditinggal sang penghianat dengan tiga puluh keping perak.

Kami kecap anggur lalu roti pun kami tinggal saat kembali ke tanah air Yerusalem kota surgawi.

Di bukit zaitun kami diutus untuk pergi bersua cerita bahwa “Tuhan memerlukannya” yang mudah, yang tertambat dan yang belum pernah ditunggangi. Itulah tentang kita yang tulus, murni dan bersih tanpa celah di hadapanNya.

Ledalero, 03 Oktober 2020

Cerita Anak Negeri

Suaranya tak ada lagi yang berkeliaran
saat waktu yang terlanjur tua dijemput sang pemilik usia,
pada keramaian seusai pesta demokrasi,
“Pesta para dewa yang selalu dikenang zaman”

Suaranya tak berani lagi berujar, saat waktu
ditelan senja dan pergi bersama hari,
lalu berziarah dalam dunia angan yang kata orang adalah gelap.

Suranya tak berani lagi berkata-kata, selain
Tangis duka karena rindu akan celoteh yang
Pernah terjadi saat negeri dibanjiri emas,
Saat negeri dipuja para raja.

Kini , kepadamu hai langit. Sampaikan duka ini
pada Dia yang telah mengukir negeri tentang
tingkah raja yang kini sedang menghianati negeri.

Ledalero, 03 Oktober 2020

Pergi Karena Diutus

/1/
Hri ini belum berhenti mengejar kami, akibat
dendam karena luka yang menusuk lambungnya.
Eloi-eloi ia menatap kami dari peraduannya pada sela-sela bukit.
“Kucari kalian dan kutikam bersama waktu” sabdanya dari peraduan.

/2/
Kami pun berlari, meninggalkan hangatnya ranjang
di saat selimut menjadi raja malam.
Mencari dia yang tersembunyi dalam gulungan kitab yang tak bertepi.
Lalu kami pun menatap sembari merangkak dan melantunkan nyanyian
kidung Zakaria tentang ziarah yang belum berakhir. Sekejap wajah yang berbinar menyapa
kami dengan berbisik pada jendela hati yang hendak dibuka.

/3/
“Mengapa kamu harus gelisah dan takut pada jalan itu?”.
“Jalanmu adalah jalanKu,
langkahmu adalah hembusan nafasKu,
biarlah kamu pergi menemui domba di tengah serigala,
karena bagiku kamu adalah jalanku”.

Ledalero, 03 Oktober 2020

Tentang malam Ini

Kita tahu bahwa
Hari ini telah berziarah
Meninggalkan kita dan terang lalu,
Bersahabat dengan mereka dalam gelap.
Itulah malam ini.

Ledalero, 03 Oktober 2020

Penyair Yonsi Yopadar adalah mahasiswa STFK Ledalero-Sikka, Flores

Advertisements

Advertisements

Advertisements