Parade Puisi Petrus Nandi dari Ledalero

Advertisements

…Setelah sekian jauh berlabuh
engkau pun tiba pada sebuah perhentian
saat denting denyut waktu
menjelma diam paling dahsyat
yang tak lain: adalah bahasa fajar
dan senja yang kaulewati
bersama sisa tua
dan surat kabar yang kusam…

Sapardi

Sulut gairahmu meramu kata di atas dada sajak manja
yang seksi
Anak-anak aksara terlahir dan melahirkan aksara-aksara
yang lain
Puisi membangun segunung makna pada singgasananya
yang teduh
Ada sejuta damai terekam dalam lembar-lembar buku
yang putih
Rahasia hidup bakal dinikmati anak-anak nusantara
yang lugu
Dan setiap letupan katamu itu sejukkan jiwa kawula muda
yang kalut
Ini negeri sudah saatnya kau rasuki gema puisimu
yang abadi.

Pantar, Agustus 2019.

Bertandang ke Kampung Halaman

Bertandang ke kampung halaman
aku disambut hamparan rumput hijau
dan sawah yang menguning
berpuluh kenangan menari
di atas pohon kemiri dan kopi
disaksikan matahari yang bertengger
di atas bukit kecil

Bertandang ke kampung halaman
kujumpai wajah-wajah yang berubah rupa
atap rumah yang berkarat
dinding kapela yang kusam
dan gedung sekolah yang menua:
masa bergulir tanpa kompromi

Bertandang ke kampung halaman
aku dijamu makan dan minum
yang itu-itu juga
tak ada yang luar biasa
tapi aku bersyukur pernah hidup dari sana

Bertandang ke kampung halaman
kudapati bibir-bibir lugu
lafalkan ayat-ayat kerinduan akan masa yang berubah
saat hidup ini menjadi sumber kenikmatan satu-satunya
saat alpa resah dan keluh anak-anak di rumah.
Ada berita apa di kota, Den?

Lembah Karmel, Januari 2020.

Sarang Kosong 1
:E.P. da Domez

Setelah sekian jauh berlabuh
engkau pun tiba pada sebuah perhentian
saat denting denyut waktu
menjelma diam paling dahsyat
yang tak lain: adalah bahasa fajar
dan senja yang kaulewati
bersama sice tua
dan surat kabar yang kusam.

BACA JUGA:  Pensiunan Guru Ajarkan Ilmu 'Ukur Badan' kepada Mantan Muridnya di Kamar Kos, Malah Kejang-Kejang Hingga Tewas

Kau yang sekarang, tidak lain sama sekali
dari setumpuk rupa masa lalu yang kian kaku
dan waktu pun menangis sekian jadi
saat langit berhenti bercerita tentangmu

Dunia toh selalu punya cara tuk mempercantik
serambi histori yang pernah terlukis di langit biru
oleh garis-garis telapak dan jemari masa mudamu

Tenanglah dulu di sini
malam sedang meramu mimpi
tuk mengajak engkau kembali ke rahim masa lalu
dan membuat langit tersenyum
oleh goresan-goresan itu

Tenanglah dulu di sini
nikmatilah mentari dan irama musim yang abadi
engkau sudah sampai di halaman dua puluh satu, bukan?

Puncak Scalabrini, Mei 2019.

Sarang Kosong 2

Sudah terlalu lama kau berjaga di sana, di antara materi yang
terpencar-pencar
dan sungguh tidak teratur. Sementara kursi roda yang kaududuki
sedang mengolok
ketakberdayaanmu sekian jadinya. Engkau seakan tak kuasa
membendung lamunan
yang terlampau liar: hidup tanpa waktu…waktu tanpa masa tua…
masa tua tanpa kesunyian…
sunyi tanpa luka… dan entahlah! Kauputar kembali cerita tentang
hari-hari yang lampau,
yang kaudapati hanyalah ingatan tentang masa kanak-kanak dan
remaja yang indah,
juga masa paruh baya saat pundakmu menjadi sandaran kokoh anak-
anak yang kini
membiarkanmu menanggung kesendirian itu. Di manakah mereka?
Kau enggan memberi jawab.
Setelah menimang sekian jauh, kau pun mengerti, mereka hanya ingin
mengingatkanmu
pada masa lalu yang nyaris kau lupa, saat lelaki tua itu kauabaikan
dengan entengnya.
Lalu kau sepakat dengan bayanganmu sendiri. Manusia ditakdirkan
untuk mencintai
luka yang dibawa sayap-sayap sunyi di hari tua, hidup ini.
Kaupun tersenyum
dan balada sunyi mengiringi detak jarum jam di samping
kursi rodamu.

Puncak Scalabrini, Maret 2020.

Petrus Nandi, lahir di Flores-NTT pada 30 Juli 1997. Selain puisi, ia juga giat menulis cerpen. Puisi-puisi dan cerpen-cerpennya pernah dimuat pada media-media cetak dan daring serta beberapa buku antologi puisi dan cerpen baik lokal maupun nasional. Saat ini ia menempuh pendidikan filsafat pada STFK Ledalero-Maumere, NTT.

Advertisements

Advertisements