PARADE PUISI – Perihal Mencintaimu

Advertisements

“…Mencintaimu serumpun puisi, yang rindu adalah syair yang tak akan pernah tanggal dari isi kepala…”

KARYA: ADRIAN BALU

Perihal Mencintaimu

Mencintaimu dalam diam adalah sebuah anugerah, yang kelak aku namainya luka.
Mencintaimu serupa dupa yang membubung rindu diatas kepala.
Mencintaimu selaras nada yang kadang minor dan mayor selalu bertengkar di tenggorokan.
Mencintaimu selalu, adalah rindu paling aduh yang tak pernah lekas sembuh.
Mencintaimu serumpun puisi, yang rindu adalah syair yang tak akan pernah tanggal dari isi kepala.
Dan terakhir, mencintaimu mesti menjelma abu, sebab nanti puisi-puisi ku mati kita masih tetap menyatu.

Gabriel, 2020

Perihal Setia

Dear Gabriella…
Jika mencintaimu adalah rasa yang paling lara, biarlah aku kekalkan rindu dalam doa yang tiada tara, biar sampai pada gendang telingamu.
Sebab cinta selalu patah pada rancak-rancak daun yang jatuh diempas angin.
Perihal Setia, jangan kau tanyakan pada Tuhan.
Mari duduklah denganku, biar kusuguhkan puisi yang ranum dari bibir, bahwa setia adalah rasa yang tiada mendua.
Sebab dalam hatimu telah kutemukan Tuhan yang setia mengamini puisi-puisiku.
Dalam pintaku, cukupkanlah setia mu pada Tuhan, selebihnya terserah padamu.
Sebab tak selamanya kecupan selalu berakhir dengan pengkhianatan.

Kuwu, 24 Desember 2019

Kenangan

Kemarin kita masih bercerita tentang hidup
Katamu hidup itu adalah tanya
Dan aku menganggapnya seru.
Hari ini kau berubah pikiran
Hidup itu takdir
Aku menamainya anugerah.
Seterusnya pikiranmu berubah
Dan aku masih tetap sama
Hidup itu kenangan yang mesti tergenang di kepala.
Jika pikiranmu masih berubah, itu berarti ada kenangan yang belum kau tuntaskan.
Kenangan mesti kau renang biar hatimu lebih tenang.
Dengan kenangan kau sedang merawat ingatan.
“Tentang sebuah gedung yang selalu buat genangan ingatan dikepala, dan bayangan itu masih belum dituntaskan”, katanya.

Gabriel, 2020

Luka

Kita adalah sepasang suka yang saling mencumbui rasa
Sepenggal kalimat mati yang saling bertumpang tindih
Seuntai doa yang saling merapal kata penuh rindu
Serumpun puisi yang saling bertengkar karena jarak
Dan kita adalah sebongkah luka yang saling sabit menyabit karena rasa terus menindih dan rindu yang terlampau jarak.
Kita itu luka.


Gabriel, 24 Oktober 2020

Penghujung Oktober Di Pantai

Oktober kali ini penuh deru
Anak-anak bermain seru
Sedang aku duduk cemburu.
Sudahlah tak usah cemberut
Pandanglah laut tak bertepi
Disitu kau akan temukan sepi.
Dipenghujung Oktober
Di pantai ini aku ingin menepi
Sembari merenungi kisah penuh kasih.
Barangkali, pantai pandai menyimpan sunyi.

Koka Beach, 31 Oktober 2020

Penyair Adrian Balu, sedang mengenyam pendidikan di STFK Ledalero. Saat ini tinggal di Unit Gabriel

Advertisements

Advertisements

Advertisements