PARADE PUISI Penyair Vian Tukan dari Ledalero

Advertisements

Penyair Vian Tukan, adalah mahasiswa STFK Ledalero-Maumere, Flores

ilustrasi

AMEN

Kemarin aku melihat dua orang anak kecil masuk ke dalam rumahmu dan duduk sambil mengatur waktumu yang berserakan di atas meja belajar sehabis hujan berpamit .katika senja mereka menemukan secarik kertas tulisan tanganmu tentang masa lalu  yang adalah hari penantian pada waktu yang telah mati
Ketika kau mendengar mereka membaca suratmu kau  memukul mereka dengan cambuk kata yang panjang sehingga mereka menjatuhkan air mata sunyi dan menghancurkan waktumu yang telah tersusun rapih pada meja kecil dan kemudian mengebaskan debu pada cambuk katamu yang adalah hasil amarahmu karena rasa kangen yang masih tenggelam.
Ketika malam kau menyuruh mereka mandi sehingga hilang dendam pada sore yang menjadikannya benci ,agar katamu dapat menjadi amen pada tidur malam nanti

PULANG

Hari ini ibu pulang setelah sekian lama mengukir hari yang dingin dengan kata-kata panas .ketika sampai di rumah ibu memberikan kepadaku hadiah segelas kata sayang yang dihiasi dengan rindu yang adalah pertanda rasa  kangen yang selama ini hilang .
Ketika ia memelukku mengalir  basah tanpa henti air mata .
Ibu pulang kenapa berulang kali harus memelukku
Katanya sayang kan sudah di sayang kenapa harus menangis
Lalu katanya maafkan ibu
Yang membiarkanmu tumbuh dengan rindu yang kaku pada hari hidupmu yang sunyi.

MAKAN

Mari nak ,ambil dan  makanlah semuanya telah tersediah di atas meja tua buatan ayahmu tempo dulu waktu kau merangkak dan menangis
Kenangkan itu sebagai peringatan akan ayahmu
Janganlah menangis melainkan tersenyumlah
Karena senyummu adalah doa paling sederhana untuknya .
Marilah nak, jangan menunggu waktu petang
Karena hari hidupmu masih jauh
Marilah nak ,  santaplah nanti  takut keburu basih yang menjadikanmu sakit

DOA

Di hari yang sederhana
Ku ucapkan selamat malam
Pada pagi yang lucu
Di hari yang sederhana
Ku ucapkan selamat malam pada siang yang kacau
Di hari yang sederhana
Ku ucapkan selamat malam pada sore yang tenang
Di hari yang sederhana
Ku titipkan amen pada sunyi
Yang menjadikannya dewasa.

RINDU

Kata ibu rindu itu mudah
Ketika kita masih duduk semeja pada malam
Tapi rindu itu berat bagiku
Ketika di lorong kota terdapat bangunan tua yang tidak menjanjikan bahagia karena jarak dan waktu
Tapi kata ibu
Sejauh apapun jarak kita selalu dekat seperti tinta pada kertas yang menjadikannya puisi

Advertisements

Advertisements