PARADE PUISI Penyair Rian Tap dari Ledalero

Advertisements

Penyair Rian Tap adalah pegiat sastera, tinggal di Ledalero-Maumere

KAUM PENJANJI

Masih sukakah tuan melihat
Bulir-bulir kaum kecil yang terjerit pada jepit.
Masih sanggupkah tuan mendengar dengus nafas saudaramu yang terkapar pada dunia.
Masih sanggupkah koar kau lantangkan, tanpa tuan lihat dan dengarkan teriakan kaum kusam.
Jelata hina yang tak kau pandang..
Aahhh…tuan… Janji mulukmu yang masih samar pada idelitimu.
Tuan…kau bungkam riak mereka yang menganga akan laparnya dunia dengan janji manis berbisamu.
Tuanku..kami butuh nasi untuk makan, kami bukan bulana demokrasi nasi yang tuan koarkan.

PEDULIKAH

Berderai membasuh wajah lusuh
Tak terbilang tergenang menderu lara.
Pada bait sepotong hati
Pilu….!
Bertahta pada rasa yang berkalung dalam doa.
Jejak pasrah tiap langkah.
Meniti dikesepian menanjakan diri.
Memohon lepas pada sendu yang terkungkung dalam lara.
Apa makna sejati diri, cerita usang tak terbilang.
Ketika waktu telah pergi.
Meninggalkan detik yang kesekian,
Menimang rasa, pada separuh usia dipersimpangan keabadian diri.

KEPADA T’T’UAN

Kepada sang tuan.
Ada rindu yang mengais hingga palung terdalam setiap Sukma.
Kemudian mengalah, sebab terjalin keborokan lara.
Ada memori yang kemudian menjelma tanya disetiap benak.
Tentang sang tuan,
biarkan kami meneguk dalam embun-Mu, bukan bias pada tuan-tuan berdasi, lalu merambat tak karuan pada isi dompet. kami hanya mendapat nama pada lara.
Teriakan kami tak terjawab.
Hanya kata yang meninabobokan rupa.
Untukmu sang tuan, kami rindu.!

SUNYI DIRI

Gugup berpasung rindu.
Menyuguh secuil sendu.
Berkias Bahasa hening pada sepi,
Menyama diri pada kegaduhan ronta.
Dibalik gemulia penyerahan diri pada malam.
Seluruh indra mencoba merapat,
Terjemah pesan lisan pada remang-remang lampu diskotik.
Betapa gigil bersenandung perih ditahan.
Dingin bukan semilir angin.
Bukan juga sisa ramai yang melembab.
Bias jadi karena jari berkelana pada raga.
Begitu nyaman bertahta,
Enggan beranjak menata gerak.
Ego tertawan aroma gerak,
Kian melata pada jarak tak tentu.
Nyata damba terjebak dalam siluman rancu.
Dihantam gelombang tunggu,
Pada Lorong-lorong meliuk cari temu
Mencari jalan terambas buntu.

KARIB SUNYI

Ruang sunyi berkarib
Iringi air mata
Asa tersemat gugur disapa gerimis,
Membias tetesan hujan menyapa.
Celotehan sang insan membujuk.
Menjatuhkan kecipak gigi,
Di bulir janji teringkari.
Rapuh ranting, jiwa mati.
Dikemas kenang, di peluk harap.
Kini rindu bertandang luka.
menoleh rasa ngilu menohok.
Jiwa di tikam pada perhelatan rasa.
Inikah salam pelangi asmara .
Kenang berlalu, tanpa saling milik.
Bersama hidup di pancar rasa.
Sirna pupus tak tersisa.
Sirna Bersama senja yang kehilangan jingga.
Menjadi abu, menjadi debu.
Ambruk pada musim yang sama.

Advertisements

Advertisements