PARADE PUISI Penyair Rey Baliate

Advertisements

Kelak, apabila kau dan aku
Diciptakan sebagai dua kalimat yang saling menyapa,
Sadarilah hal ini.
Rindu adalah kehilangan

Ruang Tunggu

Sebelum aku pergi
Aku ingin memberimu telinga
Agar kebodohanku dapat kau dengar.

Kau dimana ?

Tanya itu adalah percuma
Dari bibirku yang terlalu fana
Untuk menyebutmu cinta.
Sedari awal bertemu
Aku sadar, pertemuan ialah rencana perpisahan atau
Segala sesuatu berakhir kekurangan.

Pernah memilikimu berarti pernah menyakitiku.
Membuatku berada di ruang ini
Sejenak merasakan keras kopi
Lalu pergi tanpa berucap hati-hati jaga hati.

Aku lelah bermimpi di tidurmu
Mimpiku terlalu buruk
Untuk membuat matahari
Terbit dari sunyi keningmu
Biarlah hari ini , aku pergi dari tidurmu
Barangkali besok kau akan nyaman
Tak semalam denganku.

Kelak, apabila kau dan aku
Diciptakan sebagai dua kalimat yang saling menyapa,
Sadarilah hal ini.
Rindu adalah kehilangan

                                           (jogja,2019)

Meditasi

Kau duduk di depan pelataran
Menyaksikan tarian erotis lidahku,
Menghipnotis matamu.

Menambahkan satu dosa bagiku.
Mendinginkan api dalam tubuhku.

“Aku butuh kepalamu”. Bisikmu setelah
Darah memabukkan dirimu.

Seperti ganja, seluruh telingaku
Kecanduan rahasia.
Pun gerimis selalu kudengar sebagai dirimu.

Kau mendekatkan diri,
Mengecup diriku
Dan menyiksa tubuhku
Dan kita keras kepala.

                             (jogja,2019)

Bahasa

Cinta kami dan kita,
Selamanya sebuah monolog rahasia
Dari bahasa yang bebas berkeliaran
Di kepala.

Hanya kepala.

                                  (Jogja,2020)

Malam Minggu

Malam dan minggu adalah rindu.

Rindu melewati jalanan macet di kepalamu
Rindu berintik dalam matamu
Rindu memakai baju-bajumu
Rindu memainkan tanda tanya di bibirmu
Rindu sunyi di keningmu

Segala rindu adalah malam dan rindu,
Seperti mati dalam pepatah yang patah
Pada kitab sucimu.

                             (Jogja,2020)

Ketika jarak disahkan dan kita hanya berdiam
Di rumah sambil bermain kartu

Sebuah ambulans dengan kecepatan yang resah
Melantunkan nada requiem di telinga kita,
Tepat setelah hujan.
Tepat setelah kartu As dijatuhkan.

Kita yang duduk berhadapan
Memulai ritual bertatapan
Dan menduga-duga
; seseorang telah mati karena iman,
Siapa yang harus menjawab pertanyaan ?

Keesokan harinya, ketika kita berada di sebuah pasar
Sejenak membeli persediaan makanan,
Seorang perempuan tua berkerudung hitam
Memberikan wejangan : berhati-hatilah dalam
Mengeluarkan kartu sebab akan ada banyak
Kartu As yang menyediakan kekalahan.

Malam hari, setelah batang surya berhasil menyala
Kita melanjutkan permainan.
Sebuah ambulans dengan nada requiem
Mengetuk pintu telinga kita.
Lalu hujan dan kita mulai berfirasat.

Zaman menciptakan hujan dari sebuah kegilaan.

                                      (jogja,2020)

*) Penyair Rey Baliate, berasal dari Sumba namun dibesarkan di Kota Karang, Kupang. Ia adalah pencinta gelang dan kenangan. Saat ini berdomisili di Ruteng, Manggarai.

Advertisements

Advertisements

Advertisements