PARADE PUISI Penyair Hyan Godho dari Ledalero

Advertisements

Penyair Hyan Godho, orang Nage tulen yang suka makan holo seo (jagung goreng). Ia tinggal di Ritapiret dan sekarang sedang mengenyam pendidikan di STFK Ledalero. Jangan lupa untuk nongkrong di blognya: lokatuahg.blogspot.com, karena di sana puisi-puisinya berkeliaran.

PESTA

(kepada m)

Aku melihatmu sewaktu di pesta. Tarian-tarianmu sangat gemulai, hingga senyummu yang kuyup jatuh ke mataku malam itu. Mataku meleleh, ia pingsan seketika. Hatiku lah yang kemudian merangkul senyuman itu erat-erat. Ia ikat pakai puisi paling seksi di suatu malam bulan agustus, hingga kau pun terjerembab ke dalam puisi itu.
Lantas pada suatu pagi yang perawan sambil kau menyungging senyummu yang menawan, kau bilang begini, aku menyukai puisi-puisimu kaka. Manis sekali. Hehe terima kasih..

Agustus 20019

AKU BUKAN PENYAIR DARI SAJAK-SAJAK ITU

I.
Perihal ini disampaikan kemarau kepada awal agustus yang basah.
Dia bilang begini: air kata-kata yang mengalir secara diagonal itu bening sekali.
Kami melihatnya kemarin pada kertas-kertas yang kusut dan semerawut.
Tak dinyana yang hitam-hitam di atasnya adalah coretan yang sangat molek dan seksi.
Kata-katanya pun montok dan gemulai.
Barangkali tuan pernah menorehkan tinta di atasnya?

II.
Sajak-sajak itu nirtuan, barangkali..
celoteh senja, petang itu
kemudian mati ditenggelami rembulan.
Habisnya, hampir dini hari tidak ada seorang penyair pun
yang memungut kembali sajak-sajak itu ke dalam saku.
Kasihan kan anak orang atau puan-puan yang melihat sajak itu
Mengulum senyum mereka, kemudian menikur di tempat tidur,
Hingga kantuk yang subur pun layu kembali.

III.
Barangsiapa yang empunya sajak-sajak itu,
tolong dipungut kembali.
Karena kemarau yang rentan pun menjadi sejuk dan basah.
Jangan sampai anak orang atau puan-puan dibuatnya banjir keringat,
Lantaran mati kutuk ditikam sajak-sajak tak bertuan.

IV.
Jikalau kami menemukan siapa penyairnya,
Kami akan penjarakan penyair itu
ke dalam puisi-puisi paling sunyi.
Biar dia tahu penyair itu siapa dan sunyi itu bagaimana.

V.
Dan benar saja,
Pada hari kesekian bulan itu
Dalam sebuah sunyi yang sepoi-sepoi
sebuah bunyi yang berapi-api pun menculak.
Bunyi itu demikian:
Sajak-Sajak itu dilahirkan bukan dari siapa-siapa, bung.
Tetapi dari sebuah senyum yang disunyikan.
Hehe.. jadi maaf aku bukan penyair dari sajak-sajak itu.

September 2019

Advertisements

Advertisements