PARADE PUISI Penyair Er Diku dari Ledalero

Advertisements

Penyair Er (Rikard) Diku, lahir di Buubei-Ende, 07 Februari 1998. Mahasiswa STFK Ledalero. Penyuka sastra tinggal di unit Gabriel.

ZIARAH

Pada perhentian kesepuluh sebuah ziarah
Selepas keringat penuh membasahi tubuh
Di ujung emperan waktu suatu senja
Suara yang dulu bungkam kini berkoar- koar
“kuletakan ziarahku di pundak Negerimu!”
Negeri yang berkahi banyak sekali air mata dan darah

Untuk para bandit berdasi yang dahaga kuasa
Kuhidang segalas gerimis air mata anak-anakku
Yang selalu rengek meminta-minta
Celana yang sudah sobek dan kedodoran atau
Dasi kupu-kupu yang sudah mencekik leher
Mudah-mudahan ziarahku kali ini mendapati
Tuan-tuan mabuk kepayang oleh air mata
Dari gelasku yang hendak kosong

(2019)

 

JENDELA

seperti garis-garis gerimis pada kaca
antara embun dan air mata selalu menyimpan cahaya
: rahasia
di musim mana rintiknya menjadi pecah

(2019)

KENANGAN

Ketika mengatup kelopak mata dan bibir diam rapat-rapat
Kita adalah sepasang sunyi yang sedang menghafal rindu
Melafal doa dari bilik kalbu yang jauh nan teduh
Manakala memungut kisah di hari lalu

Kadang kenangan memaksa memasukan tangis ke dalam mata
Agar kita sadar selalu bahwa air mata adalah sukacita dan pedih yang tumpah
Hingga kita paham arti sebuah jarak yang sering dinyanyikan
Pada sebaris sepi

“semua sudah tuntas saat air mata penuh pasrah tumpah di sunyi-Mu”

(2018)

 

HUJAN

Pada suatu akhir pekan yang bebas
Aku memetik matahari di samping rumah Tuhan
Kemudian menaruhnya di atas meja dalam sebuah botol berisi hujan
Matahari selalu jujur mengusir inginku dari dingin hujan angin
Ia mengajariku untuk tabah dan tak mudah goyah
Merapalkan doa saat tajam hujanmu memanah tubuh
Kau mesti tak pernah lupa mengucap doa dari napasmu yang hangat
Sebelum dan sesudah hujan

(2018)

SOLUS

antara jalan dan debu menuju ke hulu
ada jeda di sela-sela doa. Sunyi
alasan pertanyaan-pertanyaan yang tak terselesaikan
mengapa?

(2019)

*solus (latin) : sendiri

Advertisements

 

Advertisements