Parade Puisi Penyair Er Diku dari Atambua

Advertisements

Er Diku adalah nama pena dari Penyair Rikard Diku. Saat ini bergiat di komunitas Sastra Kotak Sampah di Nenuk – Atambua. Ia sangat tergila-gila pada kopi dan puisi.

Jalan Salib 1

Di jalan menuju kalvari
kita memikul cinta dan mimpi-mimpi
lalu berhenti dalam perhentian-perhentian
sambil berlutut merapal doa
menyesali dosa dan menabur tobat
sebelum matahari menjadi terbenam
: usia kita berhenti pada perhentian yang entah

(Nenuk, 2019)

Doa

Sebelum kata amin di suatu ibadat usai
kau merapal doa di sela-sela sunyi
sambil mata terkatup bibir mengeja intensi
sebuah rindu yang panjang kepada Adonai
agar masih ada jumpa selepas pulang
biar rindu tak lekas kandas
“masih di sini, merangkai doa di antara hari-hari
yang tak utuh, Tuhan”

(Nenuk, 2019)

Rindu
: ‘S’

Barangkali rindu itu semcam debur ombak
Sering-sering buihnya yang basah mengecup pesisir hatimu yang damba
Barangkali.

(Nenuk, 2019)

Menunggu
__A

sebelum kangen jatuh dari ranum bibirmu
aku menjelma sunyi yang sederhana
(bisa menghitung seberapa banyak doa dan rindumu)
setelah bulir air mata serupa permata
kukalungkan di lehermu sebagai tanda
bahwa di antara waktu yang buru-buru dan rindu yang kepala batu
ada tunggu yang aduh.

Nenuk, 2019

Veronika

Depan penjahit di minggu pagi
kau membawa sepotong kain dan meminta :
“Bisakah membantu saya menjahit kain ini menjadi saputangan untuk menghapus air mata-Mu dan abu di bibirku?”

Nenuk, 2019

Lili(n)

Tubuhmu tiba-tiba luluh
dalam doaku yang bernyala-nyala

Kapel suci, 2019

Amin

Aku ingin menyimpan rindu dalam Tabernakel
di antara sunyi dan nyala lilin
biar jumpa selalu utuh sebelum menjelma
amin sebagai akhir dari doa-doa
yang diucapkan setelah ranum bibirmu
mengecup sunyi bibir-Ku tiap-tiap minggu

Nenuk, 2019

Advertisements

Advertisements