PARADE PUISI Penyair Carl Dagur dari Ledalero

Advertisements

Penyair Carl Dagur, adalah mahasiswa STFK Ledalero, Maumere-Flores

 

AREOPAGOS

Lelaki gagap bertampang kalap
nekat menggapai sanggul ibundanya,
sedang terpancang raganya di salah
pasak beranda kota Athena
Jalanan sepi, perih
bilur riuh penghakiman kemarin
menindih bekas tapak-tapak kakinya
pada kelam tatapan anak tangga

“Tampan namamu, pahlawan?”
walau katanya tanpa nama
semenjak kali pertama
menampar batok kepala dengan kata,
para perajam dirinya, lama lenyap
Bukan,
salahku yang pelupa,
ia seorang pahlawan gagap
yang saban hari kukenal wajahnya
kumal pada serban suci Bunda
Dicabiknya wajah itu dengan laras hidungnya
sambil sekali-kali menangis,
di depan bening mata
seorang anak dengan sekeping beling
di tangannya,
katanya, “Areopagos baruku.”

Ledalero, 25/10/2019

 

KAMBOJA UNTUK TEMAN

Merah kekuningan
lima helai mahkota Kamboja untuk sahabatku,
gamang jatuh kesiangan
tertatih menyusur masuk lewat jendela kamar
Aku yang tengah kutuk seorang tolan
yang tadi lesap pulang tanpa dekap
pasti ‘kan merajut
dan tak tertidur lagi

Maka engkau sahabat,
kutitip saja empat helai mahkota kamboja ini
lewat mimpi siang ini.
Semoga terdampar bahagia di telaga nadimu
bukan saja pada tapak-tapakmu.
Dan sehelai sisanya
kusemat kembali pada
tangkai kenangan kita.
Sebab,
mendengar serak desah tangismu
membuatku mafhum bahwa
perih butuh Tuhan dan surga
menampar kebal pelipis rinduku.

Ledalero, 25/10/2019

 

PELITA

Engkaukah itu, pelita
yang manis meronta pada sumbu
semenjak kami melingkar di hilir
bertengkar, apakah engkau itu memang,
Jelita?

Mengapa engkau itu,
begitu pekat menggeliat
di serambi gelap?
Bertandan bibir sudah kami saji
di atas meja tak bertaplak bening
“Semoga saja, kami bisa meminangmu
dengan uban para cenayang
di negeri kami.”
Pijarmu berjingkat
entah saat kami nekat bertanya:
“Ke mana jelitamu?”

Sebab hampir habis minyak pada kami
ketika hulu masih selekas mimpi
dan napas mereka bergegas.
Maka biar kelu beku bibirku
pun menujum: “Jaga pelita kita,
selagi mata mereka masih padam.”
Dan engkau, pelita
Jelitamu adalah kematian kami!

Ledalero, 26/10/2019

Advertisements

Advertisements