PARADE PUISI Penyair Carl Dagur dari Ledalero

Advertisements

AKU BELUM MERASA HUJAN

Miliaran molekul air dan tirisan kata
kita pecah mendedah tingkap-tingkap rindu
Namun gemawan pada langitnya
tak pernah memaklumkan:
“Aku merasa hujan!”

Maka sekali di persimpangan jalan
aku mengawasi rinai hujan
Ribuan air bening itu
memang selalu seputih hatimu
juga serumit arti diammu
Lihat! Mereka masih saja
hilir-mudik menguntit matamu
bak kargo merunduk di pucuk telunjuk Tuhan
Takluknya pada gemawan
selalu menjadi tanya yang saban hari
kucuri dari diammu.

“Mampirlah sebentar,”
Lenguhku merapal pada kelu bibirmu
Sebab tak ada yang akan menggantikan
taklukmu hujan pada hilir
selain harapku dan pandangan Tuhan
yang sejauh lautan abadi itu.
Temanggu aku pada tanya
ketika gontai parasmu melesak,
menepis manis persis cinta di hilir lautan baru.

Ledalero, 30/12/2019

PURNAMA MERAH JAMBU

Sedang malam belum sekelam wajan
tanpa sengaja
aku melihat purnama jatuh,
yang lalu kutemukan tak berdaya
terbenam di selokan tetangga pacarku

Andai tanpa malam, aku takkan paham
cinta dalam sekirbat timbamu
yang sempat kugenggam walau tanpa gagang.
Maka kuseruduk selembar bekas kulit permen lima ratusan
yang sempat kita kupas kemarin.
Kumandikan dengan peluhku
Purnama tanpa nama terbungkus sehabis
Berbinar. Terang. Indah.
Aku pun teringat akan seorang tolan
dengan purnama merah jambunya
yang tak kunjung pulang
ia susut dalam labirin hatinya
dan tersadar bahwa mentari tak terlalu rapuh
menepati janji bagi sejoli
di palungan kasmaran
yang saling bertukaran purnamanya dari sebungkus rindu
pada penghujung hari kemarin.

Ledalero, 30/12/2019

MIMPI DI PENGHUJUNG TAHUN

–Teruntuk bunda-

Kemarin, aku adalah serpihan impian
yang disematkan bunda pada kaki elang
ditatang ayah pada setiap kepak
dan menjelma dalam setiap tahi
saat paruh mematuk ajal yang lain.

Mimpiku tiba-tiba berkhayal
Entah ada apa hari esok.
Hanya karena itu,
Pupus benciku pada hujan,
sebelum mendung merinding.
Sirna marahku pada air mata
yang menggenangi petak kesunyianku
semenjak belia
tanpa hadirmu di sini.

Malam ini saja, bunda
biarkan mimpiku berkhayal
agar aku tak sendirian
mengakhiri tahun dengan kesal
tak hadir dengan wajah kusam
dalam setiap masam kata pisah kita
Sebab mimpiku selalu bertanya,
setiap kali kupeluk bayangmu
dengan selimut rindu
pasti waktu tak kunjung pulang.

Ledalero, 31/12/2019

Penyair Carl Dagur, mahasiswa STFK Ledalero. Tinggal di Ledalero

Advertisements

Advertisements