PARADE PUISI Penyair Bryan Lagaor dari Ledalero-Maumere

Advertisements

Penyair Bryan Lagaor berasal dari Lewuka-Lembata. Sekarang tinggal di Ledalero-Maumere. Kepada pembaca, ia titipkan: “salam kata sebagai yang sulung dari segala sesuatu kemudian terserah pada kata.”

SAJAK YANG LUPA DIBACA

Begitulah. Perihal aku tentu tidak tahu berbeda. Manusia itu juga aku. Asal kedatangan dan tujuan kepergianku tetap sama. Seperti mereka. Hanya saja ceritaku cukup berbeda.“Ya……..tetapi ingat!!!” Jangan memberiku Tanya! Jawab yang kamu butuh, pergi meninggalkanku dengan hanya lupa tertinggal buat menjawab sekian tanyamu. Nama saja terlanjut kulupakan. Seandainya tahuku pasti, kapan aku akan dilahirkan , pasti aku menitipkan pesan teruntuk Ibu agar tidak melahirkan aku yang sekarang.

Lalu tentang bagaimana aku mengguguri hari. Tidak ada nama satu haripun kutahu. Jelas bahwa sesuda subuh yang buta membuka mata pada pagi, aku dibangunkan embun. Membagi tawa pada burung yang seti menghiburku sembari menunggu mentari. Pada bunga aku menangis. Pada mereka yang dengan diam mendengar. Sunyi tak mengenal kata. Hanya aku yang mengerti bahasa diamnya mereka. Mendengar sunyi mereka. Terkadang mereka menyeka air mataku dan memungut sisa yang terlanjur tumpah berserakan pada jalan. Kemudian menyulamnya menjadi bantal pada tidurku beratap langit. Dan dingin malam menggigil menyelimutiku hingga tidurku tak selelap mereka di bawah atap rumah.

Ini sedikit aneh terutuk mereka dibilang berbeda denganku. Mereka memilih tertawa pada tangisku dan menangis pada tawaku. Melihatku dengan sepasang mata ketakutan. Sering anak kecil menangis mendengar namaku: disebut Ibunya “orang gila”. Juga saban hari , anak sekolah menghujaniku dengan batu lalu lari meninggalkan alat tulis yang sekarang kugunakan menulis sajak pertama sekaligus terakhir. Pikirku…….barangkali kami sama-sama gila. Aku gila menurut mereka dan mereka gila menurutku.

Masih dengan tubuh gemetar, aku coba menulis. Kedatipu mau tulis apa?? Untuk siapa kutulis? Dengan susah paya aku mengumpulkan kata-kata yang berserakan. Bagi mereka punya mata untuk tidak melihat. Telinga untuk tidak mendengar. Setidaknya punya lida melafal tulisan ini, dengan tidak tahu kusebut sajak. Supaya bisa tahu rinai rinduku untuk kembali seperti mereka. Namun sajak ini kuakhiri dahulu. Lantaran, aku mati…

Kuwu, November 2017

 

BELLA
(Buat seorang perempuan gadis, jauh di seberang)

\1\
Begini :
Kita sedang mengingat sekaligus lupa
Pernah kita jatuh cinta pada ceruk mata
Cinta sekarang sedang menjebak kita
seusai mengucapkan selamat jalan dengan tidak bermaksud saling menjebak dengan hati.

\2\
Bella..
Kalau aku mencuri hatimu, itu hanya bisa membuatmu tertawa sampai menangis
Namun tidak demikian, kendatidemikian engkau cukup paham apa yang membuat kita menangis bersama.

\3\
Bella…
Kita tidak sekedar jatuh cinta
Saya percaya engkau jauh lebih memehami sebagai seorang perempuan gadis

Kuwu, 14 Februari 2018

 

TUHAN PUNYA PUISI

Tuhan. Puisimu terlampau puitis
untuk kuanalisis
Bahkan bait terakhir membuatu berkelana
Mengais kepastian di halaman rumahMU
soal itu, aku menyebutnya misteri
Menjadi tidak pasti terus-menerus
Ahh…Tuhan!
Yang pasti, aku kata pada Puisi-Mu

Kuwu, Oktober 2018

 

HUJAN WAKTU ITU

Sudahlah..
Langit lebih tahu betapa ia ‘tak mampu
mengukur jarak jauhnya dengan bumi
Namun ia juga tahu
cara paling rahasia untuk melukis rinai rindunya
(Saya pikir kita semua tahu)
-dengan gerimis adalah hujan yang belum lebat atau jahu sebelum reda dan
menjadi berhenti

Medio April 2019

Advertisements

Advertisements