PARADE PUISI – Menggulung Waktu

Advertisements

Waktu tidak pernah mengerti itu
tapi, ia tabah dalam menyimpan semua rahasia semesta

KARYA: EFEN NULE

Menggulung Waktu
:sang waktu

Waktu yang tabah hanya bisa menghitung
Ia paham kalau jarak dan jarah yg aku panen adalah segala kuharap

Waktu tidak pernah tahu bagaimna hati bekerja
Ia juga tidak tahu bagaimna detik yg berdetak di jantung adalah musibah

Waktu tidak mengerti bagaimna seorang menangis diam-diam menggelepar begitu hebat

Waktu tidak pernah mengerti itu
tapi, ia tabah dalam menyimpan semua rahasia semesta

Waktu tidak mati ia juga tidak pernah musnah

Waktu yang abadi hanya waktu yg tidak bersikap kekanakkanakan

Waktu bisa melihat kertas yg kusam
di wajah ayah dan ibu

Waktu melihat sepasang merpati melindungi anak-anaknya di balik gubuk yang reyot

Waktu juga melihat cangkul yang tajam menggali akhir dari memerdekaan hidup

Kupang, 2020

Musim Puisi

Musim puisi telah tiba
bait-bait akan kehilangan tempat tinggal
tinta pada pena akan meluap menjadi pusaran kata maha indah
sedangkan buku-buku siap menampung kicauan puisi yang dingin

Musim puisi telah tiba
kedai kopi milik sunyi kembali ramai dengan risau
jalanan licin menjadi ruang bagi bayangan bulan
sedangkan halte-halte akan mununggu rindu pulang.

Musim puisi telah tiba
beberapa dingin akan menjelma kamu

Unika, Oktober 2020

Bapak

Bapak yang sedang lelah
memikul doa-doa limpah
ketika keluar dari ibu tanah
Ibu yang letih ketika hujan melimpah
di sudut airmatamu

Tunbaba, 2020

Di Bahumu-Jalanku.

Di bahu-bahu jalan, doa yang khusuk bertabur takut menunggu angkot untuk pulang. “Siapa yang lebih tabah dari jalan yang sunyi”.
Di bahu-bahu jalan, banyak rindu yang terlepas liar. Milik siapa rindu-rindu lepas ini”.
Di bahu-bahu jalan, ada gubuk penuh kopi yang lembab. “Untuk siapa pahit ini nanti”.

Kupang, 2020

Belakang Rumah

Di belakang rumah, sajak-sajak ini bersembunyi bermain petak umpet
Mereka saling menyembunyikan perihal hilang yang paling takut.
Di belakang rumah juga ada ayah yang sedang bersembunyi karena ia takut
Tanpa alasan

Di belakang rumah sangat ramai ketika magrib tiba
Banyak sajak yang lelah dan terbaring penuh dahaga
Ibu-ibu pulang dari ladang membawa doa-doa yang mereka peluk dengan tangis yang mencekam
Ayah yang lelah bersembunyi seharian juga pulang sambil mengatub takut di dada.

Di belakang rumah banyak sekali kepulangan, ketakutan, dan sajak.

Kupang, 2020

Efen Nule adalah salah satu mahasiswa aktif yang juga menggemari dunia tulis menulis. Asal dari Tuamese, Tunbaba-TTU. Sekarang tinggal di Seminari Tinggi St. Mikhael, Kota Kupang.

Advertisements

Advertisements

Advertisements