Parade Puisi – Luna

Advertisements

KARYA: EPI MUDA

“…Adalah sinar luna dalam balutan sendu
Dan selalu bernarasi tentang puisi yang selalu jatuh di akhir pekan
…”

Luna

Malam terus bertingkah dengan leluasa
Di atas langit ada seberkas rahasia sedang menawar rindu
Luna kian bersinar menerawang tembus dalam dada
Meninggalkan luka yang terus bernana
Di batas akhir waktu air mata selalu memendam sakit
Adalah sinar luna dalam balutan sendu
Dan selalu bernarasi tentang puisi yang selalu jatuh di akhir pekan.

Unit Gabriel, 20/01/21

Jendela Kamar

Malam penuh utopia. Mungkin. Atau penuh duri.
(terserah)

Jendela kamar tebarkan pilu
Tangan tak segan meraih luka dalam buritan sendu
Waktu mudik tersenyum
Sketsa wajah luna membawa air mata
Sedangkan angin terus mengabarkan sakit tak berujung

“Akh…sakit.”

Riwayat malam kelam berserakan
Dan hujan kembali membasahi selimut lewat celah jendela kamar
Aku masih susun doa dalam kepala
Lalu dan letih serta cemburu mengiakan

“Apa niatmu kedepannya? Jawabku adalah tak telat doa dan komitmen setiap
kali senja mengabarkanku tentang waktu dan kesempatan.”

Unit Gabriel, 20/01/21

Membaca Kitab Suci

Malam sunyi adalah rindu yang telat menyampaikan lelah
Mata kian ngantuk
Keuntungan lari sebelum niat bersetubuh dengan akhir hidup
Dan pundi-pundi akhir hidup harus diisi
Sedangkan Januari dingin. Aku menggigil lelah. Apalagi bosan.

“ lebih baik aku tidur memeluk dingin”

Ternyata dingin itu mengundang luka
Luka nostalgia. Mungkin putus cinta atau apalah.

Sedikit lagi malam menjatuhkan mimpi
Rintik hujan di luar sana tak telat untuk mencabik bekas luka
Rasanya butiran air hujan sedang menangis
hingga menyadarkanku untuk waktu yang hampir punah.

Di pojok doa, kitab suci terbuka
dan suara halus memanggil tegas

“Tolle-lege (ambilah-bacalah)”

Ingatan kembali menjeput

“Sial, aku lupa mengawali tidur malamku dengan membaca
kitab suci”

Unit Gabriel, 20/01/21

Cinta yang Ikhlas Seorang Ibu

Kepada yang selalu setia dalam kehidupan
Menjadi diri seorang ibu adalah tentang mimpi
di saat subuh
sebelum klimaks mimpi tumpah dalam secangkir kopi
dan si jago berkokok menyapa rindu datangnya waktu pagi

Di depan mata ada tarian menari menyambut cinta
dalam dekapan sukacita
Karena pekerjaan itu adalah kidung indah yang selalu
berkidung untuk berkelahi dengan asap api

Demi sebuah cinta yang utuh
Raga menjadi korban tanpa kenal lelah
dan rindu akan sebuah keharmonisan

Setelah kesekian kalinya beradu pandang
dengan tungku api dan periuk

Kepada yang selalu menuliskan kisah di setiap asap api
Menjadi petaka subuh adalah menafsir angan dengan kesetiaan penuh

Dan itu merupakan serpihan cinta tak lekas pergi
sebelum mata menutup lembaran cinta
dengan sebuah kematian yang menyakitkan

Unit Gabriel, 12/01/21

Penyair Epi Muda, Mahasiswa STFK Ledalero. Penulis sekarang berdomisili di biara SVD unit Gabriel. Penulis sering menulis dan tulisannya terbit di berbagai media dan majalah serta koran. Penulis berminat membaca dan menulis sejak SMA hingga saat ini.

Advertisements

Advertisements