PARADE PUISI Karya Richard Diku – Completorium

Advertisements

Malam sudah jatuh di atap kapela
Keduabelas rasul bergegas mengusir lebah dalam kepala

Ulang Tahun

— Stephani Editha Gustamawati —

Stephani, di sepanjang hari-hari, waktu seperti berjalan sendiri
diri kita adalah angka-angka pada lingkaran jam dinding
paling-paling dilewati tanpa kau harus mengajak berhenti
seperti mengingini sunyi oleh detak jantung waktu detik demi detik
adalah kau dan kalender merencanakan tanggal lahirmu
: pada hari keempat medio Agustus
ulang tahun menjadi jeda yang lama untuk bernostalgia dengan kenangan
kangen menyalakan lilin dan meminta rejeki
kemudian meniup-niup wangi doa sebelum merayakan dengan secangkir kopi
Stephani, berjalanlah mengejar apa yang kau cari
meski kau ke sana dan aku ke sini
tapi di sini tetap ada doa-doa untukmu sebagai dua sayap menerbangkan mimpi
hari-hari ini akan terasa singkat semoga cinta selalu tangkas
selamat menghitung usia sepanjang ziarah menuju entah
percayalah semesta dan Tuhan memelukmu erat-erat
Stephani…
(Tuhan jaga)

(2020)

Completorium

Malam sudah jatuh di atap kapela
Keduabelas rasul bergegas mengusir lebah dalam kepala

Doa dan mazmur dari Daud bersahutan menghantar hari ke pembaringan
Malaikat-malaikat siap berjaga melapangkan jalan bagi mimpi

Seperti menyudahi kegaduhan di sepanjang pagi hingga petang
Mengatup mata malam adalah ziarah tak sudah-sudah menuju tubuh

Sebelum ada kidung paling nyaring dari Daud mengiring kecemasanmu
Lalu kau terbiasa memeluk dirimu sendiri

: di tepi sungai Babel aku duduk sambil menangis

(Ledalero, 2020)

Membaca Cuaca

adalah angin menggelepar di atas kertas
deras hujan kemudian menggenangi kenangan
kangen tiba-tiba tumbuh di dada
doa-doa kecil semesta menjelma kita

Ledalero, 2020

Ingatan

di hadapan cuaca yang kerap menyimpan rahasia
kau berkaca sambil tertawa lalu berbicara
dengan dirimu yang bukan aku di seberang
dering telepon tidak pernah kau jawab untuk alasan
menunda-nunda percakapan
dan aku masih setia menghitung juga menghafal beberapa kali
(mudah-mudahan tidak sampai tujuh puluh kali tujuh kali)
nadi dan nada belajar menjadi tabah untuk tiap-tiap kesibukanmu
dan kesabaranku yang terlalu
setelah deru rindu pada dada diabaikan kemudian meninggalkan ngilu
ada seekor merpati dari tukang pos terbang bebas dalam kepala saya
sayap ada yang patah tetapi sukar untuk menyerah mengepak ingatan
sebab berabad-abad lamanya setia paling purba adalah terluka demi cinta
“maaf, duri ada di matamu sebab masa lalu kita seperti ranjau!”

Aduh.

Ledalero, 2020

(Rikard Diku, Mahasisiwa Filsafat di STFK Ledalero, Maumere-NTT. Lahir pada 7 Februari 1999. Beberapa cerpen dan puisinya tersiar di beberapa Koran juga media daring juga dibukukan dalam beberapa buku Antologi).

Advertisements

Advertisements

Advertisements