PARADE PUISI Alex Sehatang

Advertisements

GURATAN

Lamunan itu membuatmu melucuti sutra yang meringis kesakitan karena telah kronis di dalam nista.

Aku bukan Adam atau Hawa yang dimayakan oleh ular untuk mencecap ranumnya buah pohon tak bernama.
Toh, aku hanya menceburkan diri ini pada liang spekulasi nalar.
Apakah itu durjana dari histori sakral kejadian 3:1-24?
Apakah itu membuatku layak berteka-teki dengan keintiman nalar?

Engkau menepis teduhku.
Itu cinta?
Tidak samasekali.

Mungkin, agar paham tentang cintamu aku harus melayakkan diri untuk dilucuti, dikuliti, dicibiri, dipatahi atau dikremasi menjadi debu.

Hehehe..
Mencintaimu adalah meliangkan tubuh untuk dipaku.

Agh..
Haruskah?

Kaki dian masih ada ditengkukku.
Obor itu tidak redup hanya merayuku untuk peka.

Ledalero, 03 Desember 2019

WANITA PERTAPA

‘iifa… /

Untuk apa kamu bersua sisimu acuh untuk mengiyakan dikte-Ku?
Seperti itukah kamu sehingga dimayakan padahal Bapa mengintip dari singgasana?
Kamu sudah menjadi rusuk yang dititip ke sela-sela kulit sebelum cawat menutupnya akibat mencecap ranum buah tak bernama.
Sekarang perangaimu membuka dilema tentang bagaimana menjadi bajik dan seperti apa itu jijik.
Telah menyuguhkan Iyamu pada seonggok tanya.

Ledalero, 19 November 2019

Sarai…/

Penantian hampir menjadi uban yang menuntut rahim untuk memaki ketamakan zaman hingga menjejalkan kematangan usia dengan liangnya kubur di bawah laburan sesal bak pemungut cukai yang melukai bahagia bait pencipta dengan tangis;
Padahal biasnya mata sedang mewahyuhkan cahaya pada sudut-sudut rahimmu yang menyimpan seburat janji.

//

Apakah dengan penantian yang sudah terkesan mensiniskan kemarau hingga hujan perlu membutakan sukma ini untuk sekalilagi menepi dan menanti?
Tanya pada bait pencipta!

///

Aku terpaksa harus mencerukkan penalaran ini pada kehendaknya yang terkadang memicu amarah dan akupun terkadang musti membentangkan keberangan yang terkadang juga memanggil gertak.

///

Ini karna aksara bibir sarai yang aku pungut dari gelas teduh kemarin sore.

Ledalero, 20 November 2019

Maryam… /

Istimewakah kamu sehingga gubin selasar dicecap tanya?
Untuk apa kamu di bawah tekuknya?
Apakah meminta dua ikan atau mengharapkan tilammu penuh anggur?
Dia melayangkan titik ditanyamu ketika wajah polos menjadi sulur yang mistik sedangkan terpaksa sedarahmu melegalkan piamanya untuk dilukis peluh.
Kamu terberkati bukan hanya muruah atau bahkan bukan karena emanasimu.
Lebih dari itu, bias di janinmu.
Walapun nanti teduhmu pecah di palang penghinaan.

Ledalero, 21 November 2019

Marithaan… /

Mungkinkah aksara itu masih tergontai di ujung telapak?
Telapak yang masih memelas-Nya untuk mencerukkan bilur pada cemasmu atau mencibir sedarahmu yang sembari menatap-Nya sekalipun terngiang-ngiang cemburu melawatnya.
Pelipismu tercurah peluh, itu cukup ?
Mengeja nyaman dari bibir-Nya mengoyak sinismu atas asin yang mungkin asam atau manis yang terpaksa pahit.
Sebab latung hampir terusai dikoyak bara.

Ledalero, 22 November 2019

Maghdalyna… /

Takutmu ku kira hanya teka-teki karena sorak mereka sampe di kuduk saat tuaianmu terlukis pada dinding ratapan.
Sekurbankah itu sehingga menghalalkan keintimanmu atau menyamankan duka digaris wajah?
Perihal, kurbanmu menghadirkan rapuh bagimu dan najis dari mereka.
Tapi, mezbah lebih memilih dua dinar si janda ketimbang si kaya yang takut bersembunyi di jendela papah.
Kamu itu si janda dan mereka itu si kaya.
Mungkin atau sebaliknya.
Ingatlah kalau Ayah tetap sudi anaknya bersahabat pada sisa kenajisan.

Ledalero, 23 November 2019

Firunika… /

Kerapuhan menyekat waktu terikmu kemarin manakala penyesalan mengering kuyu di pelupuk.
Peristiwa kain dan habel seperti dipentaskan kembali di jemari pilatus atau hanya guratan Herodes yang menyewa bilah untuk bertemu di tengkuk bayi-bayi tak bernoda.
Bukankah cakapmu membuat darah ini terpaut pada sutra kusam yang merekat sepersekian detik pada kerelaan-Ku.
Masih engkau simpan?
Sebab, remang sesuntuk apapun jangan membawanya kepada suram.

Ledalero, 24 November 2019

Ohola_&_Oholiba

Tadinya aku hendak menepi guna melukis kepekaan ini pada kisah semalam suntuk.
Ia..
Kemarin malam aku hampir saja dicekik munafiknya cinta yang selalu dan selalu saja membias pada suram tetapi tak seseram celotehku.
Aku berpikir bahwa cinta itu pemalu..
Ia..
Ia tidak mencondongkan dadanya untuk berkata pada terik ” aku akan berkisah siang ini “.
Hahahha..
Keangkuhan yang sia-sia.
Toh, itu kepalsuannya.
Bagian dari skenarionya untuk berlagak dengan telanjang kaki menunggu malam dan kembali lagi merangkai kemunafikannya dengan telanjang tubuh.
///

Ough…
Selalu saja orang hanya berani mengungkapkan cinta saat malam selagi langit cuma menempatkan mata kecilnya untuk melihat hirup-pikuk yang dimayakan cinta.
Haha…
Mungkin supaya oranglain tahu kalau dengan malam kulit yang berpaut pada kulit yanglain akan tidak terlihat peluhnya akibat dicumbui rasa diam akibat takut.

Atau ungkapanku ini hanya spekulasi belaka?
Pasti pikirmu ini karena perangaiku..
Haha…
Ini sama persis dengan bisik dering 06.00 pada subuh kemarin yang meneriakan kalau kebingunganku malam kemarin berbekas pada darah yang tertumpah di atas semak duri samping pondok tetangga!!
///

Kembali lagi aku katakan kalau cinta itu pemalu.
Haha…
Ini aku baca dari debu yang diukir pada bias saat terik tunduk dan tekuk untuk diijinkan menumpahkan liur pada bibir 24 jam tanpa henti supaya dapat menyadarkan cinta kalau dengan terikpun ia dapat mekar.
Sebab kemunafikan adalah cara membunuh paling sempurna tubuh keyakinan.
Hahaha…
Akibat cinta.

Ledalero, 25 November 2019

Fr. Alex Sir Sehatang, SVD
Mahasiswa Filsafat Katolik Ledalero
Alumni SMA Seminari St. Rafael Oepoi-Kupang
e-mail: sehatangalex@gmail.com
Nomor hp: 082330293007
Alamat: Biara St. Paulus RT 013/ RW 006 Kec. Nita Ledalero-Maumere, NTT

Advertisements

Advertisements

Advertisements