OPINI: Urgensi Sumpah Pemuda Dalam Perspektif Kaum Milenial (Menyoroti Tawuran Antarpelajar Sebagai Dekadensi Pendidikan)

Advertisements

Oleh : Rikard Diku, anggota Kelompok Menulis Koran (KMK) ledalero,  tinggal di Unit Gabriel

Tawuran lahir karena orang muda masih memiliki ego yakni ingin mencapai tujuan masing-masing meski hal semacam ini amat tidak terpuji apalagi anak muda yang mempunyai pendidikan. Pendidikan yang ada mesti menjadikan orang merasa nyaman dan aman bukan ikut mencemari semangat para pemuda (sumpah pemuda). Orang-orang milenial dalam melihat sumpah pemuda seyogyianya memantik motivasi kaum muda lainnya untuk menyatukan tekad mencapai tujuan yang sama sehingga pada akhirnya orang-orang muda bisa dengan lantang dan mantap mengejawantahkan spirit atau nilai-nilai positif dari sumpah pemuda.

Ilustrasi

MEMBACA judul tulisan di atas, kita akan menemukan pokok pemikiran penting yakni sumpah pemuda dan pendidikan sebab pembicaraan tentang dunia pendidikan secara substansial dan fundamental tidak bisa terlepas dari pembicaraan tentang manusia yang menjadi subyek dan sekaligus obyek dari pendidikan itu sendiri. Dalam tulisan ini orang muda menjadi bagian penting dan integral dalam berbagai aktivitas pendidikan.

Dari judul tersebut yang menjadi landasan tulisan ini lebih merujuk pada spirit sumpah pemuda yang tertular pada orang-orang milenial. Perspektif kaum milenial dalam urgensi sumpah pemuda dengan menyoroti kasus yang cukup santer tentang tawuran antarpelajar tentu memilukan serempak memalukan dunia pendidikan di negeri ini.

Tidak terbantahkan soal tawuran ini menyita perhatian publik lebih lagi para akademisi untuk menyingkap bagaimana persoalan ini bisa mencuat ke permukaan orang-orang terdidik. Pendidikan yang sebenarnya adalah kegiatan manusia (actus humanus) yang menegaskan kemanusiaan manusia direduksi dengan maraknya tindakan yang ‘melukai’ makna pendidikan itu sendiri.

Penulis melihat tawuran antarpelajar sebagai dekadensi pendidikan juga terlepas dari masih banyaknya kasus-kasus yang tidak kalah seru di kalangan orang muda dalam pentas kehidupan. Lebih jauh tulisan ini mau menyadarkan kaum muda (milenial) yang hidup di era digital untuk belajar dari dan dalam sejarah (sumpah pemuda) juga kembali merenungkan etos kerja serta semangat para pemuda sebelum kemerdekaan dalam mencatat dan merumuskan sejarah kebangsaan yang merupakan suatu peristiwa terpenting dalam sejarah terbentuknya sebuah bangsa yakni sumpah pemuda 28 Oktober 1928.

Bahwasannya kumpulan para pemuda yang memiliki kesadaran bersama tentang masa depan bangsa ini dengan semangat berkobar dan punya visi yang jelas membuka suara demi tercapainya keinginan bersama yakni sebuah bangsa yang punya martabat. Di sini spirit pemuda menjadi ‘roh’ yang menghembuskan angin segar kemerdekaan. Sehingga nampak jelas bahwa sumpah pemuda adalah puncak pengakuan dalam usaha yang satu, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, yaitu indonesia.

Menyoroti kasus tawuran antarpelajar yang marak terjadi dalam relevansinya dengan sumpah pemuda, kita mesti berpikir dan melihat lebih jauh tentang ‘kepemudaaan’ orang-orang muda di era yang banyak disuguhi dengan tawararan-tawaran instan yang justeru banyak bermuara pada tindakan-tindakan destruktif. Kita patut melihat hal ini sebagai sebuah kemerosotan dari nilai-nilai perjuangan para pemuda sebelum kemerdekaan atau spirit nasionalisme para pemuda untuk memerdekakan Indonesia dari belenggu penjajahan.

Tawuran antarpelajar, sebuah dekadensi pendidikan (?)
G.W.F.Hegel (1730-1831) dan Karl Markx (1818-1883) adalah dua orang filsuf modern berkebangsaan Jerman yang sama-sama baik secara eksplisit maupun implisit, dalam teorinya berupaya menegaskan keberadaan seorang anak manusia di tengah dunianya (pendidikan). Dalam teori kedua filsuf ini membicarakan hal yang sama yakni tentang pembelajaran dan pendidikan manusia di muka bumi ini.

Menurut mereka kehidupan manusia semakin memberi arti apabila berjalan secara dialektis. Dengan demikian tujuan dialetika yaitu perwujudan dan pengejahwantahan diri manusia menjadi tujuan dan sarana yang konkret. Bertolak dari pandangan kedua filsuf tentang iklim pendidikan yang humanis, di negeri ini malah sering menghadapi persoalan pendidikan yakni tawuran antarpelajar yang berujung pada permusuhan dan tumbuhnya sekat pemisah antargolongan dan dalam hal ini primordialisme makin kental.

Harian Kompas (26/10/2019) menurunkan berita tentang Tim Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta meringkus tiga orang pelajar terkait tawuran di kawasan Bongkaran, Tanah Abang juga tak kalah seruh peristiwa tawuran yang terjadi di Jawa, bogor, depok, tangerang dan bekasi (jabodetabek) yang meresahkan warga, siswa dan para guru. Untuk ukuran di NTT, peristiwa semacam ini kerap terjadi dan kejadiannya malah lebih tragis.

Misalnya, Tim Satuan Reserse Kriminal Polres Ende berhasil mengamankan belasan pelajar yang melakukan aksi pengeroyokan dan perampasan Handhphone dan laptop milik warga di wilayah kabupaten Ende, Rabu (28/09/2019) lalu (Tribratanewsntt.com).

Kejadian seperti ini menjadi masalah serius yang meski ditangani lebih jauh sebab centrum dari problem ini langsung timbul dari para pelajar yang adalah generasi masa depan bangsa atau detak jantung dari bangsa yang secara eksplisit mencerminkan laju pendidikan di Negeri tercinta ini. Ironisnya, dari tawuran yang kerap terjadi paling banyak justeru disebabkan karena masyarakat dewasa ini -orang milenial- makin tengggelam dalam permukaan gawatnya bergawai sehingga tidak mengherankan bila ada yang mengatakan era milenial atau lebih lagi orang-orang generasi z adalah mereka yang amat konsumtif dalam mencapai sesuatu.

Tak bisa dielak juga bahwa perkembangan media sosial yang semakin menggurita membuat generasi muda lebih sering menjauh dari tindakan konstruktif sebagaimana para pemuda yang dengan lantang mengucapkan sumpah untuk bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu : INDONESIA (dalam Montavanny Tapung, 2017:11).

Patut diteladani sikap semangat berdarah-darah dari sumpah pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan yang penuh dan utuh. Di lain sisi kemajuan pendidikan juga timbul dari perkembangan media hanya saja bagaimana proyeksi dari kaum milenial untuk tidak serta merta menjadi hamba atas semua perkembangan yang terjadi tetapi meski menjadi tuan atas perkembangan itu.

Problem tawuran antarpelajar sebenarnya mencerminkan bahwa nilai pendidikan itu sudah mulai tergerus oleh arus zaman di mana pendidikan yang sebenarnya harus bermakna eksistensial bagi kehidupan manusia ‘dinodai’ oleh aksi kaum muda yang secara implisit membangun jurang pemisah dan permusuhan antarsesama. Hal ini tentu amat bertolak belakang dengan pernyataan Marx di mana pendidikan harus dijalankan secara sosial dan bertujuan untuk memupuk rasa sosial dalam diri peserta didik. Orang muda meski diarahkan untuk hidup bersama dengan orang lain (ens sociale) dan membangun kehidupan sosial bersama dengan orang lain (learn to live togheter).

Semangat sumpah pemuda seakan telah mati di tengah maraknya persoalan yang dilakukan kawula muda. Orang-orang milenial sudah banyak mengalami ‘gangguan jiwa’ akibat kecanduan gawai. Hal ini secara tidak langsung mencerminkan peran orang muda yang masih jauh dari semangat sumpah pemuda dan juga peristiwa tawuran antarpelajar yang melibatkan orang-orang yang terdidik telah membuktikan dekadensi pendidikan di negeri tercinta ini.

Lantas kita patut bertanya, ketika sistem pendidikan terus-menerus diperbaharui dan diperbaiki, mengapa tawuran terjadi dari waktu ke waktu dan bahkan berujung pada kematian? Tepatnya di manakah letak peran orangtua, pendidik, masyarakat dan pemerintah?

Semangat sumpah pemuda (harus) lahir dalam diri orang-orang muda
Tidak cukup hanya menyatakan diri sebagai pemuda jika pada galibnya sikap dan tindakan dalam praksis hidup amat bertolakbelakang dengan semangat para pemuda sebelum kemerdekaan (sumpah pemuda 28 oktober 1928). Sumpah pemuda adalah momen menyatukan tekad untuk tujuan yang sama yakni kemerdekaan. Orang muda zaman ini meski lebih banyak menanam sikap perjuangan dalam diri agar kehadirannya tidak hanya sebagai penghambat pertumbuhan dan perkembangan dalam hidup tetapi menjadi cerminan dari semangat sumpah pemuda.

Tawuran lahir karena orang muda masih memiliki ego yakni ingin mencapai tujuan masing-masing meski hal semacam ini amat tidak terpuji apalagi anak muda yang mempunyai pendidikan. Pendidikan yang ada mesti menjadikan orang merasa nyaman dan aman bukan ikut mencemari semangat para pemuda (sumpah pemuda). Orang-orang milenial dalam melihat sumpah pemuda seyogyianya memantik motivasi kaum muda lainnya untuk menyatukan tekad mencapai tujuan yang sama sehingga pada akhirnya orang-orang muda bisa dengan lantang dan mantap mengejawantahkan spirit atau nilai-nilai positif dari sumpah pemuda.

Di penghujung tulisan ini, penulis hanya mau menegaskan bahwa orang muda adalah detak jantungnya bangsa maka meski adanya spirit untuk bisa berjuang mengkritisi dan mengatasi semua problem yang sering muncul apalagi bersinggung langsung dengan dunia pendidikan. Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda semoga bara semangat tetap brenyala-nyala di dada kita. (***)

Advertisements

 

Advertisements