OPINI – Problematik Lahirnya Akronim dan Term Asing dari Pandemik Covid-19 Bagi Sistem Kebahasaan Bahasa Indonesia

Advertisements

Oleh Alex Sehatang

“Intensi yang memotivasi sebagian orang untuk mencampuradukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing dan mengakronimkan bahasa indonesia ialah supaya terlihat “keren” atau “internasionalisasi” diri dengan bahasa modern”

          Sepenggal kalimat dari Muchtar Buchori dalam buku Pendidikan Antisipatoris menjadi bahan penting dari problem di dunia pendidikan dewasa ini “setiap sistem pendidikan yang sehat selalu berusaha memahami zamannya dan berusaha pula memenuhi tuntutan-tuntutannya.” Dalam keseharian hidup kita selalu dihadapkan dengan berbagai macam bentuk pembelajaran, entah itu melalui ruang formal atau informal. Bentuk-bentuk pembelajaran dipahami sebagai pintu masuk menuju ruang yang tidak terbatas yakni ilmu pengetahuan. Ilmu yang baik menuntut kita untuk secara bijak membaca tanda-tanda zaman dan memenuhi setiap tuntutannya. Setiap cabang ilmu yang dipelajari memiliki ciri khas yang menjadi identitas dari ilmu tersebut. Ilmu alam dengan identitasnnya, ekonomi, politik, industri, filsafat, agama dan sebagainya. Ilmu-ilmu itu membawa siapa saja yang menjadi muridnya untuk mengenal, memahami dan menghidupi secara sistematis sesuai dengan roh yang keluar melalui pembelajarannya.

            Dalam kasus tertentu sistem kebahasaan pun turut serta dalam setiap perubahan zaman dan tuntutan-tuntutannya. Bahasa menjadi jalan atau jembatan penghubung menuju pengenalan akan pemahaman terhadap setiap pembelajaran. Singkatnya, bahasa adalah kunci pembelajaran. Sebuah buku pembelajaran yang baik bagi kita untuk memahami pemahaman tentang bahasa manusia bisa dilihat dalam buku karya seoarang Biarawan Pater Yohanes Orong, SVD. Dalam bukunya yang berjudul Bahasa Indonesia Identitas Kita dikutip “proses sebuah bahasa diturunkan dari satu generasi ke generasi lain disebut transmisi budaya.” Waktu selalu berubah setiap detiknya. Segalanya hidup dalam waktu dan terubah oleh waktu. Bahasa hidup di dalam waktu dan terubah oleh waktu tetapi bahasa tidak pernah hilangkan urgensitasnnya sebagai kunci sebuah pembelajaran.

            Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan segenap bangsa Indonesia yang bernaung di bawah sayap BHINEKA TUNGGAL IKA. Bangsa Indonesia dipadukan dalam statusnya yang satu, sama dan tidak dipisahkan salah satunya oleh bahasa Indonesia. Kembali kepada bahasa sebagai kunci pembelajaran, bahasa Indonesia juga merupakan sarana menuju sebuah pembelajaran. Pembelajaran akan nilai luhur bangsa, toleransi, tradisi dan budaya serta aspek-aspek lainnya yang menyangkut orientasi luhur bahasa Indonesia.

            Namun, seperti sifat bahasa yang dinamis atau berubah-ubah, seringkali bahasa Indonesia dicampuradukan dengan bahasa asing atau istilah-istilah asing atau kejadian lainnya yakni bahasa Indonesia diakronimkan sesuai intensi-intensi tertentu. Seringkali terjadi saat dalam situasi formal atau kasus-kasus kecil lainnya dalam situasi informal. Disini terlihat bahwa bahasa Indonesia tidak dipakai secara baik dan benar disetiap situasinya. Intensi yang memotivasi sebagian orang untuk mencampuradukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing dan mengakronimkan bahasa indonesia ialah supaya terlihat “keren” atau “internasionalisasi” diri dengan bahasa modern. Patut disadari bahwa bahasa juga harus mengikuti tuntutan zaman tetapi bukan terbawa arus zaman. Seperti halnya mencampuradukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing dan mengakronimkan bahasa Indonesia.

            Salah satu yang menjadi topik penting dari pencampuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing dan mengakronimkan bahasa indonesia ialah kemunculannya wabah virus corona. Kemunculan virus ini bukan hanya menjadi problem yang serius dalam dunia kedokteran. Entah karena angka kematian yang tinggi atau vaksin yang belum ditemukan. Memang kejadian yang terjadi sekarang ini membuat seluruh dunia resah dan panik bukan main. Berbagai macam dampak terjadi dari kemunculannya. Seperti kelumpuhan dalam sektor usaha dan pendidikan serta akibat serius lainnya. Kemunculan virus corona juga membawa dampak bagi kebahasaan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia pun dilumpuhkannya dalam sistem keteraturan pengungkapannya. Istilah-istilah asing dan akronim-akronim yang dibuat dari kemunculann wabah virus corona meluas hingga ke pelosok daerah di negara Indonesia. Wabahnya menyebar cepat bak kilatan yang membelah langit. Rakyat Indonesia pun menjadi akrab dengan istilah-istilah asing dan akronim-akronim yang dibuat dari kemunculan wabah virus corona. Secara kritis dan mendalam penulis akan membahas beberapa istilah dan akronim-akronim yang muncul serta problemnya bagi kebahasaan bahasa Indonesia terkait kelahiran wabah virus corona ini.

            Perspektif linguistik yang beberapa hal yang dikritisi

Semenjak kemunculan virus corona di muka bumi ini istilah-istilah medis dan non medis pun tersebar luas. Dalam negara Indonesia istilah-istilah medis dan non medis serta akronim-akronim pun beragam kemunculannya. Istilah-istilah dan akronim-akronim yang marak dikenal oleh rakyat Indonesia dari kemunculan wabah virus corona saatini yakni social distancing, lockdown, ODP (orang dalam pemantauan), PDP (pasien dalam pengawasan), suspect, positif, isolasi, karantina, work from home, wabah, epidemi, imported case, droplet, pandemi, antiseptik, dan cairan disinfektan. Istilah-istilah dan akronim-akronim yang bermunculan dari kelahiran wabah corona ini membawa problematik tertentu bagi sistem kebahasaan bahasa Indonesia. Berikut ini problem-problemnya:

  1. Perbendaharaan Bahasa Indonesia

            Dalam problematik mengenai perbendaharaan bahasa Indonesia, beberapa istilah asing atau kata-kata yang dipakai saat ini tidak masuk dalam sistem kebahasaan bahasa Indonesia. Kebanyakan istilah-istilah asing dan akronim yang dipakai menggunakan kebahasaan dari dunia kedokteran. Ini menjadi salah satu problem yang cukup serius bagi sistem kebahasaan bahasa Indonesia di mana istilah-istilah asing dan akronim yang dipakai membuat rakyat salah dalam mengenal arti atau kebenaran yang sesungguhnya. Dalam kaitannya dengan perbendaharaan bahasa Indonesia ini istilah-istilah asing dan akronim yang digunakan bisa membuat masyarakat miskin dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Dunia kedokteran pun menjadi semacam tolak ukur bagi pemahaman istilah dan akronim. Tidak hanya itu, sistem yang dibuat melegitimasikan bahwa bahasa kedokteran menjadi bahasa sah dan benar menurut sistem kebahasaan bahasa Indonesia. Padahal tidak semua bahasa kedokteran itu seturut bahasa Indonesia yang baik dan benar. Contoh yang dapat dilihat dari penggunakan istilah-istilah asing dan akronim-akronim yaitu DROPLET, THERMO GUN, ODP, PDP, PSBB dan WFH.

  • Makna Yang Bervariasi

            Pemakaian dalam pengungkapan istilah-istilah asing dari lahirnya wabah virus corona saat ini menyentuh bagian pemaknaan pada pemahaman kebanyakan orang. Jika ditelisik dan dicerna secara sistematis seturut kebahasaan bahasa Indonesia istilah-istilah yang dipakai mengacu pada yang bervariasi. Contohnya salah satunya ialah SUSPECT. Istilah asing ini jika diindonesiakan dengan terduga atau tersangka. Salah satu contoh istilah asing ini menjadi rujukan tersendiri bahwa arti yang diindonesiakan itu sering dimaknai dalam dunia kejahatan atau bisa dikatakan bahwa arti itu selalu merujuk pada hal yang berbau kriminalitas. Sedangkan dalam dunia kedokteran semenjak kemunculan wabah virus corona ini, arti itu sedikit terubah menjadi seorang yang mengidap gejala terjangkit corona. Contoh lainnya ialah SOCIAL DISTANCING, SOCIAL MEDIA DISTANCING, ISOLASI, LOCKDOWN, dan HAND SANITIZER.

            Problem semacam itu menjadi gejolak penting dari kecintaan kita untuk menghidupi bahasa Indonesia. Makna yang bervariasi dari penggunaan istilah-istilah asing semenjak kemunculan wabah ini bukan tidak mungkin akan membuat arti yang sesungguhnya hilang atau tidak dipakai lagi. Kembali kepada arti menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemakaian istilah-istilah asing harus mengikuti standar kebahasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga pengungkapannya tidak disalah artikan oleh sebagian orang.

  • Kekeliruan Dalam Penempatan Fungsi

             Setiap kata yang digunakan dalam pengungkapan baik lisan dan tulisan memiliki fungsi yang sangat bervariasi. Tergantung pada apa yang dibahas atau yang ditutur. Namun, dilihat dari fungsinya yang bervariasi itu, kemunculan istilah-istilah asing dari lahirnya wabah virus corona membawa sebagian rakyat Indonesia keliru dalam penempatan fungsinya. Istilah-istilah asing yang digunakan memiki arti yang diindonesiakan lain dan istilah-istilah itu pun tanpa perlu dilihat dalam kamus bahasa Inggris juga memiliki arti dalam kamus bahasa Indonesia.  Artinya pun akan beda dalam fungsinya. Contohnya ialah istilah KARANTINA. Istilah ini jika didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia difungsikan sebagai kata benda sedangkan istilah ini jika ditelisik dalam kamus bahasa Inggris dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia difungsikan sebagai kata benda dan kata sifat.

            Problem penempatan fungsi cukup serius dalam penggunaan berbahasa Indonesia. Rakyat Indonesia pun dikelirukan oleh sistem-sistem tertentu. Kekeliriuan ini membawa pemahaman yang melumpuhkan pengungkapan berbahasa dalam setiap situasi formal dan informal. Ini yang membuat kesalahan-kesalahan serius ketika sebagian orang memakai istilah-istilah itu dalam ruang lisan formal dan tulisan di media masa. Maka pemakaian istilah-istilah dari lahirnya wabah virus corona perlu dicermati lewat kacamata kebakuan bahasa yang baik dan benar sehingga para penikmat tidak menjadi keliru atau salah paham.

  • Pintar Isi, Bodoh Bentuk

            Kasus lain dari pemakaian istilah-istilah asing dan akronim-akronim dalam kebahasaan saat ini ialah sebagian orang yang memakai istilah-istilah asing dan akronim tidak mengetahui arti sesungguhnya dari setiap istilah dan akronim tetapi untuk mengambil makna dari istilah asing dan akronim itu mereka paham atau mengerti. Instrument-instrumen pendukung dalam pencaharian arti tidak digunakan barangkali yang digunakan adalah maknanya bukan arti setiap kata atau istilah dan akronim dengan kepanjangannya. Contoh yang terlihat dalam penggunaan terkait wabah virus corona ini yakni PDP, ODP, PSBB, PANDEMI, ANTISEPTIK, DISINFEKTAN, dan EPIDEMI.

            Pengertian yang baik dan benar dari Goris Keraf dalam bukunya Diksi dan Gaya Bahasa yang menjelaskan bahwa “bentuk atau ekspresi adalah segi yang dapat dicerap dengan pancaindera, yaitu dengan mendengar atau dengan melihat.” Kata yang dipakai oleh sebagian orang dalam pengungkapannya terkait kelahiran wabah ini membuat semacam ekspresi yang lain atau kebingungan istilah dan akronim. Bentuknya tidak diketahui pasti apa arti sebenarnya dari istilah atau akronim itu. Sebaliknya saat ditelusuri makna dari istilah dan akronim itu, kebanyakan orang mengetahuinya. Goris Keraf melanjutkan pengertiannya itu dengan menjelaskan juga bahwa “segi isi atau makna adalah segi yang menimbulkan reaksi dalam pikiran pendengar atau pembaca karena rangsangan aspek bentuk tadi.” Inilah salah satu masalah serius dalam penggunaannya. Sebagian masyarakat harus mencermati dengan standar yang baik dan benar menurut sistem kebahasaan bahasa Indonesia. Tidak lain dan tidak bukan orientasi untuk memakai istilah asing dan akronim tertentu supaya memberi gagasan yang baik dan benar. Sejatinya untuk tidak membuat keliru segenap orang yang memakai dan terpapar istilah-istilah asing dan akronim-akromin itu.

Sebuah catatan singkat

          Kelahiran wabah virus corona sejak 2019 lalu hingga sekarang ini membawa banyak problem disetiap segi kehidupan. Sistem kebahasaan bahasa Indonesia pun terpapar. Dalam kaitannya dengan penggunaan akronim dan term asing sistem kebahasaan bahasa Indonesia pun harus secara cermat dibendung dengan baik dan benar sehingga tidak membuat masyarakat dan kecintaannya pada bahasa Indonesia hilang atau bahkan mati. Instrumen-instrumen pendukung selalu dipakai guna membawa masyarakat pada pemahaman dan pemakaian yang sesuai standar atau ketentuan yang berlaku hingga sekarang ini. Kamus Besar Bahasa Indonesia tetap ada di dalam ruang pengenalan kebahasaan kita akan bahasa Indonesia. (***)

Alex Sehatang
Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik
Ledalero-Maumere
Unit Gabriel-Maumere
Anggota Komunitas Sastra Sampul Buku
IG: a_Kumbang_Desa

Advertisements

Advertisements

Advertisements