OPINI – Pestanya Para Sahabat di Rumah Demokrasi

Advertisements

Catatan Lepas Menjelang Pilkada Di Kabupaten Belu – Atambua

OLEH: HERMAN NUFA

Belu, sahabatku mari kita mengalirkan energi cinta yang besar bagi negeri ini. Negeri ini adalah negeri sahabat. Maka tokoh agama dan gereja, mari kita menjadikan hadir kita sebagai jembatan penghubung untuk menyatukan korban yang tercerai oleh perbuatan figur politisi musiman.

Belu artinya teman, kawan, sahabat. Kita menjaga dan merawat hati agar Belu jangan tercerai oleh derasnya arus zaman. Pupukilah hati dengan cinta agar kita tetap setia dalam bersahabat hingga akhir nanti. Persaudaraan, kekeluargaan dan persahabatan tak bisa dibeli dengan uang dan harta. Yang perlu diperhatikan adalah jagalah hati agar tak tersayat oleh sembilu. Jangan biarkan hati luka oleh sikap dan tindakan serta tutur kata. Tapi biarlah hati kita teduh dengan cara yang sejuk karena luka obatnya mahal lebih baik rawat hati dengan cinta.

Pada hakekatnya politik itu luhur dan mulia. Dikatakan demikian karena politik hadir demi Bonum Commune tanpa bungkus kepentingan pribadi. Jadi pada tuturan ini kita semua punya peran untuk melihat dan menilai luhurnya praktik politik itu. Kita semua adalah warga Belu yang mencintai tanah lahir kita. Siapapun dia, apapun status dan jabatannya mesti peduli. Kalau diam artinya pudar rasa cinta akan tanah lahirnya sendiri. Jadi peran dari kita semua yang yang peduli akan kemanusiaan harus konsisten menghadapi badai zaman yang tak menentu ini. Termasuk tokoh agama dan gereja turut berandil di dalamnya.

Peran tokoh agama adalah bersuara atas nama kaum jelata yang tak mampu bersuara yang selama ini menjadi korban penipuan oleh figur politisi tertentu. Tokoh agama harus menjalankan peran kenabiannya dalam realitas suram hari ini. Nabi adalah penyambung lidah Allah. Menyalurkan kebaikan dan kasih kepada umat agar berada di jalan yang benar demi hidup yang lebih layak. Tokoh agama tidak boleh diam membiarkan politik ketidakadilan meraja lelah di tengah masyarakat. Tokoh agama yang mengerti realitas hidup masyarakat meski turut melebur dan mencair dalam kebekuan umat. Artinya ia mesti membuka wawasan umat memilah dan memilih yang terbaik agar tidak menyesal bila hari nanti. Menjelmakan keilahian Tuhan yang menyata dalam realitas politik sisial. Yang Ilahi menyata dalam realitas. Jamahlah realitas jangan diam membiarkannya menangis.

Belu artinya sahabat.
Sahabat yang sejati adalah dia yang rela mengorbankan segala totalitas diri demi hidup sejahtera para sahabatnya. Persahabatan terjadi karena adanya damai yang mengalir dari hati. Maka jagalah hati agar tetap menjadi sumber mengalirnya sejuk bagi sesama. Kita semua bersaudara, dikandung dan dilahirkan dari rahim yang satu dan sama yakni Rai Belu. Hal utama yang mesti kita pegang erat adalah bergandengan tangan bersama demi membangun rahim Belu menjadi rumah yang layak di huni oleh kehidupan yang penuh sejuk dan damai.

Kita semua bersaudara dengan jabatan dan status sosial yang berbeda namun kata Belu mengingatkan kita bahwa kita adalah sahabat yang selalu setia berjalan bersama dalam setiap suka dan duka. Mari kita senyum dan tertawa bersama. Mari kita menderita dan menangis bersama menjawabi realitas hari ini. Dalam konsili Vatikan kedua, Gaudium Et Spes tertulis, “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan oran-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga”. Di sini tokoh agama dan gereja tidak boleh diam mati kutu membiarkan masyarakat kecil menderita oleh janji-janji politik oleh politisi tertentu. Kita tidak boleh diam dalam membiarkan gereja menangis berkepanjangan di tengah situasi pandemi ini. Mari kita buka hati dan lawan dengan cara damai agar hati politisi yang tumpul dan tamak akan nikmat hari ini sadar kembali ke jalan yang benar.

Tokoh agama dan gereja yang ada di Rai Belu di mana saja berada. Tengoklah dunia sekitar yang kini sedang menangis oleh ketidakadilan sosial. Di sana nilai-nilai kemanusiaan belum membumi secara hari ini. Di sana masih ada ratap tangis. Tegahkah hatimu membiarkan air mata mereka terus jatuh basahi negeri kecil Rai Belu.

Belu, sahabatku mari kita mengalirkan energi cinta yang besar bagi negeri ini. Negeri ini adalah negeri sahabat. Maka tokoh agama dan gereja, mari kita menjadikan hadir kita sebagai jembatan penghubung untuk menyatukan korban yang tercerai oleh perbuatan figur politisi musiman. Karena beriman adalah menjawabi panggilan Allah secara hari ini, kini dan di sini. Jangan ditunda-tunda. (***)

Penulis adalah mahasiswa STFK Ledalero, NTT.

Advertisements

Advertisements

Advertisements