OPINI – Menakar Keterangan Terdakwa Randy Badjideh

Advertisements

Deddy Manafe

Oleh: Deddy Manafe, Pakar Hukum Pidana dari Undana-Kupang

SIDANG perkara pembunuhan berencana terhadap Astri dan kekerasan mengakibatkan matinya Lael telah memasuki tahap mendengar Keterangan terdakwa Randy Badjideh (alat bukti ke-5).

Hal ini menandakan bahwa sidang dengan acara PEMBUKTIAN akan segera berakhir.

Persidangan hari Senin, 20 Juni 2022, dengan acara mendengar keterangan terdakwa Randy Badjideh ternyata sangat menarik, jika dibandingkan dengan keterangannya pada persidangan-persidangan sebelumnya.

Fakta-fakta yang menarik itu sebagai berikut.

1. Terdakwa Konsisten Bohong Soal Motif dan Niat Untuk Membunuh Astri dan Lael

Pada sidang perdana, setelah JPU membacakan Surat Dakwaan, terdakwa membantah bahwa tidak ada kalimat dari Ira Ua isterinya dengan frasa yang berbunyi, “Selama Astri dan Lael ada, beta sonde tenang.” Kemudian dijawab terdakwa, “Kalau begitu beta pi bunuh dong ko?”

Bantahan yang sama juga diberikan terdakwa ketika saksi-saksi lain memberikan keterangan yang sama dengan frasa yang sejenis untuk menjelaskan bahwa setelah Ira Ua mengetahui perselingkuhan terdakwa dengan Astri, maka muncul pertengkaran antara terdakwa dengan Ira Ua isterinya.

Ternyata, terdakwa Randy Badjideh TIDAK MEMBANTAH ketika saksi AHLI BAHASA menjelaskan tentang tangkapan layar HP percakapan Terdakwa dengan Ira Ua isterinya.

Dalam percakapan itu, terdakwa berkali-kali menegaskan bahwa dia sudah membunuh orang (pasti yang dimaksud yaitu Astri dan Lael). Selain itu, frasa sejenis dengan yang dikatakan saat pertengkaran terdakwa dengan Ira Ua juga ada dalam tangkapan layar HP tersebut.

Sampai di sini, terlihat bahwa bagi terdakwa Randy Badjideh bahwa kalau tidak ada BUKTI EKPLISIT, maka pasti dibantah.

Ini mengindikasikan bahwa terdakwa Randy Badjideh merupakan AKTOR yang KONSISTEN pada skenario yang sudah dirancang oleh SUTRADARA yang keberadaannya sangat kuat dalam keseluruhan proses perkara ini. Namun entah mengapa tidak cukup kuat upaya untuk mengendus sang sutradara ini.

Paling tidak, JPU maupun Majelis Hakim tidak berupaya untuk menggali lebih jauh mengapa terdakwa Randy Badjideh tidak konsisten dengan bantahannya.
Oleh karena tanpa pendalaman yang jelas, maka percakapan pada tangkapan layar HP itu justru memberikan kesan bahwa:
a. Terdakwa Randy Badjideh merupakan pelaku tinggal;
b. Saksi Ira Ua tidak tahu menahu dengan pembunuhan tersebut dan baru tahu dari terdakwa Randy Badjideh. Artinya, fakta ini seolah-olah SENGAJA dirancang untuk mementahkan peran Ira Ua sebagai tersangka pelaku peserta.

2. Terdakwa Konsisten Pada Skenario Terdakwa Tunggal.

Jika mengacu pada keterangan saksi AHLI IT, bahwa HP Terdakwa Randy Badjideh dan HP Ira Ua sudah di-RESET tapi tidak tahu kapan direset. Akan tetapi jika dibandingkan dengan keterangan saksi AHLI BAHASA terkait tangkapan layar ke-2 HP itu, ternyata berisi percakapan antara terdakwa dengan Ira Ua, istrinya.

Jika benar ke-2 HP itu direset setelah pembunuhan Astri dan Lael, maka pasti dengan TUJUAN menghilangkan informasi terkait pembunuhan itu. Lantas, mengapa kemudian DENGAN SENGAJA membuat percakapan yang nantinya akan dijadikan bukti kalau pembunuhan ini terungkap?

Sampai di sini, jika itu merupakan RENCANA dari Terdakwa dan Ira Ua, maka ke-2 pasangan suami-isteri ini benar-benar sangat cermat dan detail merencanakan pembunuhan Astri dan Lael. Kemudian merancang bahwa jika terungkap, maka hanya Terdakwa Randy Badjideh yang diberi beban pertanggungjawaban pidana.

SEKALI LAGI, jika ternyata bukan terdakwa Randy Badjideh dan Ira Ua yang dengan sengaja meninggalkan JEJAK KEJAHATAN berupa percakapan HP tersebut, maka ada SUTRADARA hebat di balik semua ini.

Konsistensi Terdakwa Randy Badjideh terkait SKENARIO terdakwa tunggal, nampak pula saat dirinya membantah pergerakan mobil Rush seperti pada GPS. Dia menyatakan bahwa saat itu, dia dan isterinya ada di rumah mereka di Alak.

Lantas, hakim bertanya, “Siapa yang mengendarai mobil itu?” Terdakwa menyatakan bahwa mobil Rush saat itu diparkirnya di halaman belakang Kantor BPK Perwakilan NTT.

Sayangnya, tidak ada upaya menggali informasi lebih jauh, misalnya:
a. Saat Terdakwa memarkir mobil Rush, kunci kontak mobil siapa yang pegang. Oleh karena mobil ini jelas tidak bisa bergerak sendiri tanpa kunci kontak.
b. Jika kunci kontak mobil Rush dititipkan pada orang lain, maka SIAPA orang itu? Karena saat itu, ke-2 jenazah berada di dalam mobil Rush. Orang ini harus didengar keterangannya.
c. Jika kunci kontak mobil Rush dibawa oleh Terdakwa, maka pemilik rental mobil Rush harus dimintai keterangannya, SIAPA pemegang kunci kontak duplikat dari mobil Rush. Oleh karena selain kunci kontak yang di tangan Terdakwa, hanya dengan kunci kontak duplikat saja mobil Rush dapat dijakankan.

Dengan pendalaman seperti itu, maka tidak menutup kemungkinan ada PELAKU LAIN dalam lakon roman picisan ini. Ketika tidak ada upaya penggalian informasi lebih jauh, maka jelas Terdakwa Randy Badjideh akan tetap melakonkan skenario terdakwa tunggal.

Toh, sampai sejauh ini TIDAK ADA bukti eksplisit terkait peran Ira Ua sebagai pelaku peserta.

3. Terdakwa Bersikukuh Menghindar dari Pembunuhan Berencana Terhadap Astri dan Kekerasan Berakibat Matinya Lael.

Ketika saksi AHLI FORENSIC tidak dapat memastikan penyebab matinya Astri dan Lael, maka terdakwa Randy Badjideh mendapat semacam ANGIN SEGAR bahwa dakwaan primer JPU terkait:
a. Pasal 340 KUHP untuk pembunuhan berencana terhadap Astri tidak terpenuhi.
b. Pasal 80 ayat (3) UU Perlindungan Anak untuk kekerasan yang berakibat matinya Lael tidak terpenuhi.

Dalam Surat Dakwaan, JPU menguraikan bahwa pada tanggal 28 Agustus 2021 sekitar pukul 09.00 wita bertempat di Hollywood, pada saat itu terdakwa duduk di belakang setir mobil Rush, Astri duduk di kursi depan kiri sambil menggendong Lael. Mereka tidur-tiduran. Saat itulah Terdakwa membekap dan mencekik mati Astri lalu membekap Lael hingga mati. Setelah itu Terdakwa memastikan ke-2 korban tidak ada denyut nadi lagi.

Di lain sisi, dalam persidangan, terdakwa justru menyatakan bahwa terjadi pertengkaran antara dirinya dengan Astri, karena Terdakwa hendak mengakhiri hubungang mereka yang sudah diketahui isteri terdakwa Ira Ua.

Selanjutnya, Terdakwa meminta Lael untuk hidup bersama terdakwa. Inilah yang menyebabkan Astri mencekik Lael, lalu karena jengkel terdakwa juga mencekik Astri. Saat itu Astri melakukan perlawanan. Lalu Lael jatuh dari cekikan Astri dalam keadaan sudah mati.

Keterangan Terdakwa ini, nampaknya baru muncul setelah persidangan berlangsung:

a. Terdakwa hendak memperkuat keterangan saksi AHLI FORENSIC bahwa saat Astri dibekap dan dicekik melakukan perlawanan, sehingga ada MEMAR akibat kekerasan tumpul di kaki.

Lantas bagaimana dengan kekerasan tumpul di kepala, dada, dan lengan?
Sampai di sini, ahli forensic mungkin benar bahwa ketika Astri hendak dihabisi, Astri melakukan perlawanan.

Namun, terkait perlawanan itu, harus didalami lagi, yaitu:
1) Perlawanan itu dilakukan Astri saat dibekap dan dicekik; atau
2) Perlawanan itu dilakukan Astri sebelum dibekap dan dicekik.

Jika perlawanan itu dilakukan saat Astri dibekap dan dicekik, maka skenarionya SEJALAN dengan lakon yang sedang dimainkan Terdakwa. Mengapa?
Karena, jelas kedua tangan Astri tidak mungkin melakukan perlawanan, karena saat yang sama sedang mencekik Lael.

Sepintas, skenario ini nampak LOGIS. Namun, menjadi TIDAK SINKRON dengan:
1) MOTIF pembunuhan ini yakni kalimat pertengkaran antara Terdakwa dan Ira Ua isterinya, yang bunyi frasanya, “Selama Astri dan Lael ada, beta pung hidup sonde tenang.” Frasa sejenis itu yang ada dalam tangkapan layar HP Terdakwa dan HP Ira Ua yang dibenarkan oleh Terdakwa.

Artinya, aneh kalau terdakwa meminta Astri untuk menyerahkan Lael kepadanya. Bukankah Lael juga menjadi penyebab pertengkaran tersebut?

2) NIAT pembunuhan ini, yakni kalimat Terdakwa yang menyatakan, “Beta pi bunuh dong sudah ko?” Kalimat ini juga diperkuat dalam tangkapan layar HP Terdakwa dan HP Ira Ua, di mana Terdakwa berkali-kali menyatakan kalau dirinya sudah bunuh orang.

Jika perlawanan itu dilakukan Astri sebelum dibekap dan dicekik, maka itu PERKELAHIAN dan bukan pertengkaran. Bahkan cenderung Astri disiksa dengan tujuan dilumpuhkan baru dibekap dan dicekik hingga mati.

b. Terdakwa hendak KONSISTEN bahwa Astri yang mencekik mati Lael.

Kalau benar demikian, apakah jatuhnya Lael dari cekikan Astri saat Astri dicekik Terdakwa itu yang menyebabkan RETAK TENGKORAK?
Apakah bagian dalam depan mobil Rush itu begitu tinggi (sekian meter) sehingga ketika Lael yang mati dicekik Astri lalu jatuh dan tengkoraknya retak.

Sampai di sini, dengan penjelasan ahli forensic macam apapun jelas tak bisa dibuktikan secara ilmiah. Bahkan nalar orang paling bodohpun tak bisa menerimanya.

Artinya, Lael, selain dibekap hingga mati, mengalami kekerasan tumpul dari ORANG LAIN karena disangkal oleh terdakwa Randy Badjideh. Orang lain itu, yang paling mungkin adalah Ira Ua yang kini sudah menjadi tersangka pelaku peserta dengan berkas perkara terpisah.

4. Terdakwa Membangun Logika Pasal 351 ayat (3) KUHP jo Pasal 49 ayat (2) KUHP.

Terdakwa bersikukuh bahwa ketika dirinya dan Astri bertengkar, Astri mencekik mati Lael dan karena dirinya jengkel, lalu mencekik mati Astri juga.

Skenario ini bersesuaian dengan:

a. Konstruksi Pasal 351 ayat (3) KUHP terkait dengan penganiayaan yang berakibat matinya korban.

Dalam hal ini, rasa jengkel itu timbul SEKETIKA tanpa PERENCANAAN lebih dahulu pada saat melihat Astri mencekik Lael.

Skenario ini segera terbantahkan karena:
1) Terdakwa sendiri yang membuka blokir nomor HP Astri lalu mengontak Astri berkali-kali untuk bertemu.
2) Terdakwa sendiri yang mempersiapkan mobil Rush dari rental.
3) Terdakwa sendiri yang kembali mengontak Astri untuk memastikan pertemuan.

Artinya, MOTIF dan NIAT untuk membunuh Astri dan Lael dilaksanakan melalui suatu perencanaan yang sistematis.

b. Kobstruksi Pasal 49 ayat (2) KUHP terkait pembelaan terpaksa melampaui batas karena kegoncangan jiwa yang hebat akibat serangan atau ancaman serangan tidak dipidana.

Dalam hal ini, terdakwa secara NALURI untuk membela Lael atau menghentikan cekikan Astri pada Lael, ia mencekik Astri. Bahkan dramatisasi ini dinyatakan oleh terdakwa bahwa setelah memastikan Astri dan Lael mati, ia bingung.

Pernyataan ini, hendak disejajarkan dengan frasa kegoncangan jiwa yang hebat. Skenario ini, diperkuat lagi bahwa setelah Astri dan Lael mati, sesuai GPS mobil, 4 (empat) jam kemudian pada pukul 13.00 wita terdakwa menuju Toko Rukun Jaya untuk membeli kantong plastik. 4 (empat) jam bingung atau mengalami kegoncangan jiwa yang hebat.

Skenario ini segera mendapat bantahan, karena:
1) Bagaimana orang bingung bisa memikirkan jenis dan ukuran kantong plastik untuk membungkus jenazah korban?
2) Orang bingung, tapi bisa memikirkan memindahkan ke-2 jenazah ke bangku tengah mobil Rush.
3) Orang bingung, tapi bisa mengarang alibi menabrak mati orang gila.
4) Orang bingung, tapi bisa mengarang alibi pengganti kalau mengubur anjing mati.
5) Orang bingung, tapi bisa memikirkan membung sejumlah barang bukti.
6) Orang bingung, tapi bisa memikirkan me-RESET HP miliknya bersama HP sang isteri.

Untuk itu, terdakwa Randy Badjideh dan nantinya juga tersangka Ira Ua perlu diperiksa kesehatan jiwanya oleh pshykiater. Betapa tidak, dalam psikologi kriminil ciri-ciri seperti ini dapat dikategorikan sebagai PSIKOPAT.

Terdakwa MENYESAL?

Penyesalan dengan modus mengucurkan AIR MATA juga pernah dipraktikan dalam sidang perkara kopi sianida Jesica Kumala Wongso. Jika benar-benar menyesal, maka seharusnya JUJUR dalam membetikan keterangan. Bukannya justru harus diminta jujur oleh Majelis Hakim.

Advertisements

Artinya, Majelis Hakim sudah mendapat PETUNJUK (alat bukti ke-4) bahwa Terdakwa BERBOHONG.

Semoga penjelasan dengan ilmu yang terbatas ini, sedikit mencerahkan.
Salam Damai…

DISCLAIMER: Isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis opini, redaksi cuma menyediakan space untuk ditayangkan saja.

Advertisements