OPINI: Media Sosial, Fenomena Hiperealitas dan Realitas Integral (Telaah Pemikiran Jean Baudrillard)

Advertisements

Oleh: Theos Seran; Mahasiswa STFK Ledalero

Realitas asli yang semakin digusur oleh model-model rekayasa teknologi akan menyebabkan manusia terobsesi pada realitas lain di luar dirinya sendiri. Realitas di luar dirinya ini akan menggusur cita diri kemanusiaan yang sesungguhnya, manusia tidak lagi menyadari eksistensinya sebagai makhluk berbudaya karena filsafatnya, orientasi hidupnya bergantung pada realitas semu dalam teknologi. Media sosial akan memberi ruang bagi manusia untuk menarasikan narasi diri palsu tanpa ada referensi pada basis yang orisinal. Pada media sosial seseorang dapat mengonstruksi dirinya lebih dari satu identitas, entah sebagai laki-laki ataukah sebagai perempuan. Umur seseorang dapat dikonstruksi sesuka hati, proyeksi diri dimanipulasi dengan mode-mode foto elok agar terlihat keren namun patutlah disayangkan apabila realitas itu hanyalah rekayasa semata.

Manusia adalah makhluk dinamis. Hakekat ini menjadi ciri esensi manusia dan seluruh konstruksi ideologi, paham dan budaya manusia yang juga dinamis. Konstelasi dunia manusia pun turut berubah dari saat ke saat. Dunia manusia dan seluruh eksistensinya terus bergulir dalam siklus waktu dalam masa tertentu yang hingga saat ini kita kenal dengan masa milenial. Zaman mileniel ini ditandai oleh rupa-rupa teknologi yang semakin hari semakin maju merujukkan dunia dalam satu kemasan yang dikenal dengan globalisasi. Globalisasi menjadi produk zaman sekaligus mode zaman yang memiliki perspektifnya sendiri tentang dunia. Dunia yang dahulu dipandang sebagai ranah mahaluas, kini telah direduksi sebagai suatu dusun kecil (global village) tempat manusia saling berinteraksi tanpa dibatasi oleh letak geografis dan interval waktu tertentu. Basis globalisasi yang paling mutakhir ialah internet dengan berbagai macam piranti media yang ada di dalamnya. Di dalam internet terdapat banyak portal media tempat manusia berinteraksi dan berkecimpung dalam berbagai aktivitas siber. Dalam aktivitas siber itulah manusia melekatkan identitas dirinya sebagai proyeksi dirinya agar dapat dikenal dan dipahami. Identitas itu dapat dikenal melalui tulisan-tulisan pada dinding facebook, status di BBM, aplikasi  WhatsApp, lewat kalimat-kalimat gambar, simbol, foto, karakter dan sebagainya (Agus Duka, 2017: 29).

Media ini dikenal dengan sebutan media sosial karena sifatnya sosialitasnya yang ditandai oleh adanya interaksi tanpa batas dengan semua orang, kapan dan di mana saja. Dalam media sosial manusia menarasikan dirinya tentang sepak terjang hidupnya dengan tujuan untuk mengekspresikan dirinya sekaligus untuk mendapatkan afirmasi tentang dirinya dari orang lain. Melalui narasi diri itu, manusia akan merasa puas apabila ia mendapatkan afirmasi dari orang lain. Lantas, apa yang akan dilakukan oleh manusia untuk menggapai kepuasan itu? Pertanyaan ini menukik lebih dalam pada tataran mekanisme yang ditempuh oleh manusia sendiri dalam upaya pencarian dan pengakuan identitas dirinya. Manusia akan cenderung menarasikan identitas dirinya yang terbaik, tanpa cacat cela dengan maksud memperoleh kepuasan maksimal dari afirmasi orang lain akan eksistensi identitasnya itu. Perihal ini akan menjadi suatu ironi apabila manusia lalu memanipulasi dirinya dengan rupa-rupa rekayasa narasi diri dan pengaburan realitas orisinal demi maniak afirmasi diri. Tataran ini tentunya sangat memprihatinkan sebab inilah fenomena krisis sebagai proyeksi kejahatan zaman ini sebagaimana yang dikatakan oleh Jean Baudrillard bahwa kejahatan paling nyata dalam dunia postmodern adalah pembunuhan terhadap realitas atau kenyataan (Ule, 2011: 32). Pembunuhan terhadap realitas merupakan kejahatan yang perlu diwaspadai sebab basis paling riskan ialah media sosial tempat manusia berekspresi dan berinteraksi. Selain media sosial, fenomena ini kemudian merebak lebih luas hingga pada seluruh sendi kehidupan manusia di dunia ini.

Pada kesempatan ini, penulis ingin menelaah dalam analisa sederhana pemikiran Jean Baudrillard tentang fenomena hiperealitas dan realitas integral dalam relevensinya dengan eksistensi media sosial sebagai sarana ekspresi diri, interaksi sosial dan sarana komunikasi, informasi. Jean Baudrillard dilahirkan di Reims, Perancis pada tahun 1929. Keluarganya bukan keluarga berpendidikan. Kehidupan intelektualnya intens dimulai pada tahun 1960 di Universitas Paris X di Nanterre, Prancis dan menyelesaikan tesis doktoralnya di bawah bimbingan Henry Lefebvre, seorang anti-strukturalis. Disertasinya dipublikasikan pada tahun 1968 dengan judul The System of Objects, yang sekaligus menjadi buku pertamanya, yang selain dipengaruhi oleh Marxisme, juga dipengaruhi oleh semiotika Barthes. Ia mengkritik pandangan klasik yang melihat bahwa ras, gender, etnik dan kelas sosial sebagai basis pembentukan tatanan hierarki dalam masyarakat (Ule, 2011:25). Ia meninggal dunia pada 6 Maret 2007. Ia selalu menolak untuk digolongkan ke dalam aliran pemikiran sosiologis atau sistem filosofis tertentu namun toh beliau tetap diakui sebagai seorang sosiolog dan filsuf. Ia selalu menggerakkan orang mengambil jarak moral dan emosional, sekaligus mengizinkan kita melihat sesuatu dengan cara berbeda, dalam bagiannya yang problematis (Ule, 2011:33).

Fenomena hiperealitas

Istilah hiperealitas adalah salah satu istilah yang dipakai oleh Walter Benjamin. Menurutnya, hiperealitas berarti salinan dari realitas yang digandakan melalui teknik reproduksi (Benjamin: 57-58). Istilah ini kemudian dipakai oleh Umberto Eco dalam arti bahwa segala sesuatu yang merupakan replikasi, salinan atau imitasi disebut sebagai simulakrum dari realitas. Simulakrum dalam artian Eco adalah unsur-unsur masa lalu yang dihadirkan sebagai sebuah nostalgia. Sebagai contoh, dinosaurus yang telah lama hilang dapat dihadirkan kembali dalam replika, salinan, imitasi dan tiruannya. Dinosaurus yang dihadikan saat ini telah kehilangan kontak dengan realitas padahal hanya merupakan tiruan dari aslinya pada masa lalu. Dinosaurus telah menjadi hiperealitas, yang merupakan simulakrum dari dinosaurus asli pada masa lalu.

Jean Baudrillard memiliki konsepnya yang khas dan radikal tentang hiperealitas. Ia mula-mula membedakan simulasi dengan simulakra. Pada tingkat pertama menyatakan bahwa bahasa, tanda dan objek merupakan representasi dari realitas alamiah, sekaligus memiliki sifat transenden. Representasi tersebut masih memiliki jarak dan perbedaan dengan realitas alamiah itu. Tingkat kedua menyatakan bahwa berkat teknologi reproduksi, objek tiruan tidak lagi mempunyai jarak dengan objek asli. Mekanisme representasi pada tingkat ini merupakan mekanisme reproduksi material. Pada tahap ketiga, simulakra merupakan wujud silang tanda sengkarut tanda dan kode budaya yang tidak lagi mempunyai representasi dengan realitas. Simulakra pada tahap ini dinamakan simulasi. Kita telah bergerak meniru benda-benda riil lalu memproduksi barang real (kapitalisme konsumen) lalu kita bergerak menuju ke memproduksi proses peniruan itu sendiri (Ted Benton dan Ian Craib, 2009: 276). Menurut Baudrillard, unsur utama pembentuk hiperealitas adalah simulasi. Simulasi adalah representasi murni, di mana ia menjadi rujukan bagi dirinya sendiri.  Simulasi di sini berarti suatu penciptaan kondisi tertentu, dengan menggunakan teknologi simulasi, sehingga kondisi tersebut dapat dianggap sebagai sebuah fakta yang benar-benar nyata, padahal tidak lebih merupakan manipulasi teknologi semata. Hiperealitas menurut Baudrillard berarti simulasi dari realitas (Yasraf Amir Piliang, 2004: 60)

Konsepsi realitas integral

Pada mekanisme dalam dunia simulasi, realitas dibangun berdasarkan model-model dan model-model tersebut menjadi acuan nilai dan menjadi referensi makna budaya, sosial bahkan politik yang disebarkan melalui televisi, iklan ataukah teknologi informasi lainnya. Selanjutnya, pemahaman ini diuraikan dalam konsepsi tentang realitas integral. Realitas integral merupakan salah satu neologi yang diciptakan oleh Baudrillard yang menyatakan bahwa kita hidup dalam dunia yang kehilangan acuan akan apapun. Batas antara dunia riil dan penampakan menjadi kabur pada masa ini. Begitu pula batas antara kebenaran dan penampakan yang asli dan yang palsu, semuanya menghilang. Kita kini hidup dalam realitas integral, yaitu realitas di mana batas antara yang riil dan yang palsu kacau balau, realitas semuanya menjadi riil (Ule, 2011:52).

Media sosial, Quo Vadis?

Globalisasi dan basis-basis teknologi yang semakin maju sungguh mengonstuksi manusia pada seluruh tatanan kehidupannya. Teknologi mampu menjadikan segala Sesuatu yang ada menjadi tiada dan yang tiada menjadi ada atau bahkan yang ada semakin eksis. Media sosial sebagai salah satu basis globalisasi turut menjadi sorotan banyak pihak akhir-akhir ini lantaran timbulnya berbagai macam problematika. Problematika yang paling meresahkan manusia akhir-akhir ini ialah wacana tentang berita-berita palsu, pengaburan identitas demi narasi diri yang narsis namun sesungguhnya palsu. Pada tataran ini penulis dapat merujukkan bahwa beragam fenomena problematis ini merupakan pratanda merebaknya perpektif simulasi. Simulasi merupakan sebuah proses pergerakan ke arah penciptaan dari sebuah model tanpa referensi dari realitas asli. Fenomena simulasi ini tidak dapat dipersalahkan begitu saja sebagai penyebab segala hal problematis yang melanda hidup manusia. Simulasi merupakan produk teknologi dari zaman globaliasasi ini. Model-model ini diciptakan oleh teknologi untuk membantu manusia dalam menjalankan berbagai aktivitas dalam hidupnya. Kondisi yang dihasilkan dari proses simulasi tersebut ialah hiperealitas. Hal yang urgen untuk diperhatikan dan selalu diwaspadai oleh manusia adalah ketika seluruh aspek hidupnya dirujukkan pada proses simulasi ini.

Realitas asli yang semakin digusur oleh model-model rekayasa teknologi akan menyebabkan manusia terobsesi pada realitas lain di luar dirinya sendiri. Realitas di luar dirinya ini akan menggusur cita diri kemanusiaan yang sesungguhnya, manusia tidak lagi menyadari eksistensinya sebagai makhluk berbudaya karena filsafatnya, orientasi hidupnya bergantung pada realitas semu dalam teknologi. Media sosial akan memberi ruang bagi manusia untuk menarasikan narasi diri palsu tanpa ada referensi pada basis yang orisinal. Pada media sosial seseorang dapat mengonstruksi dirinya lebih dari satu identitas, entah sebagai laki-laki ataukah sebagai perempuan. Umur seseorang dapat dikonstruksi sesuka hati, proyeksi diri dimanipulasi dengan mode-mode foto elok agar terlihat keren namun patutlah disayangkan apabila realitas itu hanyalah rekayasa semata.

Pada media sosial seseorang dapat menjadi siapapun dan apapun dan pada akhirnya piranti media sosial hanyalah menjadi ruang permainan identitas yang asli, palsu, tunggal ataukah ganda. Manusia akan terlempar dari dirinya sendiri dan fenomena disparitas ini akan merujukkan manusia pada berbagai krisis. Kebenaran dan kepalsuan tidak dapat lagi dibedakan. Dengan demikian realitas integral merebak lantaran manusia tidak mampu lagi membedakan hal yang riil dan palsu. Batas antara yang riil dan hasil rekayasa menjadi kabur. Manusia kehilangan dirinya sendiri lantaran ia kehilangan akses pada referesinya yakni pada dunia rill dirinya sendiri. Menanggapi realitas ironis ini, bagaimana hendaknya media sosial menempatkan diri?  Hal esensial yang perlu diperhatikan ialah media sosial sebagai piranti media siber perlu sungguh menyadari bahwa media merupakan basis yang paling riskan merebaknya fenomena hiperealitas dan realitas integral ini. Kesadaran ini merupakan awal yang baik untuk menstimulus nalar kritis manusia pengguna media dan media sendiri sebagai sarana ekspresi diri dan penyebaran informasi, komunikasi. Media sosial hendaknya kembali merujukkan manusia pada referensinya yakni dunia riil.

Para pengguna media hendaknya selalu menginternalisasi dirinya pada perihidup yang memiliki referensinya terhadap dunia. Manusia hendaknya menarasikan dirinya secara bebas, apa adanya dalam media sosial demi membatasi merebaknya realitas integral dalam konstelasi hidup manusia. Jean Baudrillard telah mewanti-wanti dengan tujuan agar manusia kembali sadar akan eksistensi dunianya saat ini dan mengambil kesadaran baru untuk berubah. Realitas integral ini menjadi hal fenomenal yang akan dihadapi oleh manusia saat ini. Realitas integral akan memisahkan manusia dari dirinya sendiri lantaran raibnya realitas riil. Inilah kejahatan yang melanda semua umat manusia yakni kejahatan membunuh realitas atau kenyataan. Hal yang dapat ditempuh manusia untuk tidak terjebak sebagai korban ataukah pelaku kejahatan ini adalah dengan selalu merujuk pada referensi realitas riil. Marilah kita sadar dan paham akan eksistensi dunia kita saat ini sembari tetap setia memelihara referensi kita pada dunia riil kita. (****)

Advertisements

Advertisements

Advertisements