OPINI – Hikayat Habib Vs Lonthe

Advertisements

OLEH: RUDI S KAMRI

Rudi S Kamri

Saat ini pemaknaan bahasa mengalami silang sengkarut. Tidak ada lagi etika bertutur kata yang seharusnya. Sebagai contoh, seorang penceramah agama yang oleh pendukungnya disebut ustadz atau bahkan Habib, dengan fasih menghina seorang perempuan dengan kata-kata “Lonthe” berkali-kali. Ujaran tidak pantas ini anehnya mendapat aplaus riuh para pendukungnya.

Waktu saya kecil, istilah “Lonthe” adalah diksi yang sangat super kasar. Kalau saya mengucapkan kata itu, lalu kedengaran dengan alm.Ibu saya, sudah pasti cubitan atau sapu ijuk langsung mendarat bertubi-tubi di paha saya tanpa ampun.

Bagi Ibu saya yang berprofesi sebagai guru, “Lonthe” adalah istilah yang sangat tabu diucapkan oleh orang beradab, berpendidikan dan beragama. Kata “Lonthe” hanya pantas diucapkan oleh orang biadab, preman dan tidak berpendidikan. Jadi kata “Lonthe” hampir hilang dari kamus perbendaharaan kata saya.

Tapi itu dahulu kala, 50 tahun yang lalu. Namun saat ini, diksi “Lonthe” seolah naik derajat atau naik kasta karena banyak diucapkan oleh orang-orang di mimbar penceramah agama dan menjadi viral di media sosial. Dalam ilmu bahasa fenomena naik derajatnya suatu kata atau diksi disebut proses Ameliorasi.

Fenomena ini berbanding terbalik dengan istilah “Habib”. Istilah ini biasanya disebut dalam konteks pemuliaan suatu orang yang dianggap masih ada darah keturunan Nabi Muhammad SAW.

Namun sekarang, kata “Habib” banyak disebut orang dengan penuh kemarahan dan penghinaan atau konteks sarkastik. Karena ulah dan perilaku orang tertentu yang sangat tidak pantas disebut dalam aura kemuliaan. Dalam ilmu bahasa fenomena penurunan makna atau derajat suatu istilah atau kata disebut dengan Peyorasi.

Saat ini pemaknaan bahasa mengalami silang sengkarut. Tidak ada lagi etika bertutur kata yang seharusnya. Sebagai contoh, seorang penceramah agama yang oleh pendukungnya disebut ustadz atau bahkan Habib, dengan fasih menghina seorang perempuan dengan kata-kata “Lonthe” berkali-kali. Ujaran tidak pantas ini anehnya mendapat aplaus riuh para pendukungnya.

Mereka tidak peduli junjungannya sedang merajalela menghina seorang perempuan yang seharusnya dimuliakan. Mereka, kaum pekok berjamaah ini lupa, bahwa ibu mereka perempuan, istrinya pun perempuan dan mungkin anaknya juga perempuan.

Yang lebih aneh lagi, para perempuan pemuja sang penceramah agama juga tepuk tangan riuh. Mereka tidak peduli kaumnya sedang diperhinakan oleh sang junjungan.

Ini fenomena sakitnya masyarakat yang kehilangan nurani dan akal sehat. Mereka tidak lagi punya hati dan kesadaran diri bahwa mereka sedang disesatkan. Ini PR besar bangsa ini yang terpapar pandemi penyesatan iman.

Habib versus Lonthe. Ini bukan tentang Mohammad Rizieq Shihab versus Nikita Mirzani. Karena bagi saya keduanya tidak pantas menyandang gelar itu. Yang satu tidak mempunyai kualifikasi untuk menyandang gelar se-terhormat itu dan yang satu lagi tidak pantas disebut dengan kata sekasar itu.

Pertanyaannya, sampai kapan ruang publik dikotori dengan pertunjukan dagelan konyol yang sangat tidak menyehatkan seperti itu? Saya tidak tahu. Yang jelas selama sebagian masyarakat dan negara melakukan pembiaran orang- orang kasar berkoar-koar di atas mimbar, fenomena memuakkan ini akan terus terjadi dan merajalela.

Kini tinggal bagian kita, masyarakat akal sehat yang pingin muntah melihat kelakuan mereka di depan mata. Kita tunggu saja langkah Presiden Jokowi memainkan bidak caturnya, siapa tahu masih ada bidak yang tersisa. Semoga…(sumber: mudanews.com)

Rudi S Kamri, adalah pengamat sosial politik Indonesia

Advertisements

Advertisements

Advertisements