OPINI – Berpolitik Untuk Mempertebal Rasa Percaya Diri

Advertisements

(Tanggapan Atas Referendum Jokowi Tiga Periode)

Oleh: Yakobus Fahik; Staf Pengajar Unimor dan Anggota Forum Diskusi Progresif TTU

Baru-baru ini ada sekompok orang yang melaksanakan referendum di Kupang. Maksud pelaksanaan referendum di Kupang adalah untuk mendorong Jokowi maju mencalonkan diri pada periode ketiga. Singkatnya, referendum menginginkan Jokowi tiga periode. Alasan Jokowi tiga periode adalah karena Jokowi bisa menjawabi kepentingan orang banyak terlebih masyarakat menengah ke bawah.

Atau dengan kata lain, Jokowi itu orang baik maka perlu maju lagi pada periode ketiga. Konstitusi yang membatasi masa kepemimpinan seorang presiden perlu didorong untuk  bisa diubah sesuai dengan tuntutan zaman (bdk kompas.com, 2021).  Begitulah rasionalisasi daripada penggagas referendum.

Sedangkan alasan, mengapa referendum diadakan di Kupang mungkin karena Jokowi memang dicintai masyarakat NTT. Bukti cinta tesebut dapat dilihat dengan pada pemilu presiden 2019, masyarakat NTT memilih lagi Jokowi. Jokowi dan Ma’aruf Amin memperoleh 88,75 % suara (katadata.co.id, 2019).

Jokowi pun mencintai orang NTT. Sejak dari periode pertama hingga periode kedua ini, Jokowi sudah mengunjungi NTT sebanyak 10 kali (tempo.co, 2019). Kunjungan yang luar biasa dibandingkan dengan presiden-presiden sebelumnya.

Jokowi juga memberi perhatian besar pada pembangunan infrastuktur di NTT.  Ada  membangun bendungan Raknamo, bendungan Rotiklot, bendungan Napun Gete, food estated di Sumba. Belum lagi masih dalam proses pembangunan adalah pembangunan bendungan Temef dan bendungan Kolhua. Dan masih ada lagi bangunan infrastruktur lainya di NTT.

Pertanyaannya, apakah atas rasionalitas demikian, yaitu rasa cinta kepada Jokowi dan karena Jokowi orang baik maka sebuah konstitusi diubah? Kalau diubah, bagaimana berhadapan dengan demokrasi itu sendiri?

Demokrasi artinya pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Ini artinya apa? Ini artinya demokrasi secara substantif percaya bahwa tiap-tiap orang itu mampu dan egaliter sehingga tiap-tiap orang ada hak untuk memilih dan dipilih dan berkesempatan  menjadi pemimpin.  Atas dasar ini, hal yang masuk akal adalah adanya pembatasan masa kepemimpinan seseorang. Status sosial, rasa cinta, orang baik, dan hal-hal lainnya tidak menjadi alasan untuk tidak membatasi masa kepemimpinan seseorang.

BACA JUGA:  Uskono Sebut Sirilus Seran Belum Kembalikan Mobil Innova dan Uang Rp 1,7 Miliar

Dari rasionalitas demokrasi demikian, apa yang ada di pasal 7 UUD 1945 hasil amendemen adalah tepat. Meminjam istilah yang diungkapkan oleh salah satu penggagas referendum adalah bahwa pasal 7 UUD 1945 hasil amendemen merupakan amanat agung refeormasi (bdk.kompas.com 2021). Jika konstitusi adalah amanat agung, dengan sendirinya referendum Jokowi tiga periode adalah sebuah tindakan yang melawan amanat agung itu.

Atau dengan kata lain juga, referendum Jokowi tiga periode adalah tindakan melawan diri sendiri dan menganggap diri sendiri hina-diri sendiri itu tidak mampu.

Akan sangat masuk akal, jika saat ini para penggagas referendum mencari figur baru yang akan bertarung pada pilpres 2024. Para penggagas bisa mencari orang yang secara spirit mendekati spirit Jokowi sehingga Jokowi di sini menjadi role model bagi presiden-presiden yang akan datang. Ini mungkin ungkapan rasa cinta yang masuk akal sekaligus menghargai diri sendiri sebagai orang yang mampu.

Esensi berpolitik itu artinya mempertebal rasa percaya diri atau mengafirmasi bahwa setiap orang adalah mampu. Dari esensi ini, maka tiap-tiap orang ingin bebas dan tidak mau dijajah. Pembukaan UUD 1945 sendiri secara tegas menunjukkan itu. Ungkapan “bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Oleh sebab itu, penjajahan di atas bumi harus dihapuskan” adalah sebuah ungkapan yang lahir dari rasa percaya diri dan bukan untuk meminta belas kasih dari bangsa lain agar bisa memperoleh kemerdekaan tersebut.

Para pendiri bangsa mempertegas bahwa manusia Indonesia adalah manusia yang sama dengan bangsa-bangsa lain. Manusia Indonesia bukan manusia hina—manusia inlander. Atau dari ilmu biologi pun kita belajar untuk lebih peraya diri. Ilmu biologi menyatakan bahwa manusia yang lahir adalah pribadi yang unggul—pribadi yang mampu karena ketika sel sperma bertemu dengan indung telur dan terjadi pembuahan di dalam rahim, hanya satu sel sperma saja yang berhasil. Ribuan sel sperma, dalam perjalanan ke rahim  mati karena tidak kuat menghadapi zat asam dari indung telur. Maka dari itu,  sangat masuk akal bahwa setiap manusia adalah pemenang sejak dari kandungan ibunya. Rasa percaya diri inilah yang seharusnya dikedepankan dalam berpolitik.

BACA JUGA:  Camat Akui Murid dan Guru Dipaksa Pindah ke Gedung Sekolah Mirip Kandang Sapi Atas Perintah Bupati TTU

Mengingat hal ini, maka referendum untuk mengubah konstitusi, bukanlah langkah yang tepat melainkan, meminjam pernyataan Jokowi sendiri adalah “upaya untuk menampar mukanya”. Demokrasi secara substantif menghendaki untuk tampil dengan lebih percaya diri dan bukannya mereproduksi rasa inlander. Karena itu, mari berpolitik dengan tetap  dan terus mempertebal rasa percaya diri itu dan bukan sebaliknya. (***)

Advertisements

Rujukan Bacaan:

https://bisnis.tempo.co/read/1207365/jokowi-mengaku-sudah-10-kali-ke-ntt-saya-sangat-cinta

https://regional.kompas.com/read/2021/06/22/072206678/dukung-jokowi-3-periode-warga-ntt-deklarasi-komite-referendum-masa-jabatan?page=all

https://katadata.co.id/muchamadnafi/berita/5e9a518b15261/jokowi-menang-di-21-provinsi-ini-daftar-hasil-pilpres-semua-provinsi

Advertisements