OPINI – Amour Pour Tous, Haine Pour Personne

Advertisements

Seorang kawan, Lukas Luwarso, filsuf masa kini menyarankan bahwa inilah konsekuensi ketika agama hadir terlalu menyolok dan memaksakan diri di ranah publik. Semua serba eksibisionis. Agama yang diniatkan untuk kebaikan yang menjadi relasi personal dengan Sang Khalik. Justru berubah menjadi patologi sosial, karena dijadikan identitas sosial.

OLEH: ANDI SETIONO MANGOENPRASODJO

Sebagai orang Jawa, saya dibesarkan dalam kepercayaan bahwa satu-satunya orang Arab yang saya percayai hanya Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah satu-satunya manusia sempurna dalam arti segala-galanya. Semua tindakannya selalu punya alasan mulia dan masuk akal. Teladannya nyaris abadi dan universal menjangkau segala zaman. Saya yakin sampai akhir zaman.

Hal yang paling saya kagumi tentu saja kebersahajaannya. Sesuatu yang hilang jejak di masa kini. Umatnya, menyanjungnya tapi nyaris melupakan satu watak paling mulia tersebut.

Kalau pun, pernah bersahaja, lagi hidup sederhana. Itu hanya menunggu untuk mencari level umum, yang serba keberlimpahan. Itu ternyata dalam doa, tersirat dalam caranya berusaha. Tidak salah, tapi telah ingkar sejak dalam pikiran (minimal menurut saya). Saya pun begitu… Sikapnya yang penuh asih, sarat cinta, rasa hormat dan mengedepankan pilihan damai. Akan terus dikenang, tapi bukan untuk diamalkan.

Dahulu ada jargon, orang mengalah karena menunggu saat menjadi kuat.
Orang mau dipimpin, tapi tentu akan berubah sifat ketika ia memimpin.
Intinya adalah apa yang dalam kultur Jawa disebut “cakra manggilingan”.
Azas roda itu berputar…Tapi sekali lagi itu dulu!

Saat ini, orang tak perlu menunggu lama untuk bereaksi. Tak butuh pasukan atau pengikut banyak untuk menunjukkan sikapnya. Ini zaman, dimana “nglurug tanpa bala” terwujud dalam arti yang negatif.

Tak butuh pasukan, karena mereka sadar berada dalam masyarakat terbelah.
Sebejad atau sekeji apa pun, pasti tiba-tiba ada dan datang “para pembela”.
Ironisnya “para pembela” ini adalah cara mencari perikehidupan yang baru.
Di dunia bahkan di akhirat kelak.

Di dunia ini adalah cara hidup paling yang paling in-produktif tapi disarankan. Bagi para pemberani yang tak butuh akal, ini semacam “short-cut” beroleh kapling surga.Entah kapling yang mana, namun mereka toh percaya.
Di alam dunia, cukup banyak bohir yang mau mendanai untuk kepentingan apa saja.

Di Perancis, perbenturan paling keras ini terjadi. Bukan pertama dan jelas tak akan pernah berakhir. Ironis, tragis, tapi nyata. Perancis khususnya dan Eropa pada umumnya, akan selalu dianggap sebagai “Bumi Allah” sebagai medan juang.

Sementara si tuan rumah akan belibet sendiri, karena jebakan ideologinya sendiri. Karena si pendatang justru bisa seenaknya berlindung di balik “kebelibetan” si tuan rumah. Jargon yang mereka agung-agungkan: egalite fraternite liberte telah menikam mereka sendiri. Di rumah mereka sendiri dan mereka tak berdaya.

Mereka yang tak butuh teladan perilaku luhur: dimana tanah dipijak, di situ langit dijunjung. Mereka tak butuh peribahasa apa pun. Selama rumah berlindung mereka adalah sektarianisme agama. Di sini sebenarnya Islam bukanlah rumah mereka. Dan Muhammad bukanlah teladan dan junjungan, sebagaimana selama ini mereka agung-agungkan. Kanjeng rasul Muhammad pasti menangis, walau tak kaget melihat perilaku para umatnya.Toh, telah jauh hari beliau meramalkannya.

Apa yang terjadi hari ini adalah keniscayaan, apa yang sebenarnya sudah pula terjadi hanya beberapa tahun setelah beliau juga meninggal. Pengkhianatan atas nama yang “embuh” itu ..

Islam adalah agama yang sempurna, diajarkan oleh figur Muhammad yang juga super-idealnya. Tapi umatnya adalah persoalan yang lain lagi. Memandang Islam dari sisi umat yang tolol itu jelas salah. Walau tentu banyak fansnya…

Seorang kawan, Lukas Luwarso, filsuf masa kini menyarankan bahwa inilah konsekuensi ketika agama hadir terlalu menyolok dan memaksakan diri di ranah publik. Semua serba eksibisionis. Agama yang diniatkan untuk kebaikan yang menjadi relasi personal dengan Sang Khalik. Justru berubah menjadi patologi sosial, karena dijadikan identitas sosial.

Problem muncul ketika “identitas sosial” yang disakralkan bertemu di ruang publik. Masing-masing merasa paling sakral, hingga terjadi benturan.
Hal sesungguhnya bisa diredam dengan mengembalikan agama ke wilayah privat, dan harus rela wilayah publik tetap sebagai “market place of faiths”.

Dalam kasus Indonesia apa ya tumon? Apa ya bisa kelakon. Kalau agama justru telah menjadi menjadi market place untuk mencari kehidupan. Agama yang mengalami dekandensi secara sangat keterlaluan. Jauh dari apa yang diteladankan Sang Rasul yang penuh kasih itu.

Karena itu saya lebih percaya pada jargon abadinya yang justru diteladankan secara satir oleh para agnostic itu:
Amour pour Tous, Haine pour Personne
Love for all, hatred for no-one

Artinya: Cinta untuk semua, benci tidak untuk sesiapa pun…

Penulis adalah Direktur The Heritage Society, Jakarta. Peneliti lepas. Tinggal di Jakarta

Advertisements

Advertisements

Advertisements