Oknum Dosen Cabul di Unimor Diduga Rekayasa Surat Pernyataan Berdamai

Advertisements

Kami berdamai untuk kasus keributan di tenda duka. Bukan berdamai soal pencabulan terhadap anak perempuan saya. Kasus pencabulan terus berlanjut proses hukumnya,” pungkas Lasa.

Ayah Korban Percabulan Diintimidasi dan Dipukul

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Oknum dosen cabul berinisial WT, yang mengajar di Program Studi Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Universitas Timor (Unimor) kini membuat masalah baru.

Dia diduga keras merekayasa surat pernyataan damai kasus percabulan yang dilakukannya terhadap mahasiswanya sendiri yang berinisial AB (21), mahasiswi di Faperta Unimor.

Untuk memuluskan rekayasa itu, Nikolaus Lasa, ayah dari korban percabulan diintimidasi serta sempat dianiaya oleh kerabat korban atas fitnahan oknum dosen cabul.

“Saya tandatangan surat pernyataan damai untuk kasus berbeda. Bukan untuk kasus percabulan. Dan pemaksaan itu terjadi di Kantor Polsek Insana,” jelas Nikolaus Lasa.

Dan surat pernyataan damai itu, lanjut Lasa, akan dipakai oknum dosen itu untuk melaporkan ke Rektor Unimor bahwa kasus percabulan sudah diselesaikan secara damai.

BACA BERITA SEBELUMNYA: BREAKING NEWS: Oknum Dosen Cabul di Fisipol-Unimor Dibebastugaskan

“Dia paksa saya untuk bertemu Rektor Unimor, menjelaskan bahwa sudah berdamai. Padahal kami berdamai untuk kasus lain, bukan kasus percabulan,” beber Lasa.

Kronologinya, pada akhir bulan Januari 2021 lalu, salah satu kerabatnya meninggal dunia di Tuamau. Lasa hadir di sana untuk melayat. Oknum dosen cabul itu juga hadir.

Lalu terjadi pertengkaran mulut antara mereka berdua yang berujung penyelesaian di Polsek Insana.

Di hadapan polisi, oknum dosen cabul mengaku dihina, dimaki dan diancam. Karena itu sang dosen membuat laporan polisi bernomor: LP 05/1/2021/PolSek Insana tanggal 29 Januari 2021.

Lalu oleh polisi, kedua pihak diurus untuk berdamai. Dan kedua pihak sepakat berdamai. Dan proses itu tidak melibatkan anak kandungnya AB, sebagai korban.

“Tapi anehnya sang dosen memaksa supaya surat pernyataan damai harus untuk dua masalah, yaitu percabulan dan keributan di tenda duka. Tapi saya menolak,” tandas Lasa.

Karena menolak, ia diintimidasi serta dianiaya salah satu kerabatnya yang bernama Martinus Abi Suni.

“Jadi begitulah duduk persoalannya. Kami berdamai untuk kasus keributan di tenda duka. Bukan berdamai soal pencabulan terhadap anak perempuan saya. Kasus pencabulan terus berlanjut proses hukumnya,” pungkas Lasa. (jude)

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements

Advertisements