Merajut Harmoni dari Kampung Seberang Jalan

Advertisements

Ansel Djogo bersama para perwira Korem 161/Wirasakti Kupang
TOKOH pemuda di Naibonat, Kupang Timur, Anselmus Djogo, akhirnya bernafas lega. Pasalnya Danrem 161/Wira Sakti Kupang, Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa, SE, MM, dan Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, berkenan hadir dalam acara peletakan batu pertama pembangunan enam rumah ibadat di Kelurahan Naibonat, Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Sabtu (7/1/2017) siang.
“Kedua pejabat itu juga berkenan membubuhkan tandatangan pada prasasti. Saya rasa langkah kaki saya agak ringan dan merasa lega. Sebab impian saya membangun Kampung Toleransi mendapat dukungan politis dari semua pihak,” jelas Djogo, saat dihubungi Selasa (10/1/2017) malam.
Kepada halamansembilan.com, Djogo berceritera awal mimpinya membangun Kampung Toleransi di Naibonat, Kupang Timur. Mimpi itu diawali dari perjuangan para purnawirawan dan warakawuri sejak tahun 1980 untuk mendapatkan hibah tanah transad dari TNI AD guna membangun pemukiman dan lahan perkebunan. Jumlah mereka ada 35 KK.
“Saya sebagai anak kolong atau anak dari purnawirawan merasa terpanggil untuk membantu mendapatkan tanah transad tersebut. Saya mulai berjuang bersama 35 KK itu sejak tahun 2005 lalu,” kisah Djogo.
Ia bersama utusan warga mencoba membangun koordinasi dengan Pemkab Kupang, DPRD Kabupaten Kupang, Korem 161 Wira Sakti Kupang, Pangdam IX Udayana, Kasad, dan Menhan/Pangab ABRI untuk menyampaikan tuntutan para purnawirawan/warakawuri asal Naibonat.
“Saya bersurat, bertemu langsung, bahkan ikut rapat dengar pendapat di gedung DPRD Kabupaten Kupang. Saya juga harus terbang ke Denpasar dan Jakarta untuk bertemu langsung dengan Pangdam IX Udayana, Kasad dan Pangab ABRI. Itu semua pakai uang sendiri,” kisahnya.
Perjuangan yang melelahkan itu mulai mendapat titik terang ketika Djogo bertemu Danrem Wira Sakti Kupang Brigjen TNI Achmad Yuliarto, S.Sos, M.Ap. Sinergi mendapat sambutan baik. Koordinasi berjalan bagus ditambah dukungan moral terus-menerus.
“Suatu kali, masih pagi sekali, saya datang ketemu Pak Brigjen Yuliarto di ruang kerjanya. Saya bilang sama beliau, tanah yang kami perjuangkan itu hanya kecil saja ukurannya. Cuma untuk bangun rumah yang layak, lahan untuk tanam jagung dan sisanya untuk bangun 4 rumah ibadat secara berdampingan. Sisa tanah lainnya kami serahkan ke TNI AD untuk bangun markas di Naibonat. Dan curhat saya itu mendapat respons luar biasa dari Pak Brigjen Yuliarto,” kisah Djogo.
Usulan itu kemudian dituangkan dalam surat dan dikirim kepada para petinggi militer di Denpasar dan Jakarta. Akhirnya, kata Djogo, datang perintah dari Mabes TNI di Jakarta guna memproses permintaan dan usulan mereka.
“Karena sudah mendapat isyarat lampu hijau, maka pada tanggal 12 Juni 2015, saya undang Pak Brigjen Yuliarto untuk buat acara peletakan batu pertama untuk pembangunan 4 rumah ibadah di lokasi tanah Transad TNI di Naibonat. Saya bilang, kita harus mulai sekarang. Yang baik pasti akan membuahkan berkat yang baik pula. Saya nekat sekali sebab tidak ada dana untuk pembangunan fisik. Kami cuma ingin kirim pesan soal semangat moral tentang toleransi antarumat beragama,” jelas Djogo.
Namun upaya itu sedikit terhenti karena terjadi pergantian tongkat Komando Danrem Kupang ke pejabat baru, Brigjen TNI Herry Wiranto. Dalam fase ini, ia sama Danrem yang baru fokus mengurus administrasi guna mendapat legalitas hukum atas perjuangan tanah itu. Dan semuanya dapat dirampungkan jelang akhir tahun 2016.
“Lalu Pak Brigjen Wiranto bilang, kalau boleh ditambah lagi. Jangan cuma 4 rumah ibadah. Tapi jadi 6 rumah ibadah. Jadi kami tambah agama Budha dan Kong Hu Chu. Dan saya menyanggupinya,” kata Djogo.
Ketika Brigjen Wiranto meninggalkan Kupang, Djogo mengajak Danrem 161/ Wira Sakti Kupang yang baru, Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa, SE, MM, untuk peletakan batu pertama bagi 6 rumah ibadah. Dan itu sudah dilakukan Sabtu (7/1/2017) lalu.
“Dukungan moril dan politis sudah ada. Yang jadi soal sekarang, kami tidak punya duit sepeserpun. Saya sangat berharap Pemkab Kupang, Pemprov NTT dan pemerintah pusat membantu kami dana untuk pembangunan fisik 6 rumah ibadah itu,” pinta Djogo berharap.
Ketua Forum Kuan Naek Pah Timor, Metu Oematan, yang dimintai komentar terpisah, mengatakan kagum dan angkat topi bagi Djogo.
“Saya belum kenal pribadi. Tapi kerja-kerja dia selama ini bersama para purnawirawan/warakawuri sudah saya ikuti sejak tahun 2005. Sangat langka punya anak muda bersemngat seperti Pak Djogo. Anak muda yang peduli tentang hidup harmoni dan toleransi antarumat beragama,” jelas Oematan kagum.
Ia minta pemerintah dan DPRD Kabupaten Kupang agar jangan jadi penonton saja. Tapi ikut mendukung dengan alokasi dana bagi pembangunan fisik 6 rumah ibadat itu.
“Saya ibaratkan enam rumah ibadat itu sebagai kampung toleransi. Atau kampung harmoni yang ada di seberang jalan. Kenapa di seberang jalan? Karena ada di depan mata tapi terasa sangat jauh untuk didekati. Artinya pemerintah sudah lihat upaya pembangunan 6 rumah ibadah itu namun masih sebatas menonton dari seberang jalan. Cobalah dukung dengan dana. Kalau berani,” kritik Oematan.
Salah satu tokoh agama, Pendeta Emeritus Wellem Benyamin, yang dimintai tanggapan, mengatakan sangat mendukung pembangunan kampung toleransi itu.
“Tapi jangan berhenti saja di pembangunan fisik semata. Tapi juga bangunan mental dan rohani seperti wawasan kebangsaan, semangat toleransi dan iman juga harus terus-menerus dibangun oleh semua stakeholder yang ada. Jangan cuma berharap dari tokoh agama semata,” pintanya.
Bupati Kupang, Ayub Titu Eki berjanji akan membantu pengurusan sertifikat tanah bagi pembangunan 6 rumah ibadah itu.
“Gratis sertifikatnya. Sedangkan yang lain-lainnya akan dibicarakan dulu dengan DPRD Kabupaten Kupang. Biar ada bantuan alokasi dana,” janji Titu Eki. Semoga. (*)
Laporan & Editor: Julianus Akoit
Advertisements

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here