Menulis Cerpen, Bukanlah Berceritera…

Advertisements

OLEH: Julianus Akoit

SEBENARNYA ceritera pendek (Cerpen) “Kabar Kepada Sahabat” (KKS) karya Taty Gantir mengangkat tema soal cinta. Tentang si aku yang jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Letisia. Gadis cantik itu ternyata anak Om Pe’u, seorang kepala desa di pedalaman Pulau Timor. Si aku (protagonis) yang kemudian diketahui bernama Joe, adalah seorang bujang lapuk yang benar-benar mabuk kepayang melihat kecantikan Letisia. Perasaan mabuk kepayang si aku ini, ditegaskan dalam kalimat berikut: (…)Sobat, untuk mendapatkan Letisia, saya bekerja lebih keras membantu Om Peu mengawasi ternak-ternaknya. Bahkan menjalani hidup sama seperti Yakub yang demi Rahel bekerja siang malam sebagai gembala ternaknya. (…)

BACA CERPENNYAKabar Kepada Sahabat

Tema percintaan sebenarnya sangat klise. Biasa-biasa saja, bukan sesuatu yang baru. Tetapi bagi pengarang fiksi yang kreatif berlaku adagium seperti ini: nothing new under the sun. Tak ada lagi yang baru di bawah matahari. Segala yang usang itu itu akan menjadi baru di tangan pengarang yang kreatif. Tema yang usang bisa menjadi ‘luar biasa’ setelah dijadikan cerpen atau novel. Persoalannya, apakah Taty Gantir telah berhasil menjadikan cerpen KKS menjadi sebuah karya sastra yang luar biasa?

Taty Gantir membuka cerpen KKS dengan penjelasan basa-basi protagonis terhadap kekuatiran sahabatnya karena ia sudah lama tidak memberi kabar. Lalu pengarang mengungkapkan bahwa protagonis sedang porak-poranda dihantam badai tsunami dan gempa cinta. Untuk melukiskan suasana batin (perwatakan) protagonis yang sedang mabuk kepayang karena jatuh cinta itu, pengarang menggambarkan bagaimana dasyatnya gempa Jepang berkekuatan 8,9 Ricther.

Banyak pengarang (cerpenis) pemula cuma bisa ‘berceritera’. Padahal menulis cerpen tidak sama dengan berceritera. Berceritera adalah pekerjaan ‘tukang’ ceritera, sedangkan pengarang adalah seniman kreatif. Pengarang cerpen berceritera tetapi ceriteranya kreatif dan bernilai estetis. Ia memaparkan ceriteranya atas dasar kaidah-kaidah prosa yang baik. Tetapi tukang ceritera mempersetankan semua itu. Cerpenis dikatakan berhasil apabila ceriteranya meninggalkan kesan tunggal namun mendalam. Tetapi tukang ceritera cuma bisa membuat pembaca merasa gembira tanpa menyerap manfaat apa pun bagi kekayaan batinnya.

Membuka cerpen adalah pekerjaan paling berat seorang pengarang. Mengapa? Sebab selain judul, paragraf pertama adalah etalase sebuah cerpen. Gaya tarik sebuah toko terletak di balik kaca depannya yang memajang barang-barang yang ditawarkan kepada pembeli. Demikian pula halnya sebuah cerpen. Jika paragraf pertamanya terkesan biasa-biasa saja, maka pembaca tidak akan melanjutkan membaca cerpen itu. Taty Gantir sudah berhasil ‘mengalir’ dalam berceritera, namun etalase cerpen KKS sangat datar dan biasa-biasa saja. Bahkan terkesan melantur ketika ia mengaitkan dengan gempa Jepang untuk melukiskan perwatakan protagonis.

BACA JUGA:  PUISI: Sebuah Buku yang Kutulis di Akhir Tahun

Cara membuka cerpen KKS yang melantur itu berdampak pula pada plot (alur) penceriteraannya. Hampir setengah dari isi cerpen KKS ini melukiskan hal ‘tetek bengek’ yang tidak perlu. Akibatnya plot ceritera seperti memutar jauh dari pokok persoalan. Padahal cerpen yang baik dicirikan oleh pelukisan plot yang tunggal, deskripsi yang kental dalam kalimat yang pendek-pendek namun menyihir imajinasi pembaca untuk terus menggauli isi cerpen itu hingga tuntas di akhir kalimat.

Mungkin nasehat Helvy Tiana Rosa ini bisa kita simak dan dijadikan referensi. “Cerpenis-cerpenis pemula biasanya kurang memperhatikan proporsionalitas struktur cerita. Banyak di antara mereka yang berpanjang-panjang ria dalam menulis pembukaan cerpennya. Mereka menceritakan semua, seolah takut para pembaca tak mengerti apa yang akan atau sedang mereka ceritakan. Akibatnya sering satu sampai dua halaman pertama karya mereka masih belum jelas akan menceritakan tentang apa. Hanya pengenalan dan pemaparan yang bertele-tele dan membosankan. Konflik yang seharusnya dibahas dengan lebih jelas, luas dan lengkap, sering malah disinggung sambil lalu saja. Pengakhiran konflik pun dibuat sekedarnya. Tahu-tahu sudah penyelesaian. Padahal inti dari cerpen adalah konflik itu sendiri. Jadi jangan sampai pembukaan cerpen menyamai apalagi sampai menelan konflik tersebut.”

Lukisan plot yang tidak tunggal dan fokus, juga berdampak pada pelukisan karakter tokoh Aku alias Joe. Protagonis dan tokoh pendukung dalam cerpen KKS ini hampir mirip ‘orang-orangan’ yang dipajangkan di atas kertas. Tokoh tanpa ‘darah dan daging’, tokoh tanpa pelukisan jiwa yang maksimal. Padahal di dalam sebuah cerpen dituntut adanya jiwa (kehidupan) yang dimanifestasikan dalam karakter tokoh. Dari ratusan cerpen yang masuk ke meja redaksi, banyak pengarang yang kewalahan menghidupkan karakter tokoh dalam ceriteranya. Karakter tokoh bisa ditangkap dari dialog dan lukisan latar (setting). Boleh lewat narasi tapi bukan narasi yang panjang-panjang. Taty Gantir sudah berupaya menghidupkan karakter protagonis Joe lewat dialog-dialog dan gemuruh batiniah, cuma belum fokus dan belum maksimal.

BACA JUGA:  PARADE PUISI - Verba Molant, Scripta Manent

Selanjutnya bila analisa stilistika dipakai sebagai cermin untuk membedah cerpen KKS, maka hasil karya Taty Gantir ini masih belum dikategorikan sebuah karya sastra yang serius. Gaya (style) bahasa masih sederhana. Manipulasi kreatif sang pengarang dengan menggunakan daya magis kata-kata untuk membangun imajinasi pembaca belum maksimal kendati bakat itu tampak.

Sengaja cerpen KKS karya Taty Gantir dibahas di sini, karena banyak cerpen sejenis yang masuk ke redaksi. Banyak kekeliruan dan kelemahan yang sama, yang berulang kali dilakukan para pengarang. Dengan ‘menyapa’ cerpen KKS ini, semoga tidak ditemukan lagi kekeliruan dan kesalahan yang dibuat oleh pengarang lain.

Banyak pengarang (cerpenis) pemula cuma bisa ‘berceritera’. Padahal menulis cerpen tidak sama dengan berceritera. Berceritera adalah pekerjaan ‘tukang’ ceritera, sedangkan pengarang adalah seniman kreatif. Pengarang cerpen berceritera tetapi ceriteranya kreatif dan bernilai estetis. Ia memaparkan ceriteranya atas dasar kaidah-kaidah prosa yang baik. Tetapi tukang ceritera mempersetankan semua itu. Cerpenis dikatakan berhasil apabila ceriteranya meninggalkan kesan tunggal namun mendalam. Tetapi tukang ceritera cuma bisa membuat pembaca merasa gembira tanpa menyerap manfaat apa pun bagi kekayaan batinnya. (***)

Advertisements

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here