Mempersoalkan Kesalehan Dalam Cerpen Felix K. Nesi

Advertisements

Oleh: Gusty Fahik*

 

Catatan Awal

Felix K. Nesi adalah salah satu penulis muda asal NTT yang hingga kini cukup produktif melahirkan karya sastra berupa cerita pendek (cerpen) dan puisi. Sejumlah karyanya telah dipublikasikan di berbagai media cetak seperti Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, buku antologi puisi dan media-media online. Tahun 2016, penulis ini menerbitkan buku kumpulan cerita pendek yang dikasih judul Usaha Membunuh Sepi.

Jika dicermati, ada sebuah hal menarik dari kepenulisan Felix, yakni kecenderungan untuk mengusung persoalan-persoalan sosial masyarakat NTT dalam karya-karyanya. Tentu saja masyarakat pembaca bisa menilai bahwa Felix bukanlah orang pertama yang melakukan hal demikian. Sudah banyak pula penulis-penulis NTT yang mengusung tema-tema lokal dalam karya-karya yang mereka hasilkan. Namun, bukan persoalan itu yang akan saya soroti dalam artikel ini.

Persoalan yang akan saya tulis di sini lebih merujuk pada cerita pendek yang dihasilkan Felix Nesi pada akhir 2017 lalu. Cerpen yang saya maksud berjudul Kutukan Perempuan Celaka (basabasi.co 22/12/2017). Saya tidak akan menceritakan ulang isi cerpen itu, tetapi saya akan langsung masuk ke persoalan-persoalan sosial yang diusung dalam cerpen itu. Dengan demikian saya hanya akan menyinggung bagian-bagian cerita yang menurut saya sesuai dengan maksud tulisan ini.

Memeriksa Kesalehan, Membaca Kisah Marta dan Neeta

Dalam cerpen terakhirnya, Felix dengan cukup gamblang mengangkat aneka persoalan yang dihadapi masyarakat NTT, secara khusus mayarakat Timor. Ia menyentil persoalan budaya seperti praktik sunat tradisional masyarakat Dawan-Timor, pengangguran, pekerja migran (TKI/TKW), pelacuran, agama hingga ekspresi kebutuhan seks yang dianggap menyimpang dalam masyarakat. Persis pada persoalan terakhir, yakni ekspresi kebutuhan seks inilah hemat saya, Felix menguliti persoalan kesalehan yang dipraktikkan dalam masyarakat.

Dalam cerpennya, Kutukan Perempuan Celaka, Felix memperhadapkan secara langsung konsep dan praktik kesalehan dengan konsep dan praktik seksual yang menyimpang dalam diri tokoh Marta dan Neeta. Marta adalah seorang janda yang menjadi guru agama di SMP Negeri Koknaba, sementar Neeta adalalah pelacur yang setiap hari menjajakan tubuhnya kepada pemuda-pemuda kampung maupun prajurit-prajurit penjaga perbatasan yang membutuhkan jasa dan tubuhnya.

“Perjumpaan” Marta dengan Neeta terjadi setelah tokoh utama cerita pendek itu tertangkap basah sedang tidur bersama Neeta di dalam salah satu kamar di rumah Om Kailakus, pria paling dihormati di kampung itu. Mereka diseret keluar dan dihakimi di halaman rumah Om Kailakus yang seluas lapangan voli. Felix menggambarkan adegan penghakiman itu seperti dikutip di bawah ini.

Sementara tengkorak saya kena tumbuk, Tanta Marta, seorang janda yang mengajar agama di SMP Negeri Koknaba, menampar-nampar wajah Neeta sambil meludahi dan memakinya. “Lonte! Tidak tahu malu! Perempuan gatal!”Neeta diam saja tanpa bicara. Rambutnya kusut kena ludah dan gamparan, dan susunya melela ke sana kemari. Jika bukan karena hardik Am Teutfatu sang Mantan Lurah, susu itu telah terbang lepas dari dadanya.

“Jangan asal pukul!” hardik Am Teutfatu dalam bahasa Dawan. “Bahkan Usi Yesus tidak memukul pelacur!”

Benturan antara Marta dengan Neeta dalam adegan ini, bukan hanya melibatkan fisik, melainkan juga benturan antara dua representasi yang bertolak belakang. Marta sebagai guru agama merepresentasikan sebuah kehidupan yang dalam arti tertentu lebih baik, lebih suci dan bisa dianggap lebih dekat dengan Tuhan. Sementara Neeta adalah kebalikannya. Ia adalah seorang pelacur, representasi sebuah dunia yang kotor, berkubang dosa dan karena itu jauh dari Tuhan.

BACA JUGA:  CERPEN - Katharina

Dari gambaran adegan di atas, jelas terlihat bahwa Marta sebagai representasi orang suci dan baik merasa punya hak dan kekuasaan untuk memberi pelajaran kepada Neeta. Marta sedang menjalankan tanggung jawabnya sebagai guru agama, yakni penjaga gawang moral yang perlu menunjukkan bahwa pelaku kejahatan moral seperti Neeta patut dihukum secara fisik. Menghukum orang seperti Neeta adalah bagian dari tanggung jawabnya dalam memerangi kebobrokan moral yang sedang melanda kampungnya itu.

Sebaliknya, Neeta jelas tidak melawan. Bukan hanya ia tidak bisa, melainkan juga karena ia tidak memiliki kekuasaan oleh karena laku hidupnya yang jauh dari kesucian. Ia adalah pelaku kejahatan moral yang tertangkap basah berbuat mesum di rumah seorang pria paling dihormati di kampung itu. Tidak ada jalan lain selain pasrah pada keadaan, termasuk menanggung dengan tabah setiap rasa sakit yang diberi entah lewat pukulan tangan atau kata-kata hinaan.

Demikianlah dari sebuah adegan dalam cerpen Kutukan Perempuan Celaka, beberapa hal dapat ditarik untuk dicermati sebagai strategi penulis mengobok-obok konsep kesalehan sosial yang ternyata cuma dijadikan selubung bagi kebobrokan yang disembunyikan. Hanya yang terlihat oleh publik sajalah yang dianggap salah, sementara hal-hal tersembunyi tidak perlu disesali meski tidak bisa dibenarkan secara moral.

Jika adegan ini dihubungkan dengan kenyataan yang hidup dalam masyarakat kita, maka adegan ini adalah representasi yang nyaris sempurna untuk skandal-skandal serupa. Dengan demikian, bila karya sastra sebagai sebuah ekspresi seni dianggap sebagai tiruan (mimesis) atas kenyataan, maka boleh jadi adegan ini adalah tiruan yang dalam kadar tertentu mendekati kebenaran tentang apa yang terjadi dalam masyarakat.

Sekiranya kita juga perlu menyimak kelanjutan adegan penghakiman yang melibatkan kekerasan fisik dan verbal itu, dengan memerhatikan apa yang dikatakan Am Teutfatu dalam upayanya menghentikan tindakan Marta si guru agama. Am Teutfatu mengingatkan Marta dengan menyebut nama Tuhan, Usi Yesus.

Teguran Am Teutfatu ini dengan segera mengingatkan pembaca yang akrab dengan Kitab Injil pada peristiwa ketika seorang perempuan yang berzinah di bawah ke hadapan Yesus. Dalam Injil dikisahkan, Yesus hanya menulis di tanah lalu mempersilakan siapa yang tidak pernah berbuat dosa untuk melempari perempuan itu dengan batu. Mereka yang membawa perempuan itu mundur sati-satu hingga akhirnya perempuan itu ditinggalkan sendirian, lepas dari orang-orang yang bernafsu menghukum itu.
Felix melukiskan reaksi Marta yang kurang lebih sama dengan mereka yang ada di dalam Injil. Berhadapan dengan teguran Am Teutfatu, Marta menghentikan aksi kekerasan yang dilancarkannya kepada Neeta, demikian pula beberapa lelaki yang sejak tadi memukuli tokoh utama cerita itu.

Setidaknya ada dua hal menarik yang bisa dijelaskan berdasarkan cara para penghukum merespon perintah Am Teutfatu dalam kesejajarannya dengan kisah Injil itu. Pertama, Am Tetfatu memainkan salah satu strategi paling usang dalam menenangkan amarah; menghardik dengan menyebut nama tertentu atau mengutip kalimat tertentu yang dianggap punya kuasa melebihi orang yang sedang terbakar amarah.

BACA JUGA:  PUISI: Malam...

Ketika menyebut nama Yesus, Am Tetfatu menghadirkan kepada Marta dan para penghukum itu, sosok yang memiliki level kesucian dan derajat kebaikan jauh melampaui mereka semua. Jika sosok Yesus yang menjadi panutan bagi Marta dan orang-orang kampung itu bisa menunjukkan kesabaran kala berhadapan dengan perempuan yang berzinah, siapakah Marta yang hanya guru agama itu sehingga menghukum Neeta si pelacur dengan begitu kejam?

Kedua, reaksi Marta dan para penghukum juga menunjukkan bahwa mereka sedang mengidentifikasi diri sebagai yang tidak jauh berebeda dengan orang-orang yang membawa si perempuan pezinah kepada Yesus, seperti dikisahkan Injil. Artinya, mereka berhenti menghukum bukan semata-mata didorong oleh ketaatan pada teladan Yesus, melainkan oleh perasaan bahwa mereka juga adalah orang-orang bersalah yang tidak punya hak untuk menghukum sesamanya. Mereka malu dengan kepada diri mereka sendiri yang ternyata tidak lebih suci dari si perempuan yang hendak mereka hukum.

Benarkah para penghukum, termasuk Marta si guru agama memiliki dosa yang mengganjal hatinya sendiri di luar pengetahuan masyarakat kampung? Felix memberi jawab terhadap pertanyaan ini dengan sebuah kejutan yang disiapkannya pada kelanjutan dari cerita itu.

Marta, dalam kapasitasnya sebagai guru agama ternyata tidak sesuci yang coba ia pamerkan di hadapan seorang perempuan pelacur dan khalayak yang berkerumun di halaman rumah Om Kailakus yang terhormat itu. Diam-diam Marta si guru agama melakukan hal lain yang bisa saja jauh lebih buruk dari apa yang dilakukan Neeta si pelacur.

Jauh sebelum kesialan menimpa tokoh utama dan Neeta si pelacur, Marta sudah sering memainkan alat kelamin si tokoh utama dengan tangan dan lidahnya. Artinya, Marta bisa dianggap seorang pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur, jika kita menghitung rentang usia si tokoh yang baru beranjak pemuda ketika naas menimpa dirinya bersama si pelacur Neeta.

Membuka Cadar Kemunafikan

Marta dan Neeta dalam cerpen Kutukan Perempuan Celaka dipakai Felix untuk membuka cadar kemunafikan yang menutup wajah masyarakat kita. Kemunafikan tanpa banyak disadari kadang dipraktikkan dengan sangat gamblang oleh tokoh-tokoh yang dianggap memiliki otoritas moral, misalnya pemuka agama atau tokoh masyarakat tertentu. Inilah sebabnya, mengapa status Marta sebagai guru agama menjadi menarik untuk dibahas.

Di kampung-kampung di Timor, sosok guru agama sejak lama menjadi panutan yang dalam kadar tertentu mesti dilihat sebagai pemilik kualitas moral jauh di atas orang kebanyakan. Selain memiliki pengetahuan agama, mereka juga diandaikan bisa memberi contoh bagaimana ajaran-ajaran suci agama dipraktikkan dalam hidup sehari-hari. Mereka akrab dengan Kitab Suci dan dekat pula dengan altar tempat ritus-ritus agama dirayakan. Dengan demikian, kualitas moral dan kadar kesucian mereka tidak perlu diragukan lagi. Bahkan mereka adalah penghubung komunikasi antara umat/jemaat dengan imam (pendeta/pastor).

Kisah Marta di sebuah kampung pedalaman Timor ini mengingatkan saya pada kasus pedofilia yang menimpa pastor-pastor di Australia dan Amerika Serikat. Sebagian pelaku pedofilia itu kemudian diproses menurut hukum negara dan dijatuhi hukuman penjara. Di Indonesia pun kasus serupa bisa dilihat dalam beberapa kasus pengasuh pondok pesantren yang melakukan pelecehan seksual terhadap para santri/santriwati.

BACA JUGA:  Parade Puisi Penyair Yohan Mataubana

Jika ditarik ke ranah politik atau urusan publik, tidak sedikit pelaku korupsi justru orang-orang yang menampakkan diri sangat taat beragama. Mereka tidak pernah malu menampilkan simbol-simbol tertentu yang dengan tegas menunjukkan kesalehan religius di depan publik, tetapi di balik itu mereka justru melakukan tindak pidana korupsi tanpa rasa bersalah. Bahkan, mereka yang sebelumnya dikenal tidak terlalu suka memamerkan simbol-simbol agama bisa seketika melekat dengan simbol-simbol keagamaan ketika terkena kasus korupsi atau kasus-kasus lain.

Pada sisi lain, gambaran yang dikonstruksi Felix terhadap sosok Marta menyingkap pula sebuah tabir tentang apa yang dipahami sebagai skandal. Rupanya hal buruk yang dilakukan tanpa pengetahuan publik tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang salah. Artinya sesuatu baru dianggap salah dan barangkali melahirkan penyesalan ketika terungkap di hadapan publik atau ketika para pelakunya tertangkap basah.

Hal ini bisa diamati dengan jelas dalam ketiga tokoh yang sengaja saya ulas dalam artikel ini. Semua orang kampung sudah mahfum bahwa Neeta adalah seorang pelacur dan tentu saja apa yang dilakukannya di kampung itu tidak bisa dibenarkan secara moral. Namun, sebelum hari naas itu, Neeta menyediakan layanan ranjang di tempat tertutup. Tidak ada orang yang pernah menangkap basah Neeta tidur bersama laki-laki dan karena itu Neeta tetap bisa hidup di antara orang-orang kampung itu. Cerita-cerita tentang sepak terjang Neeta bisa saja hanya tinggal sebagai desas-desus yang singgah dari telinga ke telinga warga kampung.

Akan halnya si tokoh utama (Aku). Ia dengan gamblang mengisahkan perilaku seksualnya entah dengan batang pisang, nenek renta yang menampungnya, maupun cucu si nenek tanpa merasa terbebani secara moral. Ia justru merasa tersiksa secara moral ketika akan memilih untuk tidur dengan Neeta si pelacur atau tidak. Ia membayangkan jangan sampai adiknya yang perempuan akan mengalami nasib seperti Neeta, sehingga ia dengan tegas menetapkan pilihan untuk tidur dengan pelacur. Anehnya, kecemasan ini tidak muncul dalam dirinya ketika ia melampiaskan hasrat seksnya dengan nenek renta, dan seorang gadis kecil cucu si nenek.

Demikianlah dari sebuah adegan dalam cerpen Kutukan Perempuan Celaka, beberapa hal dapat ditarik untuk dicermati sebagai strategi penulis mengobok-obok konsep kesalehan sosial yang ternyata cuma dijadikan selubung bagi kebobrokan yang disembunyikan. Hanya yang terlihat oleh publik sajalah yang dianggap salah, sementara hal-hal tersembunyi tidak perlu disesali meski tidak bisa dibenarkan secara moral.

Semacam Catatan Akhir

Bagaimanapun sebuah karya sastra mengandung begitu banyak potensi pemaknaan dan terbuka pula terhadap berbagai macam cara baca. Felix K. Nesi lewat cerpen Kutukan Perempuan Celaka menyodorkan begitu banyak persoalan sosial yang secara nyata ada dalam masyarakat Timor.

Dari sekian banyak persoalan itu, kesalehan menjadi sesuatu yang cukup problematis, apalagi ketika praktik kesalehan itu hanyalah topeng untuk menutupi kebobrokan yang jauh dari pandangan mata banyak orang. Dengan demikian, persoalan kesalehan bukan lagi menjadi persoalan masyarakat Timor semata, sebab hal demikian terjadi juga dalam masyarakat di belahan dunia lain, dan dipraktikkan juga dalam bidang-bidang kehidupan yang lain.

*Gusty Fahik adalah penulis lepas, penyuka kopi dan buku-buku

Advertisements

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here