Le Ray di Mata BWA (1): Pencemburu Kuat, Mau Menang Sendiri, Kasar dan Suka Naik Tangan

Advertisements

“Salah sedikit, berujung tamparan. Sambil memaki-maki dengan kata-kata yang tidak pantas didengar. Bahkan beberapa kali Le Ray meninju tubuh saya. Sakitnya minta ampun,” kisah BWA seraya berlinang air mata.

Wartawan Jude Lorenzo Taolin berpose bersama korban, BWA, usai mewawancarainya, pekan lalu.

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – BWA (32), korban penculikan, penganiayaan dan pemerkosaan sadis dan biadab yang dilakukan Le Ray, mengaku jika bukan mujizat Tuhan, mungkin ia sudah tewas dianiaya selama hampir 6 jam di tiga tempat berbeda.

Pengakuan ini disampaikan BWA ketika wartawan menjenguknya di kediaman orang tuanya di Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Jumat (8/1/2021) lalu.

Saat ditemui, kondisi BWA sangat lemas. Wajahnya pucat. Ia cuma berbaring saja di tempat tidur. Beberapa bagian tubuhnya bengkak. Beberapa lagi tampak lebam hitam kebiruan, bekas dianiaya Le Ray.

Ia bersedia diwawancarai wartawan, setelah meminta izin kepada ayah dan ibunya. Berikut pengakuan BWA yang direkam wartawan lalu ditulis dalam gaya bertutur.

Banyak episode menyakitkan yang dialami BWA, namun tidak ditulis di sini. Selain karena bisa menimbulkan rasa trauma berkepanjangan baginya. Ini juga untuk menjaga perasaan BWA dan keluarganya, juga untuk menghormati istri Le Ray dan keluarganya. Dan agar tidak mencampuri proses hukum yang sedang berlangsung.

Saya kenal Le Ray tahun 2018 lalu. Le Ray mengaku ke saya kalau dia suka ke saya. Namun saya anggap ia seperti saudara kandung saja. Apalagi saya tahu dia sudah beristri.

Namun dia merayu saya dan mengatakan kalau status perkawinannya belum sah. Sebab belum diberkat di gereja.

Karena didesak dan dirayu terus-menerus, kami dua akhirnya pacaran secara diam-diam. Saat mama tahu hubungan kami, mama marah. Saya diminta mama supaya putus saja.

Mungkin naluri mama benar bahwa Le Ray pria yang kasar, mau menang sendiri dan pencemburu. Apalagi tahu kalau Le Ray sudah beristri. Mama marah besar.

Selama pacaran satu tahun, saya sudah sering dianiaya berulang-ulang kali. Jika kepergok jalan bersama pria lain, meski itu teman dan keluarga sendiri, pasti saya akan dipukul.

Saya mencoba bertahan. Sambil berusaha merubah sifatnya dengan dengan nasehat yang lembut dan tulus. Berdoa kepada Tuhan, kalau bisa lembutkan hatinya. Jika memang jodoh, Tuhan tolong rubah sedikit saja sifat kasarnya itu. Sedikit saja Tuhan, pinta saya dalam setiap doa malam.

Tapi sifat kasar dan pencemburu itu, bukan cuma sifat biasa. Tapi sudah menjadi karakter. Jika sudah menjadi karakternya, maka sifat itu susah dirubah, begitulah nasehat yang saya dapat dari orang lain.

“Salah sedikit, berujung tamparan. Sambil memaki-maki dengan kata-kata yang tidak pantas didengar. Bahkan beberapa kali Le Ray meninju tubuh saya. Sakitnya minta ampun,” kisah BWA seraya berlinang air mata.

Karena kesal dan tidak tahan, saya menghindarinya mulai pertengahan tahun 2019. Perlahan-lahan saya meninggalkannya. Dan saya merasa ini keputusan terbaik. Demi kebaikan istrinya. Dan demi kebaikan masa depan saya.

Hidup saya menjadi lebih tenang dan damai. Tidak ada lagi kata-kata makian yang kasar, tamparan di wajah atau pukulan di sekujur tubuh. (jude/bersambung ke seri berikut)

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements

Advertisements