Lakmas NTT Sebut Ada 5 ‘Jurus Mabuk’ Dari OTT Oknum Jaksa Berinisial KM

Advertisements

“Namun sehari setelah ditangkap, Hemus dilepas dan pulang ke Kupang. Kepada para wartawan, Hemus mengatakan Jaksa KM datang ke rumahnya hanya untuk pinjam uang Rp 50 juta buat modal merayakan Natal dan Tahun Baru. Bahkan sebelumnya juga sudah pinjam Rp 10 juta dan Rp 25 juta. Ini membingungkan masyarakat. Sebenarnya ini kasus pinjam uang atau kasus jaksa memeras pengusaha? Drama apa lagi ini?” ungkap Manbait.
Ilustrasi
KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Direktur Lakmas NTT, Viktor Manbait, SH, menyebutkan ada ‘jurus mabuk’ yang dimainkan oleh Kejagung RI dalam kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) oknum jaksa berinisial KM dan seorang pengusaha berinisial HT alias Hemus, 20 Desember 2021 lalu di Kupang, NTT.
Indikasi ‘jurus mabuk’ itu, kata Manbait, terlihat oleh beberapa fakta-fakta yang ganjil, yang justru membuat publik bingung. Berikutnya, pokok persoalan maupun perkembangan penanganan OTT itu semakin kabur atau sengaja dikaburkan?
Pertama, jaksa KM ditangkap karena ‘perbuatan tercela’. Namun Kasi Penkum dan Humas Kejati NTT, Abdulah Hakim tidak menjelaskan secara jujur dan lengkap, apa yang dimaksud dengan perbuatan tercela? Akhirnya masyarakat jadi bingung.
Kedua, Kasi Penkum dan Humas Kejati NTT, Abdul Hakim, SH kepada media di Kupang menyebutkan bahwa penangkapan Direktur PT Sari Karya Mandiri (SKM) berinisial HT alias Hemus tidak terkait kasus proyek apapun.
“Tapi bukti digital melalui pemberitaan media cetak dan online menyebutkan Jaksa KM pernah memeriksa Direktur PT SKM di Kejari TTU terkait kasus korupsi proyek Peningkatan Jalan Dalam Kota Kefamenanu TA 2016 dengan nilai Rp 10.044.528.000 pada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Timor Tengah Utara,” ungkap Manbait.
Ketiga, Direktur SKM berinisial HT alias Hemus mengaku bahwa ia sendiri yang melapor kepada Satgas 53 Kejagung RI karena oknum jaksa KM sering memerasnya.
“Namun sehari setelah ditangkap, Hemus dilepas dan pulang ke Kupang. Kepada para wartawan, Hemus mengatakan Jaksa KM datang ke rumahnya hanya untuk pinjam uang Rp 50 juta buat modal merayakan Natal dan Tahun Baru. Bahkan sebelumnya juga sudah pinjam Rp 10 juta dan Rp 25 juta. Ini membingungkan masyarakat. Sebenarnya ini kasus pinjam uang atau kasus jaksa memeras pengusaha? Drama apa lagi ini?” ungkap Manbait.
Keempat, setelah pengakuan Hemus yang kontroversial, progres penanganan kasus OTT oknum Jaksa KM bak sebuah misteri. Tidak terpantau lagi oleh publik. Kasi Penkum dan Humas Kejati NTT seakan mendadak ‘sakit gigi’ dan irit bicara soal kasus ini ke para wartawan.
Kelima, orang lain yang kena OTT, yang diperiksa justru orang lain. Buktinya, Kasi Intel Kejari TTU, Kajari TTU, Kadis Perumahan dan PU Kabupaten TTU yang diperiksa secara marathon di Jakarta.
“Apakah penangkapan oknum Jaksa KM dan Hemus itu masih dalam satu bingkai kasus yang besar dalam kasus OTT itu? Ataukah kasus lainnya? Publik belum memperoleh penjelasan yang jujur dan lengkap. Publik jadi bingung,” kritik Manbait. (jude)
Editor: Jude Lorenzo Taolin
Advertisements