KISAH NYATA! Sahabatnya Romo Mangunwijaya Mangkat, Habibie Kirim Pesawat Hercules

Advertisements

Dan tiba-tiba ada banyak Paspampres. Dan datanglah almarhum Bapak BJ.Habibie dan saya berdiri di sampingnya bersama Kardinal Darmaatmaja. Di samping peti jenasah Romo Mangun, Bapak Habibie berbisik kepada saya, “Apakah boleh saya berdoa dengan cara saya?Almarhum adalah sahabat saya”. Saya jawab “Silahkan Bapak”.
Lalu beliau mengangkat tangan dan khusyuk berdoa.

Keluarga BJ Habibie bergambar bersama

JAKARTA, HALAMANSEMBILAN.COM – Ada banyak saksi hidup yang sangat beruntung ‘ditakdirkan’ untuk menyaksikan kebaikan dan hati emas yang dimiliki BJ Habibie. Salah satu sifatnya yang sampai kini dikenang, adalah sangat setia kepada sahabatnya. Meski beda agama dan keyakinan.

Hal ini diceritakan langsung oleh Mas Wiyono, yang sangat beruntung menyaksikan kebaikan dan hati emas BJ Habibie. Peristiwa itu terjadi beberapa tahun lalu, ketika Romo Mangunwijaya Pr meninggal dunia di Jakarta lalu dibawa ke Yogyakarta.

Berikut kisaha Mas Wiyono diangkat kembali dalam gaya bertutur.

Kenanganku kembali ke beberapa tahun berlalu saat kami ikut mempersiapkan pemakaman almarhum Romo Mangunwijaya Pr sejak di Rumah Duka Carolus di Jakarta, sebelum dibawa ke Jogya.

Saat jenasah almarhum kami semayamkan di Gereja Katedral, saya selalu di dekat peti jenasah dan masih ingat ada pelayat antara lain almarhum Gus Dur.

Dan tiba-tiba ada banyak Paspampres dan datanglah almarhum Bapak BJ.Habibie dan saya berdiri di sampingnya bersama Kardinal Darmaatmaja.

Di samping peti jenasah Romo Mangun, Bapak Habibie berbisik kepada saya, “Apakah boleh saya berdoa dengan cara saya, almarhum adalah sahabat saya”.

Saya jawab “Silahkan Bapak”.
Lalu beliau mengangkat tangan dan khusyuk berdoa.

Lalu beliau pamit pada Kardinal dan diantar ke gerbang Katedral.
Sebelum masuk mobil, ajudannya mendekati saya “Bapak bertanya, jenasah akan dibawa ke Jogya naik apa?”

Saya jawab “Pesawat reguler Pak”.
Lalu kita misa dadakan. Romo Mudjisutrisno misa konselebrasi dan minta saya jadi dirigen.

Esok harinya ada misa requiem dan saya dicari Romo Padmo SJ.
Saya diminta menghantar jenasah Romo Mangun naik Hercules ke Jogya…hah?
Ternyata Bapak Habibie mengirim pesawat Hercules untuk sahabatnya. Luar biasa!

Saya ingat dalam pesawat Hercules saya ajak istri saya ketemu di Halim lalu saya ajak 2 suster Carolus ikut. Dalam pesawat itu jenasah kami hantar, saya dan istri bersama Romo Agus Pr dan Romo Sumantoro Pr. Ada Tony Widiastono (wartawan Kompas), 2 suster plus 1 wartawan Majalah Hidup dan beberapa keluarga Romo Mangun.

Singkat cerita waktu mau landing di Jogya dan saya duduk bersama crew di cockpit. Terlihat di apron, ada penyambutan militer dan setelah mendarat sebelum pintu belakang dibuka kita “rapat singkat”.
Romo Sumantoro yang bertugas menyerahkan jenazah.
Romo Agus yang bertugas bawa map isi surat kematian.
Istriku bawa foto almarhum dan Tony bawa bunga salib.
Saya di belakang Romo Mantoro jadi “pembisik” beliau waktu menyerahkan jenasah.

Setelah disemayamkan di Gereja Kidul Loji, saya, istri dan 2 suster kembali ke Hercules dan terbang kembali ke Jakarta.

Suatu kenangan penuh syukur bagaimana persahabatan tanpa memandang derajat, agama dan posisi telah ditunjukkan almarhum Habibie kepada sahabatnya, sesama mahasiswa di Jerman.

Terbayang saat aku menulis ini bisikan Pak Habibie ingin berdoa dan kedua tangannya menadah ke atas dan berdoa, di sampingnya Bapak Kardinal mendampingi dalam doa.

Selamat jalan Bapak Habibie menuju keabadian berjumpa dengan istri terkasih.
Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya.
Dulu saya mimpi kapan bisa naik Hercules.
Ternyata saya merasakannya.
Tuhan selalu mengatur indah pada waktunya.
Terima kasih Bapak Habibie. (ade/wan ping/FB)

Editor: Julianus Akoit

Advertisements

Advertisements