KBRI Dili Gelar Seminar Virtual Tentang Potensi Tenun Ikat di Perbatasan RI – RDTL

Advertisements

“Tujuan KBRI Dili menyelenggarakan seminar virtual untuk memfasilitasi berbagai pemangku kepentingan dua negara di Indonesia dan Timor Leste, yang ingin memperkuat sektor usaha informal berupa kerajinan tenun ikat,” tulis KBRI Dili dalam siaran persnya.

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Timor-Leste (KBRI Dili) berhasil menyelenggarakan seminar secara virtual bertemakan “Potensi Tenun Ikat Memperkuat Ekonomi Masyarakat Perbatasan RI – RDTL. Tenun Ikat NTT dan Tais Oecusse Go Global”.

Seminar virtual yang berlangsung pada Rabu (30/09/ 2020) pukul 10.00 – 12.00 Waktu Timor-Leste/WTL (pukul 08.00 WIB) menghadirkan lima nara sumber dari Indonesia dan Timor Leste dan diikuti oleh sekitar 150 peserta dari kedua negara.

Berdasarkan Press Release KBRI Dili yang diterima wartawan di Kefamenanu, narasumber yang memberikan sambutan dan paparan diantaranya Duta Besar RI untuk Timor Leste, Sahat Sitorus. Wakil Menteri Pariwisata dan Budaya Timor Leste, Inacia Teixeira. Sekretaris Negara Bidang Koperasi Timor Leste, Elizario Fereira. Presiden Provinsi Daerah Administrasi Khusus Oecusse Ambeno Timor Leste Arsenio Bano dan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Nusa Tenggara Timur (Dekranasda NTT) Julie Laiskodat.

“Tujuan KBRI Dili menyelenggarakan seminar virtual untuk memfasilitasi berbagai pemangku kepentingan dua negara di Indonesia dan Timor Leste, yang ingin memperkuat sektor usaha informal berupa kerajinan tenun ikat,” tulis KBRI Dili dalam siaran persnya.

Di perbatasan Indonesia – Timor Leste, terdapat empat kabupaten di NTT yang berbatasan darat langsung dengan tiga provinsi di Timor Leste, yaitu Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Utara berbatasan dengan Provinsi Oecusse, Kabupaten Belu berbatasan dengan Provinsi Bobonaro dan Kabupaten Malaka berbatasan dengan Provinsi Covalima.

Masyarakat di tapal batas kedua negara ini memiliki keseragaman budaya yaitu membuat kain tenun ikat atau di Timor Leste dikenal dengan sebutan beti (tenun ikat untuk laki-laki) dan tais (tenun ikat untuk perempuan). Pemerintah kedua negara memiliki kesamaan spirit untuk memperkuat taraf hidup ekonomi penenun, kaum perempuan di perbatasan.

Dalam pembukaan seminar, Duta Besar Sahat Sitorus menyebutkan empat pesan Presiden Joko Widodo yang akhir – akhir ini dikenal viral mengenakan pakaian tenunan khas NTT.

“Ada empat pesan yang ingin disampaikan Presiden Joko Widodo yang mengenakan pakaian tenun khas NTT dari Kabupaten Sabu Raijua dan Kabupaten Timor Tengah Selatan pada dua acara nasional kenegaraan yaitu Pidato Tahunan MPR 2020 dan Upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-75 di Istana Negara”, kata Sahat Sitorus.

Lanjutnya, “Empat pesan tersebut adalah,
Pertama, budaya daerah perlu selalu diapresiasi setinggi-tingginya di tengah arus modernisasi dan globalisasi.

Kedua, tenun ikat atau tais adalah karya seni tinggi yang melambangkan nilai sosial budaya masyarakat yang harus dilestarikan secara berkelanjutan.

Ketiga, kaum perempuan penenun telah bertransformasi menjadi penggerak perekonomian bangsa.

Keempat Pulau Timor terdiri dari dua negara yaitu Indonesia dan Timor-Leste, memiliki keseragaman budaya membuat tenun atau tais.

Yang artinya, kedua negara terus menenun kerja sama di berbagai tingkatan dan lapisan untuk kesejahteraan dan kemakmuran bersama,” sambung Sahat Sitorus.

Sementara Wakil Menteri Pariwisata dan Budaya Timor Leste, Inacia Teixeira menyebutkan tais Timor Leste memiliki warna dasar hitam putih dengan motif tradisional adalah buaya. Inacia berharap tais Timor Leste dapat go global seperti tais atau tenun dari NTT yang sudah masuk ke pasar internasional di Eropa dan Amerika.

“Kami berharap kedua negara dapat membuat nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) di bidang pariwisata, kebudayaan dan usaha informal untuk memperkuat sektor-sektor informal kerajinan masyarakat kedua negara”, harap Inacia Teixeira.

Ia juga menyampaikan beberapa kendala yang dialami kelompok penenun di Oecusse Tinor Leste.

“Kelompok penenun di Oecusse menghadapi kendala kelangkaan benang”, ungkap Inacia Teixeira.

Terkait dengan kendala yang dihadapi kelompok penenun itu, nara sumber Presiden Daerah Administrasi Khusus Oecusse, Timor Leste (Região Administrativa Especial de Oé-Cusse Ambeno), Arsenio Bano juga berharap KBRI dapat memfasilitasi impor Timor Leste untuk bahan tenunan seperti benang dari Indonesia.

” Kami sangat berharap KBRI dapat memfasilitasi impor Timor Leste untuk benang – benang tenun dari Indonesia. Harapan kami ini untuk bisa menjawab apa yang menjadi kebutuhan penenun di Oecusse, Timor Leste”, pinta Arsenio Bano.

Di Oecusse Timor Leste, sebagai Presiden Daerah Administrasi Khusus, (Região Administrativa Especial de Oé-Cusse Ambeno), Arsenio Bano, mewajibkan seluruh PNS mengenakan pakaian daerah (tais) dua kali dalam seminggu, namun produksi tais terbatas karena pasokan benang tidak tersedia. Arsenio Bano juga berharap dapat belajar dari strategi dan program Pemerintah NTT dalam mengembangkan tais ke taraf nasional dan global.

Menjawab harapan dua nara sumber asal Oecusse, Timor Leste. Ketua Dekranasda NTT Julie Laiskodat mengatakan, Timor Leste perlu membuat ajang – ajang bergengsi di tingkat nasional dan regional untuk membudayakan tais kepada seluruh lapisan masyarakat.

“Saya butuh 15 tahun untuk membuat masyarakat NTT mengenal tenunannya sendiri yang berasal dari 22 kabupaten dengan total 832 motif. Daya jual kita di tingkat internasional adalah cerita atau literasi di balik makna setiap motif tenun. Timor Leste perlu membuat cerita di balik setiap motif tenun yang dimiliki masyarakatnya,” saran Julie Laiskodat.

Hal lain yang perlu dilakukan Pemerintah Timor Leste menurut Julie Laiskodat, adalah mengadakan anggaran nasional dan regional di bidang pelestarian dan pembinaan kelompok penenun.
Pemerintah perlu turun langsung ke kelompok penenun, menyediakan material tenun karena mama-mama penenun perlu modal untuk produksi,” lanjut Julie Laiskodat yang sudah membawa tenun NTT ke empat ajang fashion bergengsi di dunia yaitu New York Fashion Week, Paris Fashion Week, London Fashion Week, dan Milan Fashion Week.

Dalam seminar virtual itu, dibahas juga mengenai urgensi melakukan hak paten terhadap setiap motif tenun yang dihasilkan masyarakat perbatasan, tidak melakukan printing tenun karena akan mematikan usaha mama-mama pengrajin tenun, membuat katalog motif-motif tenun masyarakat perbatasan agar diketahui perbedaan motif tenun di daratan NTT dan di Timor-Leste. Pembahasan lainnya, menyangkut pelatihan keterampilan menenun dan pelatihan entrepreneurship bagi penenun, dan potensi kerja sama budidaya kapas untuk tenun karena wilayah di perbatasan Indonesia – Timor Leste masih memiliki lahan yang sangat luas untuk budidaya kapas.

Turut mengikuti seminar virtual tersebut, para penyusun kebijakan di tingkat bilateral dua negara, di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten, antara lain Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pariwisata, Kementerian Koperasi, dan Kementerian Pertanian dari kedua negara, seluruh bupati dan perangkat daerah di kabupaten dan provinsi di daratan NTT yaitu dari Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Belu, dan Malaka.

Selain kehadiran para pembuat kebijakan kedua negara, hadir juga kelompok Kamar Dagang dan Industri kedua negara, Trade Invest Timor Leste, kelompok pengrajin tenun dari NTT dan Timor-Leste, para pelaku usaha bahan-bahan baku untuk tenun dari Jepara, Klaten dan Sidoarjo, lembaga keuangan seperti perbankan dan koperasi, Yayasan dan LSM penyedia training.

Diketahui bersama, Oecusse merupakan wilayah enclave (kantong) di ujung Timor-Leste bagian barat dengan sistem administrasi wilayah otonom.
Dan merupakan satu-satunya distrik dari 13 distrik di Timor-Leste yang diberikan mandat oleh konstitusi Timor-Leste untuk mengatur wilayahnya sendiri sejak tahun 2015, yang berbatasan darat langsung dengan Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Kupang.

Jumlah penduduk Oecusse per 2019 mencapai 66.000 orang dengan 70% penduduk berusia produktif yang hidupnya tersebar di wilayah pesisir pantai di Pante Macassar sampai ke Citrana, dan wilayah pegunungan di Oesilo dan Passabe, dengan mata pencaharian utama petani, peternak dan nelayan. (jude)

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements

Advertisements