Kades Ini Ajak Iparnya Korupsi Dana Desa Rp 1,8 Miliar, Pegiat Anti Korupsi Bergegas Lapor Jaksa

Advertisements

“Jadi ceritanya mantan Kades Fafinesu B bekerjasama dengan ipar kandungnya, yang menjabat sebagai Sekretaris Desa untuk menggarong dana desa. Jika ditotalkan sekitar Rp 1,8 miliar,” jelas Ketua Garda Kabupaten TTU, Paulus Bau Modok, SE, kepada wartawan di Kefamenanu, Kamis (3/6/2021).

Tiga orang pegiat anti korupsi yaitu Paulus Bau Modok SE (Ketua Garda) di sebelah kiri, Viktor Manbait, SH (Direktur Lakmas NTT) dan paling kanan, Willem Oki (Ketua Fraksi Kabupaten TTU) saat datang melaporkan Kades Fafinesu B ke Kejaksaan Negeri TTU

KEFAMENANU, HALAMANSEMBILAN.COM – Pegiat anti korupsi mengadukan mantan Kades Fafinesu B, Yohanes Seko Haki, ke aparat penyidik Kejaksaan Negari Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Turut dilaporkan ipar sang mantan Kades Fafinesu B bernama Eduardus Leo, yang ditunjuk dan diangkat sang kades sebagai Sekretaris Desa.

“Jadi ceritanya mantan Kades Fafinesu B bekerjasama dengan ipar kandungnya, yang menjabat sebagai Sekretaris Desa untuk menggarong dana desa. Jika ditotalkan sekitar Rp 1,8 miliar,” jelas Ketua Garda Kabupaten TTU, Paulus Bau Modok, SE, kepada wartawan di Kefamenanu, Kamis (3/6/2021).

Turut mendampingi Modok, yaitu Direktur Lakmas NTT, Viktor Manbait, SH dan Ketua Fraksi Kabupaten TTU, Willem Oki. Mereka melaporkan secara tertulis dugaan korupsi mantan Kades Fafinesu B.

Berikut 12 dosa mantan Kades Fafinesu B, saat menggarong dana desa dengan total sebesar Rp 1,8 miliar.

Pertama, korupsi pembangunan sumur senilai Rp 310.000.000,00. Proyek pembangunan sumur tidak selesai dan tidak memberi manfaat untuk masyarakat.

Kedua, pembangunan rumah untuk masyarakat sebanyak 8 unit x @Rp 40.000.000 total Rp 320.000.000 tidak diselesaikan.

Ketiga, pengelolaan pembiayaan Posyandu Rp 16.000.000 ditilep oleh mantan kades

Keempat, dana Pembinaan dan Pengelolaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebesar Rp 25.000.000, tidak jelas bukti pertanggungjawabannya.

Kelima, pembangunan WC sehat 13 unit. Diduga terjadi Mark up harga sehingga nilainya menjadi sangat fantastis Rp 152.510.000.

Keenam, pembangunan ruas jalan baru 449 meter senilai Rp 70.933.117,00 mubasir dan tidak memberi manfaat kepada masyarakat.

Ketujuh, pembangunan jalan baru 411 meter senilai Rp 172.329.324,00 juga mubasir dan tidak memberi manfaat kepada masyarakat.

Kedelapan, pembangunan saluran drainase asal-asalan untuk menghabiskan dana desa Rp 14.000.000.

Kesembilan, pembangunan embung 2 unit Rp 358.662.350. Embungnya rusak sejak lama. Tidak ada airnya dan berada di tengah hutan.

Kesepuluh, pembangunan tugu batas desa Rp 10.000.000. Tidak jelas pertanggungjawabannya.

Kesebelas, pelatihan paralegal Rp 10.000.000 tidak jelas pertanggungjawabannya.

Keduabelas, pelatihan komputer bagi aparatur desa Rp 18.672.000, tidak jelas bukti pertanggungjawabannya.

Data Forum Anti Korupsi TTU, total dugaan korupsi tahun 2017 senilai Rp 848.906.797 dan pada tahun 2020 senilai Rp 1.035.405.520.

“Total dugaan korupsi selama kades Yohanes Seko Haki menjadi kepala desa senilai Rp 1.883.312.311,” beber Modok.

Dan selama menjadi kepala desa, lanjut Modok, tidak ada laporan pertanggungjawaban penggunaan dana desa selama 6 tahun. Dan diakhir masa jabatan tidak ada pertanggungjawaban penggunaan dana desa.

Mantan Kades Fafinesu B, Yohanes Seko Haki dan iparnya, Eduardus Leo, kini jadi orang kaya baru (OKB) di Desa Fafinesu B.

“Laporan pengaduan secara tertulis sudah dimasukkan ke jaksa sejak 18 Januari 2021. Kami berharap supaya segara diperiksa oleh jaksa,” harap Modok. (jude)

Editor: Jude Lorenzo Taolin

Advertisements

Advertisements

Advertisements