Kabar Kepada Sahabat

Advertisements

 

OLEH: Taty Gantir

SOBAT, tentu engkau bertanya-tanya mengapa sudah sedemikian lama, saya belum juga mengabarimu tentang hari- hariku. Maaf, kalau membuatmu agak bertanya-tanya atau mungkin mencemaskanku. Don’t worry, friend. Aku di sini baik- baik saja, saya hanya tidak punya banyak waktu untuk mengabarimu. Sekarang hari-hariku berlalu terasa sangat cepat. Dunia berseri-seri.malam bagai siang secerah harapanku. Sobat, kalimat yang terakhir ini dari sebuah lagu. Saya pinjam kata- katanya untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Mudah- mudahan Sobat bisa langsung merasakan apa yang kualami.

Ehem. Ya, kira-kira begitulah, Sobat. Jepang barusan porak- poranda karena badai tsunami akibat gempa dengan kekuatan 8,9 skala Ritcher, saya juga mengalami hal yang sama. Hanya saja bedanya Sobat, saya dihantam badai cinta karena gempa asmara dan kalau Jepang luluh-lantak dalam kehancuran, saya porak- poranda dalam kebahagiaan.

Sobat, pasti kaget setengah mati mendengar kabar saya yang terakhir ini. Saya juga maklum karena selama ini saya memang dikenal sebagai bujang lapuk. Bahkan, Miranda teman sekampus kita dulu yang menurut Sobat, cantiknya nyaris menyamai Asmirandah pemain sinetron itu, tak mampu membuatku jatuh cinta. Sobat tentu tahu juga kalau Miranda itu salah seorang pengagumku. Waktu itu Sobat sempat terheran-heran sampai bertanya apa saya mau masuk biara. Saya tertawa setengah mati waktu itu. Sobat, saya tidak pernah bermimpi masuk dalam barisan kaum berjubah.

Hmm, pasti Sobat sudah tidak sabar lagi mau mendengar kelanjutan kisahku. Sobat masih ingat khan, Om Pe’u yang dulu saya pernah cerita yang punya puluhan sapi dilepas bebas di padang penggembalaan. O iya, saya juga sudah cerita khan, tentang perkenalan kami berawal dari kisah yang sedikit traumatik. Waktu itu saya pergi vaksinasi ternak di sebuah desa yang terletak di Pulau Timor ini. Biasalah, ada yang pro dan ada yang kontra dengan program yang satu ini. Hanya kurang sosialisasi saja, pikir saya. Keesokan harinya ketika saya turun untuk penyisiran, sekelompok orang dengan muka sangar mencegat motor winku.

BACA KRITIK CERPENNYAMenulis Cerpen, Bukanlah Berceritera

Saya mencium gelagat yang kurang baik. Ternyata betul. Mereka marah karena dua ekor sapi milik seorang dari antara mereka mati mendadak pada pagi hari setelah divaksin sehari sebelumnya. Menurut mereka, sayalah satu-satunya orang yang mesti betanggung jawab. Oke kalau itu masalahnya, khan bisa bicara baik-baik. Tapi mereka sudah terlanjur emosi. Sia-sia saja saya menjelaskan duduk persoalannya. Situasi sudah tak terkendali. Nyaris adu jotos di antara saya dan pemimpin geng mereka.

Untung di saat kritis seperti itu, muncul dewa penyelemat dalam rupa seorang kepala desa yang baru saja pulang dari kantor camat mengurus beras raskin. Cepat-cepat ia turun dari ojek dan melerai kekisruhan yang terjadi. Singkat cerita kami dibawa ke rumahnya. Sang kepala desa berhasil mendamaikan saya dengan mereka. Kemudian saya menginvestigasi kematian dua ekor sapi mereka. Hasil diagnosa saya, sapi-sapi itu mati karena gigitan ular berbisa dan kira-kira dua bulan setelah itu terjadi wabah penyakit ngorok pada sapi. Sapi-sapi yang saya vaksin semuanya selamat, sapi-sapi di desa tetangga yang tidak divaskin banyak yang mati sia-sia.

Saya melihat semburat merah di raut wajah Letisia mendengar jawabanku. Ada getar aneh di hatiku saat menatap wajahnya. Letisia nampak salah tingkah ketika kami sempat beradu pandang.

Sejak saat itulah Sobat, warga desa menaruh kepercayaan besar kepada saya. Desa mereka akhirnya menjadi desa binaan saya. Otomatis banyak waktu yang saya habiskan di desa yang terkenal dengan ternaknya itu. Saya menikmati pekerjaan ini, Sobat. Berada di desa dengan alamnya yang terbuka membuatku selalu bersemangat. Tapi ada juga efek sampingnya.

Kejadian kliselah. Pesonaku kembali berkibar tanpa saya sadari. Sampai- sampai Mama Ina, Isterinya Pak Sekdes diam-diam berharap agar saya mau dijodohkan dengan anaknya. Berita itu saya tahu dari Enos, tukang sapu di kantor desa. Bahkan masih menurut Enos bukan hanya itu. Agnes anaknya ketua kampung dan Ririn anaknya Baba Ho yang punya kios besar di ujung jalan masuk desa juga menaruh rasa pada saya.

Kadang-kadang saya bertanya-tanya dalam hati apa betul apa yang dikatakan Enos, jangan sampai hanya joak (bohong) belaka. Mungkin itu pengaruh kerja gudang garam yang sering kali saya kasih kalau saya turun ke desa. Ya, itu hanya sekedar dopping biar semangat. Bagaimanapun Enos punya peranan besar sebagai penunjuk jalan kalau saya turun door to door. Tapi kalau dipikir- pikir tidak berlebihan juga, Sobat. Gadis mana yang tidak kesemsem sama saya. Sobat, lebih tahu to, tampang saya bagaimana. Ha…ha ….

Oiya Sobat, setelah kejadian sapi mati itu, saya jadi tahu kalau kepala desa itu bernama Om Peu. Begitulah warga desa menyapanya. Saya juga memanggilnya demikian. Tak terasa sudah hampir dua tahun saya mengenal Om Peu. Sering kali saya bertandang ke rumahnya setiap kali saya bertugas di desa. Kami sudah seperti bapak dan anak.

Om Peu seperti corong buat saya. Kalau Om Peu sudah di depan, program apa saja pasti berjalan baik. Mulai dari soal pengandangan ternak, sanitasi, kartu ternak, penertiban pemotongan, sampai vaksinasi dan inseminasi buatan pasti beres. Tapi itu sudah Sobat, pulang pokok juga. Kalau kami sudah duduk bersila di atas tikar di bale-bale belakang rumahnya, saya bisa duduk sampai terkantuk-kantuk mendengarkan ceritanya yang tak ada putus-putusnya. Bahkan kopi satu cerek besar pun tak banyak menolong saya.

Sobat mau tahu ceritanya tentang apa saja? Ya, tentang pengalamannya waktu muda dulu menggembalakan ternak kakeknya yang berjumlah ratusan ekor, tentang ternak kepunyaannya dan tentang cita-citanya. Lain waktu ia bercerita tentang perkembangan kampung halaman mereka, tentang pembagian beras raskin yang kerap kali menuai persoalan, tentang suksesi kades yang genderangnya belum dibunyikan tetapi ada sebagian kecil warga diam-diam sudah mulai bergerilya, tentang…ya pokoknya macam-macamlah. Buat Om Peu, tugas saya menjadi rangkap. Menjadi dokter hewan pribadinya dan jadi pendengar setia.

Ya Sobat, saya mencoba mengerti, dalam kesendiriannya setelah hampir lima tahun ditinggal mati isterinya, Om Peu butuh teman untuk ngobrol. Banyak hal diceritakannya padaku. Tapi Sobat, satu hal yang tak pernah diceritakannya bahwa ternyata dia mempunyai seorang anak gadis! Ya,mungkin karena naluri setiap bapak yang senantiasi melindungi anak gadis mereka. Pemuda dengan tampang orang baik-baik seperti saya ini pun layak dicurigai. Sobat ingatkan satu ungkapan klasik, kawan tetap kawan, curiga jalan terus. Nah, Om Peu ini salah satu pengikut setia dari paham itu. Ha…ha…

Sobat semuanya berawal di bulan lalu. Waktu itu, Pulau Timor berdandan sangat cantik. Di mana-mana rumput menghijau. Ternak di padang tampak gemuk. Pakan dan air minum melimpah. Sang surya tidak garang seperti di musim kemarau. Seperti biasa, tengah hari sehabis monitoring ternak saya duduk di bale-bale yang terletak di sebelah belakang rumah. Saya melihat ayam-ayam piaraan Om Peu yang lagi nikmat mematuk jagung yang baru dipanen. Lama saya menikmati pemandangan itu. Saya agak heran, biasanya jam seperti itu Agus sudah wara-wiri di depan saya, sibuk menjerang air untuk buat kopi dan rebus pisang. Biasanya tidak lama lagi Om Peu pulang dari kantor desa. Agus itu keponakannya Om Peu yang sudah lama tinggal bersamanya. Herannya lagi, sudah sekian lama saya di sana Agus tidak menampakkan batang hidungnya.

Waktu itu sudah hampir jam empat sore. Saya sudah tidak sabaran. Akhir pekan seperti ini saya ingin cepat kembali ke kota. Apalagi langit mulai mendung. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Saya baru saja mengenakan helm, ketika sebuah suara merdu muncul dari pintu dapur.

“Kaka, minum dulu.” Saya kaget sekali. Sudah dua tahun saya keluar masuk di rumah ini, baru saat itu saya mendengar suara halus seperti itu. Saya berdiri mematung melihat makluk manis seperti itu. Jantungku berdetak cepat, seperti baru kena strom halus. Tapi ah, Jangan-jangan makluk jadi-jadian, batinku dalam hati. “Eh iya, saya Letisia, anaknya Bapak Peu. Kaka, Joe, khan. Bapak sering cerita tentang Kaka. Tadi pagi bapak pesan, hari ini agak lat pulang dari kantor desa, celotehnya riang sambil meletakkan minuman dan kripik pisang di atas bale-bale.

“Oh ya, silakan minum”, ajaknya ramah. Saya menyesap kopi dengan hati-hati. Masih tidak percaya, bisa-bisanya di tempat itu ada gadis cantik seperti jelmaan bidadari. Anaknya Om Pe’u lagi. Bukannya kenapa-kenapa, tampang Om Pe’u memang bukan jelek-jelek amat, tapi untuk memiliki anak secantik itu agak mengherankan juga. Namun akal sehatku kembali bekerja normal. Tentu kecantikan Letisia itu warisan dari mamanya.

Seolah-olah bisa membaca pikiranku, Letisia berujar,” Saya anak satu-satunya Bapak Peu. Tidak lama setelah Mama meninggal, saya melanjutk studi di Makasar. Di sana saya ambil program studi keperawatan. Kali ini saya datang berlibur. Sekalian jemput Bapak untuk ikut acara wisuda saya. Kasihan Bapak, beliau sudah bekerja keras memelihara ternak untuk membiayai sekolah saya. Oya, hem… bapak bilang kalau Kaka Joe tidak sibuk, bulan depan Kaka bisa ikut bersama Bapak menghadiri acara itu.

Sesaat saya masih ragu dengan pendengaran saya. Wisuda? Saya diundang? Bulan depan? Semua hal itu berputar-putar di otak saya. Saya butuh waktu agak lama untuk mencerna semua itu. Bukankah itu artinya saya dianggap orang spesial? Ssst Joe jangan geer duluan, batinku waktu itu. “Iya, itupun kalau Kaka Joe tidak sibuk,” sambung Letisia dengan malu-malu. “Sibuk? Jawabannya pasti tidak. Siapa yang bisa menolak undangan dari gadis secantik kamu,” jawabku otomatis. Saya melihat semburat merah di raut wajah Letisia mendengar jawabanku. Ada getar aneh di hatiku saat menatap wajahnya. Letisia nampak salah tingkah ketika kami sempat beradu pandang.

Begitulah kisahnya, Sobat. Sore itu alam semesta rupanya mendukung saya. Langit tidak jadi menumpahkan airnya ke bumi jadi kami punya banyak waktu untuk mengobrol. Rasa-rasanya Om Peu tidak berkeberatan kalau saya berteman dekat dengan anak gadisnya. Sobat, untuk mendapatkan Letisia, saya bekerja lebih keras membantu Om Peu mengawasi ternak-ternaknya. Bahkan menjalani hidup sama seperti Yakub yang demi Rahel bekerja siang malam sebagai gembala ternaknya Laban pun saya mau. *

Kupang: 02 April 2011
Happy Birthday to My Beloved Son:
Petrus Jonathan Neonbasu.

CATATAN REDAKSIKami menerima kiriman Cerpen dari pembaca. Maksimal 1.500 kata. Kirim karya Anda ke email: redaksihalamansembilan@gmail.com. Sertakan biodata singkat dan Nomor Hape yang dapat dihubungi.

Advertisements

 

Advertisements

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here